kepada siapa


kopiku terus mengepulkan asap, membuat hangat tenggorakannku dipagi hari walaupun udara yang setia membuatku sesak akhir-akhir ini. Tidak biasanya aku minum kopi secara intens semenjak sebulan yang lalu. Dulu aku jarang minum kopi dikarenakan aku berasumsi kopi membuat setiap uratku menegang. lebih banyak marahnya dibadingkan menyunggingkan bibirku. Tapi kali ini aku mengatakan tidak apa-apa. Karena aku dalam keadaan tertekan. Bukan karena lingkungan tempat tinggalku, melainkan karena lingkungan tempatku menuntut ilmu.

pertamanya aku menganggap hal ini sangat sepele. aku berusaha riang, tersenyum dan tidak menggubris apa yang aku rasakan. Tapi karena sesuatu dan lain hal aku mendengar seseorang berceletuk (walaupun dia tidak memanggil namaku) tentang “eksis”. Aku tidak tahu apa itu benar atau tidak dia membicarakanku. sejak itu aku merasa — vulnerable. Itu kah yang orang liat tentang ku selama setengah semester ini? kata seorang temanku di tempat tinggalku, aku tidak boleh menyerah dikarenakan gunjingan orang. buktikan bahwa aku bisa! (terimakasih mba!🙂 )

Entah kenapa aku juga menganggap tekanan ini karena buah dari penyesalanku. Aku merasa menyesal tidak berorganisasi di banyak tempat. tidak terlalu bisa berbahasa inggris. tidak pula terlalu bagus nilai kumulatif ku, maksudku cukuplah untuk kriteria penerimaan calon pekerja disebuah perusahaan. Aku melihat banyak temanku yang lebih dulu berkelana dinegeri orang. aku kalah ditiap beasiswa yang aku inginkan. aku merasa sudah semampuku. tapi ternyata itu belum. dan pada saat aku ingin mencoba lagi beasiswa yang lain ternyata aku salah menilai. beasiswa itu untuk adik angkatan, padahal aku sudah mempersiapkannya seminggu yang lalu. Ya aku sedih dan aku kecewa dengan apa yang aku alami.

Karena situasi ini, aku jadi semakin mendekatkan diri kepada Tuhanku. karena aku senantiasa berharap tekanan ini akan berakhir serta  suatu hari nanti aku akan mendapatkan apa yang aku mau, tinggal bagaimana aku menjalani dan mengambil jalan yang benar yang telah ditunjukkanNya.

Makhtub. aku harap itu benar adanya. selalu.

2 thoughts on “kepada siapa

  1. “tidak menyerah” itu kata-kata keramat.sakral.
    se-sakral kata “ikhlas”. sesuatu yang tidak hanya dikataakan, tapi juga dilakukan.

    sesuatu yang diajaarkan hanyya oleh para sufi. oraang-orang suci yang berkelana mencari makna hakekat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s