Shiso the Luminous Cat


Sekitar awal April datanglah sesosok kucing berwarna krem dengan belang-belang dibeberapa tempat yang memang khas, di kaki dan di muka. Badannya kurus tidak terurus, dia pada waktu itu sedang mengais tulang ayam di tong sampah depan ruang tv. Setelah didekati dia tidak berontak, malah menunjukkan bahwa dia sangat kelaparan (dengan suara kelaparan yang biasa ditunjukkan oleh kucing). Pikir saya mungkin setelah dia makan tulang ayam ini dia tidak akan kembali lagi. Keesokan harinya tanpa disangka dia datang lagi dan meminta makan dengan muka memelas (seperti biasa). Saya ajak dia kebagian atas untuk menemui teman yang senang dengan kucing juga. Sebelumnya saya berpikir dia kucing biasa namun ternyata kucing tersebut adalah kucing siam. Kucing internasional atau bisa dibilang taraf nya sama dengan kucing persia, angora dan kucing-kucing mahal lainnya. :O *shock*

Setelah itu saya dan teman saya memutuskan untuk memelihara sementara karena dia tidak rewel atau melakukan hal yang membuat kesal. Pada saat saya di kampus ternyata teman saya mengajaknya ke salon untuk dicuci dan memberi panganan kucing. Ketika saya balik ke kos ternyata dia sudah menunggu di sekitar halaman depan kamar. Saya sempat menanyakan siapa pemilik kucing ini di media sosial, namun tidak ada yang memberi pernyataan yang jelas. Dia kucing yang pembersih, senang tidur di atas keset, dia senang juga tidur diatas pagar tanaman, dia senang tidur-tiduran dari pagi hingga sore dan dia senang begadang. Beberapa hari dia tidur di keset, tak disangka dia berani untuk tidur di atas selimut saya dan tidak mau di pindah (-____-“). Saya tidak masalah dengan hal itu karena dia tidak mengganggu saya ketika saya sedang mengerjakan tugas. Selama seminggu dia sudah memiliki attachment yang baik dengan semua teman-teman kos. Tidak ada yang merasa terganggu dengan hal itu.

Namun beberapa hari yang lalu terjadi konflik (bila saya bisa katakan seperti itu). Ini no offense. Saya akan katakan apa yang saya rasakan dan dengar. Tepatnya di hari rabu, pada saat itu saya sedang berada di kampus dan pada saat pulang saya diceritakan oleh teman saya bahwa pada siang hari kucing tersebut di usir dari kos oleh 2 orang asisten ibu kos (biar sopan bahasanya) dan ibu kos sendiri. Salah satu asisten melemparinya dengan tanah agar dia keluar dari kos lalu menutup pintu utama. Teman saya tidak berani keluar pada saat itu dan ketika hendak membantu mengajak kembali, kucingnya sudah masuk melalui pintu di sebelah timur. Hari itu tidak jadi diusir. Namun tempat makan dan minumnya di taruh diluar ruang tv. Alasan asisten mengatakan makanannya diluar saja karena membuat bau (yang padahal saya tidak mencium bau makanan tersebut menyengat) dan katanya kucing tersebut tidur didapur ibu kos. Saya tanyakan  teman saya yang melihat apa alasannya, dia tidak tahu. Memang dalam seminggu itu dia mengeluarkan (maaf) pup nya di sekitar halaman depan kamar kos. Selama itu saya tidak mencium bau nya. Hanya diawal-awal saja.  Namun apakah itu alasan utama dari pengusiran tersebut? saya tidak paham.

Pada saat hari kamis  malam, saya lagi-lagi tidak berada di kos dikarenakan ada acara, kucing tersebut ingin diusir kembali oleh ibu kos dan 1 orang asistennya. Menurut keterangan teman saya yang berada di ruang tv bersama dengan shiso di keset,  Ibu kos membawa penebah dan 1 orang asisten membawa sapu. Beliau dengan nada tinggi ingin mengusirnya namun untunglah teman saya mengatakan untuk malam ini shiso tinggal disini, besok akan dicarikan rumah yang baru. Untunglah (terimakasih, mba Pit!). Pada saat saya pulang dan mendengar hal itu, saya rasanya ingin menangis karena kesal. Mengapa pada saat saya tidak ada mereka melakukan hal yang tidak baik terhadap kucing tersebut, kenapa tidak bicara secara baik-baik kepada kami bahwa kucing tersebut tidak boleh tinggal, kenapa?

Esok harinya, tepat tanggal 13 April saya dan mba Pipit berusaha mencari teman yang mau mengadopsi shiso. Setelah beberapa jam akhirnya kami menemukannya, teman dari mba Pipit yang menyukai kucing dan memiliki kucing juga. Saya membicarakannya kepada orangtua saya dengan menangis (memang, ini momen yang sedih bagi saya), orangtua saya memberikan pernyataan yang positif, mungkin ibu kos tidak ingin membuat anak-anak kos nya terserang toxoplasma. Saya berusaha positif dengan hal itu. Walaupun pada dasarnya toxoplasma bukan hanya dari kucing tapi juga dari anjing dan hewan mamalia lainnya serta tergantung dari tingkat kebersihan hewan yang kita pelihara.

Kami menuju ke Cafe Momento, bertemu dengan mba Diefla dan memberikan shiso. Shiso sangat beruntung menemukan mama barunya yang lebih sayang dan memiliki lingkungan yang care terhadap binatang. Serta mem-post shiso di ohmypaws milik mba Chiw (terimakasih mba!). Semoga Shiso semakin gendut dan menawan ya! :3

2 thoughts on “Shiso the Luminous Cat

  1. bener ini, moy? mba ga dikasih tau..
    padahal belum sempet liat si shiso siammu yang menawan itu😦
    baik2, shiso…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s