Trip: Nusa Penida, another story of Bali


Sebenarnya perjalanan ini sudah dilakukan beberapa bulan yang lalu. Waktu itu udah pengen nulis banyak. Eh, ternyata leyeh-leyeh mengalahkan segalanya ya. Hahaha..

Saya mulai saja ceritanya..

Kakak saya datang berlibur selama dua minggu dan saya sengaja banget menyimpan cuti demi nemenin kakak. Perjalanan dimulai pertengahan tahun, awalnya bukan ke Nusa Penida dan sekitarnya. Big plan kakak saya adalah ke daerah Labuan Bajo. Sayang, ketika hitung-hitungan terjadi, banyak dana yang akan terkuras. Lalu saya memberikan opsi di sekitar Bali atau di daerah Jawa Timur. Kakak saya memutuskan untuk menjelajah daerah Bali saja dan yang belum pernah di jamah. Eng ing eng, dipilihlah Nusa Penida dan Nusa Lembongan. Dengan mantapnya kakak saya meminta saya dengan polosnya untuk buat itinerary. Cakep banget dah!

Hanya bermodal narasumber yaitu mbak Komang yang tak lain tak bukan adalah asli warga Nusa Penida  dan merupakan asisten rumah tangga di keluarga saya. Serta, cek sedetail mungkin di internet, dari peta nya, dari instagram, dan dari blog untuk jam keberangkatan boat (Nusa Lembongan). Waktu yang diminta untuk melakukan trip adalah 3 hari 2 malam dengan rute Nusa Penida lalu ke Nusa Lembongan.

Ada banyak tempat yang dapat kita kunjungi di Nusa Penida. Pulau kecil di timur Pulau Bali ini lebih terkenal untuk snorkeling dan diving. Tapi, bagian di daratnya gak kalah lho, seperti:

  1. Pura Dalam Ped: Bagi umat Hindu, Pura ini adalah salah satu tempat yang perlu dikunjungi untuk bersembahyang, untuk wisatawan bisa melihat ritual keagamaan disana.
  2. Goa Giri Putri: Tempat persembahyangan yang ada di dalam goa. Kata mbak Komang, masuk ke goanya sempit banget namun ketika sudah masuk, didalamnya luas sekali. Terletak di daerah Karang Sari.
  3. Pura Mobil: Tempat persembahyangan di dekat Desa Penangkidan, kenapa namanya pura mobil? Karena di dalam Pura tersebut ada 2 patung berbentuk mobil. Konon, ada penjajah yang meninggal di dalam mobil, warga setempat membuang mobil tersebut ke laut namun tak lama kemudian mobil tersebut kembali lagi. Warga akhirnya memutuskan tempat kembalinya mobil tersebut dijadikan tempat persembahyangan.
  4. Puncak Mundi: Pura yang paling tinggi di Nusa Penida karena berada di atas bukit. Bila berkunjung ke Puncak Mundi, kalian bisa melihat Gn. Agung dan Pulau Bali jauh lebih jelas.
  5. Pantai Atuh: Pantai yang lagi nge-hits di beberapa IGers Bali. Terletak di daerah Suana, pantai yang belum terjamah oleh banyak orang. Saking belum terjamahnya, perjalanan bisa menghabiskan waktu 2 jam. Haha..
  6. Kelingking Point / Old Manta Point: Pantai yang super private karena kalau mau kesana harus turun dari tebing yang sangat terjal. Lokasinya tak jauh dari Pura Mobil. Guess what? Pemandangannya gak kalah sama yang di Papua sana. So breathtaking! Too beautiful.
  7. Pasih Uug dan Angel’s Billabong: Sebelum pantai Atuh nge-hits, kedua tempat ini masih jadi primadona karena lokasinya lumayan dekat dengan pelabuhan Toyapakeh.
  8. Telaga Temeling: Tempat pemandian suci yang terletak di daerah Batu Madeg. Menuju ke tempat pemandiannya, harus berjalan turun..turun banget yang banyak tangganya dan fiuh menguras tenaga. Turun aja menguras tenaga, apalagi naik. Tapi, gak ada yang sia-sia dari perjalanan naik turunnya. Bagus banget pemandangannya. Gak pengen balik. Sampe wondering, ini kagak ada lift macam di karma kandara apa ya. Hahaha..
  9. Pantai Crystal Bay: Pantai yang berlokasi dekat sekali dengan pelabuhan Toyapakeh. Pantai yang saya bilang sangat bule dan (imho) biasa aja. Memang sih modelnya pantai banget yang bisa buat berjemur-jemur cantik, main air laut, dan menikmati pantai seperti biasanya.

