semut


Selagi aku menunggu seseorang, aku memperhatikan semut hitam yang berjalan.

Dia berjalan sendirian menaiki pojok tembok putih yang menjulang tinggi ke atas. Tanpa siapapun disampingnya, di atasnya, maupun dibawahnya. Dengan hamparan warna putih yang bisa dibilang dari sudut pandang seekor semut adalah jarak yang tanpa batas. Apa dia tidak punya teman sedikit pun? Apa dia merasa takut? Apa dia merasa cemas dengan manusia-manusia yang sengaja akan membunuhnya?

Aku mengikuti alur perjalanan semut tersebut. Naik.. Naik.. dan terus naik dengan bermodalkan sensor pembauannya untuk mencapai tujuan.

Dia hampir sampai (sepertinya).

Namun tiba-tiba

“PLAK!”

Aku melihat semut itu jatuh tanpa pengaman. Jatuh dengan sukses nya. Mengecil tanpa bentuk yang sebenarnya. Tidak hidup. Tidak pula terseok-seok hanya sekedar untuk balik ke tembok itu.

Seseorang yang memukulnya tertawa dengan senyum yang sumringah.

Lalu mengajak ku pergi. Menarikku tanpa sepatah kata pun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s