Rasa Itu..


Sebuah cerita tentang seseorang. Ia memiliki seseorang yang ia sayangi. Ia menganggapnya sebagai kakak. Pertemanan mereka baru satu setengah tahun dijalani. Ia selalu ada untuknya. Pada saat orang itu kesal, sedih, bimbang, dan senang. Ia suka dengan membelikan orang itu sesuatu. Entah itu berbentuk makanan maupun barang-barang kecil yang ia anggap disukai oleh orang itu. Walaupun ia tahu bahwa orang itu jarang sekali memperhatikan hal-hal ini, sesuatu yang dianggap ‘biasa’.

Apapun orang itu katakan selalu ia lakukan sebaik mungkin. Apapun. Tanpa imbalan. Asal orang itu senang. Itu saja, pikirnya.

Namun suatu hari, orang itu membentaknya. Ia tak mengira orang itu dapat melakukannya. Ia sedih. Sangat terpukul. Emosinya mulai tidak terkontrol. Air matanya keluar begitu saja tanpa permisi. Ia memukul tembok toilet, beberapa kali hingga ia merasa kesakitan. Lalu ia berhenti, terisak-isak. Lalu ia mencoba berpikir ia mungkin yang salah. Ia pergi menuju sebuah ruang, ia tidak menyapa orang itu, lalu pergi. Esoknya, orang itu tidak mengucapkan kata maaf sedikit pun dan ia pun berusaha menganggap kejadian kemarin tidak perlu dibahas. Lalu mereka kembali berteman seperti biasanya.

Tak beberapa lama kemudian, ia merasa orang itu sedang dekat dengan seseorang. Ia belum siap menerimanya. Pikiran-pikiran yang semestinya belum tentu benar. Aliran darahnya naik. Ia tak sanggup melihat mereka. Tertawa-tawa dan saling menimpali. Pandangan mata orang itu berbeda. Pandangan yang lain dari biasanya. Pandangan yang ia belum pernah liat sebelumnya.  Ia merasa entah yang disebut cemburu, sedih, sakit hati atau rasa senang dan gembira melihatnya. Keadaan yang tercampur aduk. Ia memutuskan untuk pergi. Menaiki motornya dan menambah kecepatannya secepat mungkin.

Semenjak hal itu, ia memutuskan untuk tidak terlalu dekat lagi dengan orang itu. Ia ada kalau benar-benar ia butuhkan. Tidak lagi mengharapkan orang itu datang disaat memang tidak perlu datang. Jarang membelikan makanan manis untuknya. Sikapnya kembali dingin. Acuh dengan keadaan ia dan orang itu. ‘go on your way and i’ll go mine’. Ia tidak lagi memiliki rasa kepekaan yang ia berikan kepada orang itu.

Tiba-tiba ada rasa rindu yang muncul. Rasa rindu ingin seperti dulu lagi. Rasa dimana ia mendapatkan kepercayaan darinya, rasa dimana ia selalu membelikan sesuatu kepadanya, rasa ada dia ada aku, rasa senang, rasa kasih sayang kakak kepada adiknya.

Konteks ‘kakak’ sudah tidak lagi dipakainya. Orang itu hanya teman. Namun taraf sayang dan perhatiannya tidak akan berubah. Hanya di repress olehnya supaya ia dapat mengontrolnya agar tidak terulang seperti dulu lagi.

Rasa rindu itu selalu datang.

Rasa yang muncul karena konflik yang dibuatnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s