Trip: Nusa Penida, another story of Bali

Sebenarnya perjalanan ini sudah dilakukan beberapa bulan yang lalu. Waktu itu udah pengen nulis banyak. Eh, ternyata leyeh-leyeh mengalahkan segalanya ya. Hahaha..

Saya mulai saja ceritanya..

Kakak saya datang berlibur selama dua minggu dan saya sengaja banget menyimpan cuti demi nemenin kakak. Perjalanan dimulai pertengahan tahun, awalnya bukan ke Nusa Penida dan sekitarnya. Big plan kakak saya adalah ke daerah Labuan Bajo. Sayang, ketika hitung-hitungan terjadi, banyak dana yang akan terkuras. Lalu saya memberikan opsi di sekitar Bali atau di daerah Jawa Timur. Kakak saya memutuskan untuk menjelajah daerah Bali saja dan yang belum pernah di jamah. Eng ing eng, dipilihlah Nusa Penida dan Nusa Lembongan. Dengan mantapnya kakak saya meminta saya dengan polosnya untuk buat itinerary. Cakep banget dah!

Hanya bermodal narasumber yaitu mbak Komang yang tak lain tak bukan adalah asli warga Nusa Penida  dan merupakan asisten rumah tangga di keluarga saya. Serta, cek sedetail mungkin di internet, dari peta nya, dari instagram, dan dari blog untuk jam keberangkatan boat (Nusa Lembongan). Waktu yang diminta untuk melakukan trip adalah 3 hari 2 malam dengan rute Nusa Penida lalu ke Nusa Lembongan.

Ada banyak tempat yang dapat kita kunjungi di Nusa Penida. Pulau kecil di timur Pulau Bali ini lebih terkenal untuk snorkeling dan diving. Tapi, bagian di daratnya gak kalah lho, seperti:

  1. Pura Dalam Ped: Bagi umat Hindu, Pura ini adalah salah satu tempat yang perlu dikunjungi untuk bersembahyang, untuk wisatawan bisa melihat ritual keagamaan disana.
  2. Goa Giri Putri: Tempat persembahyangan yang ada di dalam goa. Kata mbak Komang, masuk ke goanya sempit banget namun ketika sudah masuk, didalamnya luas sekali. Terletak di daerah Karang Sari.
  3. Pura Mobil: Tempat persembahyangan di dekat Desa Penangkidan, kenapa namanya pura mobil? Karena di dalam Pura tersebut ada 2 patung berbentuk mobil. Konon, ada penjajah yang meninggal di dalam mobil, warga setempat membuang mobil tersebut ke laut namun tak lama kemudian mobil tersebut kembali lagi. Warga akhirnya memutuskan tempat kembalinya mobil tersebut dijadikan tempat persembahyangan.
  4. Puncak Mundi: Pura yang paling tinggi di Nusa Penida karena berada di atas bukit. Bila berkunjung ke Puncak Mundi, kalian bisa melihat Gn. Agung dan Pulau Bali jauh lebih jelas.
  5. Pantai Atuh: Pantai yang lagi nge-hits di beberapa IGers Bali. Terletak di daerah Suana, pantai yang belum terjamah oleh banyak orang. Saking belum terjamahnya, perjalanan bisa menghabiskan waktu 2 jam. Haha..
  6. Kelingking Point / Old Manta Point: Pantai yang super private karena kalau mau kesana harus turun dari tebing yang sangat terjal. Lokasinya tak jauh dari Pura Mobil. Guess what? Pemandangannya gak kalah sama yang di Papua sana. So breathtaking! Too beautiful.
  7. Pasih Uug dan Angel’s Billabong: Sebelum pantai Atuh nge-hits, kedua tempat ini masih jadi primadona karena lokasinya lumayan dekat dengan pelabuhan Toyapakeh.
  8. Telaga Temeling: Tempat pemandian suci yang terletak di daerah Batu Madeg. Menuju ke tempat pemandiannya, harus berjalan turun..turun banget yang banyak tangganya dan fiuh menguras tenaga. Turun aja menguras tenaga, apalagi naik. Tapi, gak ada yang sia-sia dari perjalanan naik turunnya. Bagus banget pemandangannya. Gak pengen balik. Sampe wondering, ini kagak ada lift macam di karma kandara apa ya. Hahaha..
  9. Pantai Crystal Bay: Pantai yang berlokasi dekat sekali dengan pelabuhan Toyapakeh. Pantai yang saya bilang sangat bule dan (imho) biasa aja. Memang sih modelnya pantai banget yang bisa buat berjemur-jemur cantik, main air laut, dan menikmati pantai seperti biasanya.

