the unspoken friend.


Sekitar 6 tahun yang lalu, dia lahir dengan warna bulu yang berbeda dengan saudara-saudaranya. Walaupun dia tidak bisa berbicara dengan bahasa manusia, tapi kita saling mengerti. Dia minta bermain, saya tahu. Dia bermanja-manja, saya memahaminya. Saya ingat hal yang paling lucu yang dia lakukan, setiap dia mau tertidur, saya dan keluarga selalu menganggunya dengan cara berbicara dengannya, dia tidak pernah mengeluh, selalu menjawab (ya, walaupun saya tetap tidak mengerti).

Terakhir kali saya melihatnya sedang dalam pasca-operasi menghentikan pengembangbiakan anak. Namun yang saya dengar akhir-akhir ini, dia tiba-tiba drop, berbicara pun dia tidak bisa. Hanya mengibas-ngibaskan ekornya. Tanpa disangka, hari itu dia sudah terpanggil, melepaskan ketiga anaknya yang baru berumur lima bulan. Saya tidak bisa menemaninya, melihatnya dikubur pun tidak. Tapi saya tahu, dia masih ada disana. Menemani dan melihat kami tetap menjalani hidup. Dia, kucing tertua yang saya punya.  Semoga dia bahagia.🙂

This slideshow requires JavaScript.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s