Social Visit (Maluku, 2010) part 1


Tentang perjalanan yang mengesankan. Tentang apa yang saya dan teman-teman lakukan di Pulau Maluku pada tahun 2010. Cerita ini hanya ringkasan saja.


“Kesempatan ini langka.”

Begitu pikirku pertama kali melihat sebuah keputusan yang berat pada bulan Maret 2010. Tepat setahun yang lalu, di ruangan 5×6 yang sempit dan cukup pengap pada waktu itu. Sekumpulan orang-orang yang memiliki visi dan misi (hampir) sama yaitu membuat sebuah perjalanan panjang ke daerah yang belum dikunjungi oleh kami. Kami yang merupakan mahasiswa-mahasiswa bertitelkan “Never Give Up!”  dibelakang punggung, yang entah mengapa memutuskan hal yang diluar nalar (menurut saya). Nahkoda kami yang (sedikit) gila itu memutuskan melakukan perjalanan dengan persiapan yang tidak lebih dari 6 Bulan. Dia memang benar-benar gila sepertinya.

Daerah yang kami kunjungi adalah Indonesia bagian timur. Kami memilih Maluku dengan waktu perjalanan 1 bulan. Kalau mau tahu alasannya, silahkan berkunjung ke sekre, kami akan bercerita panjang tentang hal itu. Keputusan siapa yang akan berangkat merupakan tanggungan terberat yang kedua. Yang berangkat adalah dari tim gunung dan tim pengabdian masyarakat. Bagi saya pemutusan orang-orang yang bergabung pada pengabdian masyarakat adalah yang tersulit karena terjadi beberapa kali konsolidasi yang tidak kunjung selesai. Pembuatan tim pengabdian yang hanya 3 orang itu dimulai dari awal tahun, waktu itu kami memutuskan untuk membuat penelitian juga disana diselingi dengan pengabdian masyarakat. Namun dikarenakan bahan untuk penelitian cukup rumit bila ditawarkan kepada beberapa masyarakat di Maluku maka kami mengurungkan niat mengadakannya. Fokus kami saat itu adalah melakukan pengabdian sebaik mungkin dan membuat kenangan yang indah disana. Sebelumnya saya ingin meminta maaf pada calon tim pengabdian yang tidak jadi terpilih. Sungguh saya merasa tidak enak hati karena melihat kerja keras kalian, keinginan yang besar, dan semangat untuk ikut berpartisipasi namun tidak bisa ikut ke daerah Maluku. Kalian adalah orang-orang hebat yang tidak akan saya lupakan!

Setelah beberapa bulan berlalu dengan keputusan-keputusan yang semakin baik, akhirnya pada tanggal 12 Juli kami melakukan perjalanan panjang tersebut. Tim yang berangkat berjumlah 8 orang termasuk saya. Kami diantar oleh teman-teman yang sama-sama berjuang untuk mewujudkan misi bersama. Bertempat di stasiun Lempuyangan, perjalanan dimulai. Keberangkatan ke Maluku dengan menggunakan pesawat pada waktu itu hanya ada di Surabaya dan Jakarta. Kami memilih melalui Surabaya. Setelah 6 jam perjalanan kereta menuju Surabaya, kami dijemput oleh senior kami yang bertempat tinggal disana. Setelah menginap selama satu hari, kami melanjutkan perjalanan menuju bandara. Waktu yang ditempuh dari Surabaya ke Maluku adalah 3 jam dengan transit terlebih dahulu di Makassar.

Check-in

Transit

salah satu poster di bandara

Akhirnya kami sampai di bandara Pattimura, Maluku. Pemandangan yang indah, hamparan padang hijau dan bukit yang sangat menggugah hati. Saya belum pernah melihat keindahan bandara se-apik itu. Keesokan hari kami bersiap-siap meninggalkan wisma di daerah Batu Merah untuk melakukan perijinan perjalanan dan melihat-lihat kota Ambon yang indah. Kami berkunjung dengan teman-teman mahasiswa di Universitas Pattimura. Karena Universitas Pattimura terletak di dekat bandara dan kami berada di sebrangnya, maka kami menggunakan perahu kecil. Air laut disana begitu bersih dan pemandangannya lagi-lagi membuat saya terhanyut. Setelah bertemu dengan teman-teman baru dan berbincang-bincang mengenai lokasi yang akan kami datangi, kami kembali menuju transit perahu. Yang saya tidak sangka adalah saya melihat dengan jelas perpaduan warna nya dan panjangnya pelangi yang ada di langit Ambon setelah gerimis datang. Bukan main indahnya!

Pada tanggal 16 Juli 2010, kami bersiap menuju pelabuhan Amahai untuk ke Pulau Seram. Ombak yang cukup keras membuat kami terombang-ambing di dalam kapal boat yang berkecepatan tinggi. Waktu perjalanan ditempuh 2 jam, setelah sampai kami di jemput oleh anggota Balai Taman Nasional Manusela dan diantarkan ke dalam mess mereka yang berada di kota Masohi.

seperti di Hollywood. hahah..

Di kota Masohi ini sebagian besar beragama muslim dikarenakan perpindahan mereka pasca bentrok tahun 1999.   Hari itu kami habiskan untuk membeli persediaan makanan tim gunung dan membicarakan observasi memutuskan tempat pengabdian. Keesokan harinya saya dan kedua teman mengantarkan keberangkatan tim gunung ke Gunung Binaiya, gunung tertinggi di Maluku dan memiliki kebudayaan yang berlimpah serta menarik untuk diamati. Tinggallah kami bertiga yang akan mengobservasi daerah untuk melakukan pengabdian.

salah satu SD di Makariki

Rencana observasi kami lakukan di desa Makariki yang berjarak kurang lebih 30 menit dari kota Masohi. Pengabdian kami adalah ingin mengajari anak-anak melakukan senam otak berdasarkan permainan yang terdapat di daerah tersebut. Namun rencana ini bersifat fleksibel. Menuju desa Makariki kami mengalami kendala dikarenakan rumah penduduk yang berjauhan walaupun terdapat SD-SMK namun apabila kami melakukan pengabdian dirasa kurang maksimal untuk bersosialisasi. Observasi kami lanjutkan kembali dihari berikutnya dengan tempat yang berbeda.

to be continued…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s