Nusa Penida Map

Dari kesembilan tempat yang perlu dikunjungi, saya hanya bisa mendapatkan 4 (empat) tempat saja. Saya jabarkan sekalian dengan itinerary nya yaa.. Disini saya dan kakak mengajak mama untuk ikut serta. Tung itung quality time sama anak laki nya yang setahun sekali baru bisa balik ke Bali. Kalo papa mah jaga kandang di rumah aja. Hehehe…

Day 1 ( Nusa Penida):

06.30 kita sudah standby di Sanur untuk membeli tiket fast boat ke Nusa Penida, kalau tidak musim pulang kampung, lebih baik beli on the spot. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 30 menit. Pastikan pakaian teman-teman biasa aja dan siap basah. Rugi pake yang cantik-ganteng pas naik boat, karena masuk ke tepi laut. Kecuali kalo mau di gendong sama anak buah boat. Haha..  Harga: 75k untuk lokal, 250k untuk bule.

07.00 sampai di Pelabuhan Toyapakeh dan menunggu adik mbak Komang untuk menjemput serta menjadi guide kita selama di Nusa Penida. Disekitar pelabuhan ini kita bisa menyewa mobil atau motor untuk berkeliling. Untuk Motor merogoh kocek 50k kalau mobil saya lupa harganya. Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, penyewaan motor di Nusa Penida dan Nusa Lembongan tidak ada helm. Jadi gunakanlah kendaraan dengan hati-hati. Tipikal warga di Nusa Penida kalau naik motor memang kencang-kencang, tapi kita gak usah ngikutin lah ya. Mereka kan sudah biasa. Kalau pakai mobil harus jauh lebih hati-hati karena jalanannya tidak seperti di Pulau Bali. Jalanan di sini sempit dan berlubang-lubang.

07.00 kami menggunakan 2 motor menuju ke Desa Penangkidan, dimana kami akan menginap satu malam di rumah keluarga mbak Komang. Sejatinya perjalanan dari pelabuhan Toyapakeh ke Desa ini cukup 45 menit, namun karena jalanan penuh lobang, berbatu, naik turun, samping jurang, alhasil memakan waktu 1 jam 30 menit. Bayangkan lah pemirsa..

 

08.30 di rumah keluarga mbak Komang kami disuguhi makanan yang sederhana tapi rasanya enak sekali. Apa karena hasil perjalanan pertama yang bikin deg-deg an. Haha.. Akibat perjalanan tadi, saya dan kakak saya sudah bisa membayangkan bagaimana perjalanan selanjutnya dan memutuskan (dari saran adiknya mbak Komang juga) seharian ini ke 4 (empat) tempat saja dan waktu selesai perjalanan diperkirakan sampai maghrib.

09.30 memulai tempat pertama, yang terdekat dari Desa Penangkidan, yaitu Pura Mobil dan Kelingking Point. Didalam Pura Mobil kami seperti orang kebanyakan, berfoto-foto sambil memandangi laut luas. Sayangnya gak ada yang bisa kami tanyakan mengenai sejarah Pura Mobil itu sendiri. Lanjut, beberapa meter dari Pura Mobil, kami ke Kelingking Point atau Old Manta Point. Pemandangan yang breathtaking dan super private beach. Saya ngeliat kebawah aja sepertinya gak mungkin bisa turun, ternyata adiknya mbak Komang ini sudah 4 (empat) kali turun kebawah sana bersama teman-temannya. Edan!

10.30 setelah memuaskan mata melihat keindahan Kelingking Point, kami melanjutkan perjalanan ke Pasih Uug dan Angel’s Billabong. Jalanannya kacau, panas, berdebu, kering, dan hah duduk di jok motor saja sampe sakit. Beginilah, keindahan alam yang belum terjamah oleh banyak orang dan wisatawan mancanegara. Pemerintah Klungkung seakan tutup mata tutup telinga dengan rusaknya infrastruktur di Nusa Penida (yak, malah curhat). Oke di Pasih Uug ini nama terkenalnya adalah Broken Beach dan yang buat fenomenal adalah adanya tebing yang berlubang dan di atasnya masih bisa dilalui oleh motor. Warna laut yang bergradasi dengan apik serta semburan air laut yang menerpa tebing. Sungguh indah melihatnya!

