Menuliskanmu dan Mengantarkanku


Menuliskan catatan terakhir untukmu ternyata tidak membukakan jalan menuju kelegaan. Merasa bahwa kesalahan ini selain dipihak ku, juga di pihak mu. Tetapi saat ini aku paham bahwa kesalahan itu ada dipihakku. Kata-kata yang kupilih dan kurakit ternyata mengantarkanku kepada stagnansi. Disisimu tetap merasa kosong, sedangkan disisiku masih sama, tidak merubahku pada kekosongan yang sama denganmu.

Setelah beberapa waktu berlalu, aku tidak mengerti mengenai terkaan-terkaan yang ku buat kepadamu. Seperti teka-teki yang tidak bisa dipecahkan. Seakan-akan yang kamu tulis adalah sebuah pengenalan tidak langsung kepadaku. Ah, aku lupa bahwa semua itu adalah dunia maya. Apa yang ada saat kaki terpijak ditanah, raga saling berdekatan, mata saling bertatap, membuatku semakin tidak memahami mu. Apa yang kamu inginkan?

Memandangi catatan mu diantara tumpukan berkas-berkas lainnya membuatku merasa bahwa aku harus mengosongkan perasaan yang stagnan ini. Menunggumu membuatku lelah. Menerka-nerka apa keinginanmu lebih melelahkan. Aku berusaha untuk tidak menyesalinya, keputusan yang baik untuk mengembalikan apa yang seharusnya ada.

untukmu dan untukku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s