Nusa Penida Map

Dari kesembilan tempat yang perlu dikunjungi, saya hanya bisa mendapatkan 4 (empat) tempat saja. Saya jabarkan sekalian dengan itinerary nya yaa.. Disini saya dan kakak mengajak mama untuk ikut serta. Tung itung quality time sama anak laki nya yang setahun sekali baru bisa balik ke Bali. Kalo papa mah jaga kandang di rumah aja. Hehehe…

Day 1 ( Nusa Penida):

06.30 kita sudah standby di Sanur untuk membeli tiket fast boat ke Nusa Penida, kalau tidak musim pulang kampung, lebih baik beli on the spot. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 30 menit. Pastikan pakaian teman-teman biasa aja dan siap basah. Rugi pake yang cantik-ganteng pas naik boat, karena masuk ke tepi laut. Kecuali kalo mau di gendong sama anak buah boat. Haha..  Harga: 75k untuk lokal, 250k untuk bule.

07.00 sampai di Pelabuhan Toyapakeh dan menunggu adik mbak Komang untuk menjemput serta menjadi guide kita selama di Nusa Penida. Disekitar pelabuhan ini kita bisa menyewa mobil atau motor untuk berkeliling. Untuk Motor merogoh kocek 50k kalau mobil saya lupa harganya. Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, penyewaan motor di Nusa Penida dan Nusa Lembongan tidak ada helm. Jadi gunakanlah kendaraan dengan hati-hati. Tipikal warga di Nusa Penida kalau naik motor memang kencang-kencang, tapi kita gak usah ngikutin lah ya. Mereka kan sudah biasa. Kalau pakai mobil harus jauh lebih hati-hati karena jalanannya tidak seperti di Pulau Bali. Jalanan di sini sempit dan berlubang-lubang.

07.00 kami menggunakan 2 motor menuju ke Desa Penangkidan, dimana kami akan menginap satu malam di rumah keluarga mbak Komang. Sejatinya perjalanan dari pelabuhan Toyapakeh ke Desa ini cukup 45 menit, namun karena jalanan penuh lobang, berbatu, naik turun, samping jurang, alhasil memakan waktu 1 jam 30 menit. Bayangkan lah pemirsa..

 

08.30 di rumah keluarga mbak Komang kami disuguhi makanan yang sederhana tapi rasanya enak sekali. Apa karena hasil perjalanan pertama yang bikin deg-deg an. Haha.. Akibat perjalanan tadi, saya dan kakak saya sudah bisa membayangkan bagaimana perjalanan selanjutnya dan memutuskan (dari saran adiknya mbak Komang juga) seharian ini ke 4 (empat) tempat saja dan waktu selesai perjalanan diperkirakan sampai maghrib.

09.30 memulai tempat pertama, yang terdekat dari Desa Penangkidan, yaitu Pura Mobil dan Kelingking Point. Didalam Pura Mobil kami seperti orang kebanyakan, berfoto-foto sambil memandangi laut luas. Sayangnya gak ada yang bisa kami tanyakan mengenai sejarah Pura Mobil itu sendiri. Lanjut, beberapa meter dari Pura Mobil, kami ke Kelingking Point atau Old Manta Point. Pemandangan yang breathtaking dan super private beach. Saya ngeliat kebawah aja sepertinya gak mungkin bisa turun, ternyata adiknya mbak Komang ini sudah 4 (empat) kali turun kebawah sana bersama teman-temannya. Edan!

10.30 setelah memuaskan mata melihat keindahan Kelingking Point, kami melanjutkan perjalanan ke Pasih Uug dan Angel’s Billabong. Jalanannya kacau, panas, berdebu, kering, dan hah duduk di jok motor saja sampe sakit. Beginilah, keindahan alam yang belum terjamah oleh banyak orang dan wisatawan mancanegara. Pemerintah Klungkung seakan tutup mata tutup telinga dengan rusaknya infrastruktur di Nusa Penida (yak, malah curhat). Oke di Pasih Uug ini nama terkenalnya adalah Broken Beach dan yang buat fenomenal adalah adanya tebing yang berlubang dan di atasnya masih bisa dilalui oleh motor. Warna laut yang bergradasi dengan apik serta semburan air laut yang menerpa tebing. Sungguh indah melihatnya!