Pasih Uug

Nah, di samping Pasih Uug kita bisa berjalan menuju Angel’s Billabong. Jalannya penuh karang, bisa dipastikan dahulu air lautnya setinggi dimana kami berjalan. Angel’s Billabong merupakan tempat antara karang besar dan didepannya adalah palung yang cukup dalam. Di tengah-tengah Angel’s Billabong kita dapat berendam disana. Tapi tetap hati-hati karena karang yang lumayan tajam dan licin.

11.30 Perjalanan dilanjutkan ke daerah Batu Madeg tepatnya menuju ke Telaga Temeling. Kalau tanpa guide yang asli orang sana, sepertinya kami akan nyasar, atau nggak cuman main tempat yang mainstream. Menuju ke Telaga Temeling, kami merasakan hal yang berbeda, rumah-rumah di daerah Batu Madeg begitu berdekatan. Lain halnya dengan daerah-daerah yang lain. Menurut saya malah daerah Batu Madeg ini seperti daerah Bunga Mekar dimana menjadi daerah percontohan dengan jalan yang bagus dan berkembang. Banyak pula yang menjadikan daerah ini sebagai tempat KKN teman-teman dari Universitas Udayana dan Universitas lainnya di Bali. Kami tidak membayangkan Telaga Temeling itu seperti apa dan bagaimana karena hanya dikatakan tempat pemandian suci. Nyatanya, ketika kami memasuki jalan yang bertuliskan “Telaga Temeling”, jalanannya berkavling dan menurun. Menurun banget. Heeuuu.. Shock therapy siang-siang bolong. Di sebelah kiri ada tanda berangka yang menerangkan kita akan turun sepanjang 10 km. Saya selaku penumpang menghitung mengikuti tanda tersebut.

Delapan kilo, tujuh kilo, enam kilo, kami disuguhi hutan tebing terjal di sebelah kanan kami, di poin dua kilo kami diberhentikan oleh pekerja pembuat jalan kavling untuk membayar sumbangan pembangunan jalan sebesar Rp 5.000/orang. Lalu tak jauh dari poin tersebut kami memutuskan untuk memarkirkan motor kami. Karena jalannya kembali sangat menurun, kami memikirkan kalo kami teruskan motor kami kebawah, naiknya nanti susah. Akhirnya kami berjalan kaki menuju ke tempat pemandian. Harapan kami dengan hitungan sekilo lagi tidak akan jauh berjalan.

Nyatanyaaaaaa.. kami turun gak nyampe-nyampe. Hahaha… Mana tangganya tinggi-tinggi pula. Dengan ngos-ngosan, pemandiannya akhirnya terlihat. Pemandian dengan pemandangan hutan tebing terjal dan pantai berpasir putih. Pemandian paling atas untuk laki-laki dan pemandian dibawah dekat dengan pantai untuk perempuan. Pemandian untuk laki-laki lebih luas dibandingkan dengan yang perempuan. Kami dari awal memang tidak ingin mandi, hanya ingin menikmati pemandangan disekelilingnya. Batu-batu besar berserakan di pantai tersebut. Kami beristirahat sejenak sambil mengumpulkan tenaga dan wondering bagaimana caranya naik tapi gak pake capek. Haha.. Adiknya mbak Komang udah ngilang dari pandangan, sepertinya dia mandi, kami berfoto-foto saja dan duduk manis di batu besar.

This slideshow requires JavaScript.

Setengah jam sepertinya cukup bagi kami untuk beristirahat dan bersiap untuk mencari makan siang. Kami naik dengan penuh perjuangan dan sambil berdoa kencang-kencang dalam hati agar dilancarkan sampai keluar dari Telaga Temeling. Kind of lebay, but trust me, it’s a bit frightening for me because of the path. Tak jauh dari daerah Batu Madeg yaitu di Penutuk, ada tempat makan yang jadi andalan adiknya mbak Komang karena dekat dengan sekolahnya. Namanya “Warung Pak De”, menjual soto ayam, nasi goreng, dan bakso ayam. Karena rasa lapar yang membuncah dan sudah menunjukkan pukul 2 siang, saya memesan soto ayam, kakak dan mama saya memesan nasi goreng. Tak disangka, kami ketagihan. Haha.. Kakak saya sampai memesan 2 nasi goreng dan dimakan bersama.

15.00 Perut kenyang hati senang tenaga kembali. Kami melanjutkan perjalanan menuju Pantai Crystal Bay. Tempat terakhir yang kami kunjungi. Menuju ke pantai ini sama seperti yang lain, ada banyak bolong-bolongnya namun jalanannya lumayan cukup besar. Pantai yang dekat dengan Pelabuhan Toyapakeh ini adalah pantai yang turis banget. Ada 2 penginapan besar yang dibangun di daerah Pantai ini. Yang membuat menarik adalah ketika kami menuruni jalan besar menuju pantai, kami disuguhi banyaknya pohon kelapa.

