Trip: Museum Kebangkitan Nasional


Berkunjung kembali ke Museum. Masih di sekitar Jakarta, saya berkunjung ke Museum Kebangkitan Nasional yang berada di daerah senen. Saya mengalami awkward moment sebelum ke museum ini, awalnya saya ingin berkunjung ke Museum Sumpah Pemuda karena saya membaca kalau lokasinya dekat dengan tempat saya tinggal. Bermodal nama jalan dan nama museum, saya naik bajaj menuju lokasi, ternyata abang bajaj gagal paham apa yang saya maksud, dengan pede nya abang bajaj ngajak saya ke Museum Kebangkitan Nasional (uda agak panik karena jalanannya sepi). Untung saja lambat laun saya mulai ingat jalanan daerah Museum Kebangkitan Nasional. Letaknya dekat dengan RS Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto, Jl. Dr. Abdul Rahman Saleh No. 26 Jakarta Pusat.

Setelah merasa aneh dengan abang bajaj yang sangat berinisiatif mengajak saya ke Museum Kebangkitan Nasional, saya masuk kedalam dan membeli tiket masuk diruang tata usaha. Ketika saya menulis buku tamu, ternyata pengunjung-pengunjungnya rata-rata dari luar negeri (wow!). Setelah menulis buku tamu dan membayar, ibu tata usaha memberikan buku panduan yang full color sambil bertanya kepada saya apakah saya perlu ditemani atau tidak (pada saat itu saya sendirian main ke museum), saya katakan tidak perlu, mau menikmati suasana di museum. Yaaah jelas saja ibunya bertanya, karena ketika berkeliling-keliling saya baru menyadari kalau hanya saya yang menjadi pengunjung pada jam itu. *ough crap!*

Museum Kebangkitan Nasional memiliki 17 ruangan sudah termasuk 7 ruang pamer koleksi dan ruang audiovisual, perpustakaan, serta auditorium. Tujuh ruangan pamer koleksi, yaitu ruang pengenalan, ruang awal pergerakan nasional, ruang kesadaran nasional, ruang pergerakan nasional, ruang propaganda studie fonds, ruang memorial Budi Utomo, dan ruang alat-alat kedokteran. FYI, Museum Kebangkitan Nasional ini dulunya merupakan tempat pendidikan kedokteran “STOVIA”, sekolah kedokteran bumi putera. Pendidikan kedokteran ini didasarkan keinginan untuk memberantas penyakit-penyakit yang menular seperti tipyus, kolera, dll. Tempat pendidikan kedokteran “STOVIA” tak hanya sebagai tempat belajar mengajar namun tempat ini juga difungsikan sebagai asrama bagi para mahasiswanya.

Gedung “STOVIA” menjadi salah satu tempat penampungan tawanan perang tentara Belanda oleh Jepang. Pada masa proklamasi, gedung ini dimanfaatkan sebagai tempat tinggal bekas tentara KNIL yang berasal dari Ambon. Gedung ini pun menjadi saksi lahirnya organisasi-organisasi seperti Boedi Oetomo, Jong Java, Jong Minahasa dan Jong Ambon, dan lain-lain. Beberapa tokoh pergerakan seperti Ki Hajar Dewantara, Cipto Mangunkusumo, dan Soetomo juga pernah menimba ilmu di tempat ini.

Dikarenakan banyaknya sejarah dan kegiatan organisasi yang mengubah Indonesia sampai saat ini, maka Museum Kebangkitan Nasional didirikan untuk mengenang dan mengapresiasikan organisasi-organisasi yang berkembang sejak awal kemerdakaan Indonesia. Pada saat saya berkeliling di ruang pamer koleksi, saya melihat tak hanya organisasi politik saja namun organisasi yang bergerak dibidang pendidikan dan organisasi keagamaan juga ada disini. Dalam bidang pendidikan, selain organisasi juga pejuang-pejuang seperti R.A Kartini, Wahidin, Dewi Sartika, Ki Hajar Dewantara, dan lain sebagainya. Beliau-Beliau memberikan segenap ilmunya untuk memberikan pengetahuan kepada bangsa Indonesia, laki-laki dan perempuan agar mendapatkan ilmu yang setara. Ruang pamer koleksi yang menarik adalah di bagian ruang “STOVIA”, di ruangan ini memperlihatkan berbagai macam alat-alat kedokteran pada zaman dahulu ketika “STOVIA” masih berdiri. Selain alat-alat kedokteraan, terdapat diorama dan suasana ruang belajar serta ruang asrama di “STOVIA”. Keren!

“Suatu perubahan dalam seluruh rakyat pribumi pasti akan datang titik tolaknya telah ditakdirkan, hanya.. Kapan?” (R.A Kartini)

“Anak-anakku sebagai perempuan kalian harus memiliki banyak kecakapan agar mampu hidup” (Dewi Sartika)

Museum Kebangkitan Nasional ini benar-benar menggugah kita untuk memahami dan merasakan bagaimana para pejuang mengembangkan dan memberikan segenap keinginannya untuk memajukan Indonesia sebagai negara yang dapat diperhitungkan di kancah luar negeri. Semoga ada banyak masyarakat yang mau datang berkunjung ke museum ini, karena penjelasan-penjelasan yang ada di museum ini sangat sederhana dan mudah dipahami tanpa harus menggunakan guide. Oiya, museum ini juga sedang dalam perombakan sedikit demi sedikit, hitung-hitung menarik para pengunjung juga. hehehe..

Foto sendiri karena jalan-jalan sendirian

Have a Nice Trip!

Jam Buka:

Selasa-Jumat     08.30-15.00

Sabtu-Minggu  08.30-14.00

Price:

Dewasa Perorangan: Rp 2.000,-

Dewasa Rombongan: Rp 1.000,-

Anak Perorangan: Rp 1.000,-

Anak Rombongan: Rp 500,-

Wisman/Turis: Rp 10.000,-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s