Pasih Uug

Nah, di samping Pasih Uug kita bisa berjalan menuju Angel’s Billabong. Jalannya penuh karang, bisa dipastikan dahulu air lautnya setinggi dimana kami berjalan. Angel’s Billabong merupakan tempat antara karang besar dan didepannya adalah palung yang cukup dalam. Di tengah-tengah Angel’s Billabong kita dapat berendam disana. Tapi tetap hati-hati karena karang yang lumayan tajam dan licin.

11.30 Perjalanan dilanjutkan ke daerah Batu Madeg tepatnya menuju ke Telaga Temeling. Kalau tanpa guide yang asli orang sana, sepertinya kami akan nyasar, atau nggak cuman main tempat yang mainstream. Menuju ke Telaga Temeling, kami merasakan hal yang berbeda, rumah-rumah di daerah Batu Madeg begitu berdekatan. Lain halnya dengan daerah-daerah yang lain. Menurut saya malah daerah Batu Madeg ini seperti daerah Bunga Mekar dimana menjadi daerah percontohan dengan jalan yang bagus dan berkembang. Banyak pula yang menjadikan daerah ini sebagai tempat KKN teman-teman dari Universitas Udayana dan Universitas lainnya di Bali. Kami tidak membayangkan Telaga Temeling itu seperti apa dan bagaimana karena hanya dikatakan tempat pemandian suci. Nyatanya, ketika kami memasuki jalan yang bertuliskan “Telaga Temeling”, jalanannya berkavling dan menurun. Menurun banget. Heeuuu.. Shock therapy siang-siang bolong. Di sebelah kiri ada tanda berangka yang menerangkan kita akan turun sepanjang 10 km. Saya selaku penumpang menghitung mengikuti tanda tersebut.

Delapan kilo, tujuh kilo, enam kilo, kami disuguhi hutan tebing terjal di sebelah kanan kami, di poin dua kilo kami diberhentikan oleh pekerja pembuat jalan kavling untuk membayar sumbangan pembangunan jalan sebesar Rp 5.000/orang. Lalu tak jauh dari poin tersebut kami memutuskan untuk memarkirkan motor kami. Karena jalannya kembali sangat menurun, kami memikirkan kalo kami teruskan motor kami kebawah, naiknya nanti susah. Akhirnya kami berjalan kaki menuju ke tempat pemandian. Harapan kami dengan hitungan sekilo lagi tidak akan jauh berjalan.

Nyatanyaaaaaa.. kami turun gak nyampe-nyampe. Hahaha… Mana tangganya tinggi-tinggi pula. Dengan ngos-ngosan, pemandiannya akhirnya terlihat. Pemandian dengan pemandangan hutan tebing terjal dan pantai berpasir putih. Pemandian paling atas untuk laki-laki dan pemandian dibawah dekat dengan pantai untuk perempuan. Pemandian untuk laki-laki lebih luas dibandingkan dengan yang perempuan. Kami dari awal memang tidak ingin mandi, hanya ingin menikmati pemandangan disekelilingnya. Batu-batu besar berserakan di pantai tersebut. Kami beristirahat sejenak sambil mengumpulkan tenaga dan wondering bagaimana caranya naik tapi gak pake capek. Haha.. Adiknya mbak Komang udah ngilang dari pandangan, sepertinya dia mandi, kami berfoto-foto saja dan duduk manis di batu besar.

This slideshow requires JavaScript.

Setengah jam sepertinya cukup bagi kami untuk beristirahat dan bersiap untuk mencari makan siang. Kami naik dengan penuh perjuangan dan sambil berdoa kencang-kencang dalam hati agar dilancarkan sampai keluar dari Telaga Temeling. Kind of lebay, but trust me, it’s a bit frightening for me because of the path. Tak jauh dari daerah Batu Madeg yaitu di Penutuk, ada tempat makan yang jadi andalan adiknya mbak Komang karena dekat dengan sekolahnya. Namanya “Warung Pak De”, menjual soto ayam, nasi goreng, dan bakso ayam. Karena rasa lapar yang membuncah dan sudah menunjukkan pukul 2 siang, saya memesan soto ayam, kakak dan mama saya memesan nasi goreng. Tak disangka, kami ketagihan. Haha.. Kakak saya sampai memesan 2 nasi goreng dan dimakan bersama.

