Perpisahan Diam-Diam


Ketika senja mengalah pada malam, lampu beserta cahayanya, aku melangkah menuju tempat itu dan menemukanmu disana.

Ah sungguh sejak pertama aku sudah mengagumimu dan kamu baru menyadari kehadiranku setelah berjabat tangan.

Semenjak itu kita memang tak pernah berbicara dengan ritme yang panjang. Tidak juga berpapasan dikala senggang. Mungkin memang bukan jalannya.

Setelah banyaknya intensitas yang mengharuskan bertemu, akhir kegiatan itu pun berakhir dan juga keputusan untuk berakhirnya karirmu disana. Hanya ada satu cara setelah kegiatan itu usai, mengembalikan sesuatu yang kupinjam darimu. Satu kali dua kali aku memberikannya kepadamu. Hanya itu cara untuk sekedar menyapa.

Dan perpisahan diam-diam itu berakhir menyedihkan.

Tiada cara lagi untuk sekedar menyapa dan memandangimu dengan dekat. Dan aku hanya bisa mengagumi dari jauh.

“True goodbyes are the ones never said or explained”

“A good-bye is never painful unless you’re never going to say hello again”

Yogyakarta, Desember 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s