15.00 Perut kenyang hati senang tenaga kembali. Kami melanjutkan perjalanan menuju Pantai Crystal Bay. Tempat terakhir yang kami kunjungi. Menuju ke pantai ini sama seperti yang lain, ada banyak bolong-bolongnya namun jalanannya lumayan cukup besar. Pantai yang dekat dengan Pelabuhan Toyapakeh ini adalah pantai yang turis banget. Ada 2 penginapan besar yang dibangun di daerah Pantai ini. Yang membuat menarik adalah ketika kami menuruni jalan besar menuju pantai, kami disuguhi banyaknya pohon kelapa.

Sampai di Pantai, saya dan mama saya menikmati pemandangan di warung dekat sana, sementara kakak saya mandi di pantai. Keinginan kami adalah menikmati sunset di pantai tersebut, namun kalau kita menghabiskan waktu disana, kemungkinan besar kami akan pulang menuju rumah Mbak Komang dalam keadaan gelap gulita dengan jalan yang tidak beraturan itu. Kita memutuskan menikmati sunset di jalan. Tidak rugi, sunset terlihat jelas karena kita menaiki bukit dan arahnya ke barat.

Crystal Bay

18.30 Kami sampai di Desa Penangkidan, rumah Mbak Komang. Kami membersihkan badan dan makan malam. Menikmati bintang-bintang yang banyak sekali sambil berbincang-bincang dengan keluarga disana.

Keesokan harinya, kami bersiap menuju ke Pelabuhan Toyapakeh untuk menyeberang ke Jembatan Kuning Nusa Ceningan.

Foto dengan Basecamp

Perjalanan di Nusa Penida telah usai. Satu hari tanpa henti menuju ke 4 (empat) tempat dengan keadaan jalan yang super rusak itu benar-benar pengalaman yang tidak terlupakan bagi kami. Dengan adanya guide yang mengantarkan kami selama disana membuat perjalanan lebih lancar. Terdapat beberapa hal yang ingin saya sampaikan apabila ingin berkeliling di Nusa Penida, yaitu:

  1. Bawalah minum sebanyak-banyaknya. Gersang dan Panasnya bukan main. Jarang ada warung dan tempat makan.
  2. Gunakanlah sunblock, jaket tipis, penutup mulut, kacamata hitam, dan pakai sepatu atau sandal gunung.
  3. Bensin di Nusa Penida dihargai 15k/liter. Gunakanlah motor dengan hati-hati, karena tidak ada helm dan jalanannya yang tidak bersahabat. Kalau yang tidak terbiasa dengan jalanan tersebut biasanya after effectnya semua badan pegal-pegal.
  4. Kalau ada Guide yang mau mengantarkan itu lebih bagus lagi. Kalau dilihat di peta, sepertinya kita bisa berkeliling ke seluruh tempat tersebut. Sayangnya tidak seperti itu, karena kontur di Nusa Penida berbukit-bukit, jalan yang disediakan lebih banyak memutar dan out of nowhere. Sinyal paling banter adalah Telkomsel dengan sinyal internet adalah EDGE.
  5. Masjid atau musholla hanya terdapat di daerah Sampalan karena di daerah sana banyak pendatang dari Lombok untuk berjualan.

Nusa Penida sudah mulai berkembang layaknya Nusa Lembongan, namun pemerintahnya masih menutup mata untuk perbaikan infrastruktur kedua Nusa tersebut. Infrastruktur hanya diperbaiki ketika hangat-hangatnya pemilu daerah. Warga sendiri harapannya infrastruktur dapat diperbaiki secara berkala, air bersih selalu tersedia, marka jalan dan tanda jalan diperbanyak, serta agar dapat saling menjaga keutuhan alam yang ada di Nusa Penida. Semoga harapan ini dapat di dengar dengan baik bukan menjadikannya sebagai bahan pengembangan bisnis perseorangan. Aamiin.

 

Next Post lanjutan saya dan keluarga saya main ke Nusa Lembongan. Mari…

4 thoughts on “Trip: Nusa Penida, another story of Bali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s