Sampai di Pantai, saya dan mama saya menikmati pemandangan di warung dekat sana, sementara kakak saya mandi di pantai. Keinginan kami adalah menikmati sunset di pantai tersebut, namun kalau kita menghabiskan waktu disana, kemungkinan besar kami akan pulang menuju rumah Mbak Komang dalam keadaan gelap gulita dengan jalan yang tidak beraturan itu. Kita memutuskan menikmati sunset di jalan. Tidak rugi, sunset terlihat jelas karena kita menaiki bukit dan arahnya ke barat.

Crystal Bay

18.30 Kami sampai di Desa Penangkidan, rumah Mbak Komang. Kami membersihkan badan dan makan malam. Menikmati bintang-bintang yang banyak sekali sambil berbincang-bincang dengan keluarga disana.

Keesokan harinya, kami bersiap menuju ke Pelabuhan Toyapakeh untuk menyeberang ke Jembatan Kuning Nusa Ceningan.

Foto dengan Basecamp

Perjalanan di Nusa Penida telah usai. Satu hari tanpa henti menuju ke 4 (empat) tempat dengan keadaan jalan yang super rusak itu benar-benar pengalaman yang tidak terlupakan bagi kami. Dengan adanya guide yang mengantarkan kami selama disana membuat perjalanan lebih lancar. Terdapat beberapa hal yang ingin saya sampaikan apabila ingin berkeliling di Nusa Penida, yaitu:

  1. Bawalah minum sebanyak-banyaknya. Gersang dan Panasnya bukan main. Jarang ada warung dan tempat makan.
  2. Gunakanlah sunblock, jaket tipis, penutup mulut, kacamata hitam, dan pakai sepatu atau sandal gunung.
  3. Bensin di Nusa Penida dihargai 15k/liter. Gunakanlah motor dengan hati-hati, karena tidak ada helm dan jalanannya yang tidak bersahabat. Kalau yang tidak terbiasa dengan jalanan tersebut biasanya after effectnya semua badan pegal-pegal.
  4. Kalau ada Guide yang mau mengantarkan itu lebih bagus lagi. Kalau dilihat di peta, sepertinya kita bisa berkeliling ke seluruh tempat tersebut. Sayangnya tidak seperti itu, karena kontur di Nusa Penida berbukit-bukit, jalan yang disediakan lebih banyak memutar dan out of nowhere. Sinyal paling banter adalah Telkomsel dengan sinyal internet adalah EDGE.
  5. Masjid atau musholla hanya terdapat di daerah Sampalan karena di daerah sana banyak pendatang dari Lombok untuk berjualan.

Nusa Penida sudah mulai berkembang layaknya Nusa Lembongan, namun pemerintahnya masih menutup mata untuk perbaikan infrastruktur kedua Nusa tersebut. Infrastruktur hanya diperbaiki ketika hangat-hangatnya pemilu daerah. Warga sendiri harapannya infrastruktur dapat diperbaiki secara berkala, air bersih selalu tersedia, marka jalan dan tanda jalan diperbanyak, serta agar dapat saling menjaga keutuhan alam yang ada di Nusa Penida. Semoga harapan ini dapat di dengar dengan baik bukan menjadikannya sebagai bahan pengembangan bisnis perseorangan. Aamiin.

 

Next Post lanjutan saya dan keluarga saya main ke Nusa Lembongan. Mari…

Advertisements

Trip: Museum Le Mayeur, Bali

Matahari semakin terik ketika saya memutuskan untuk mendatangi Museum Le Mayeur yang berada tidak jauh dari rumah tinggal saya. Lokasinya berada tepat di areal Pantai Sanur, Bali. Jika ingin mengunjungi Museum ini, jarak yang paling dekat untuk menuju tempat ini adalah melalui belakang hotel Sanur Paradise Plaza atau orang-orang sering mengatakan tempat makan mak beng (tempat makan seafood ala Bali).

Untuk menuju ke Museumnya harus dengan berjalan kaki karena masih di areal pantai, maka mobil dan motor harus diparkirkan sesuai dengan lokasi yang sudah ditentukan. Sayangnya, semakin sore menuju ke pantai tersebut, semakin banyak kendaraan yang parkir. Contohnya saya ketika mau menggunakan jalan tercepat menuju Museum tersebut, parkir penuh. Akhirnya saya harus menuju jalan satunya lagi yang lebih jauh ditempuh.

Saya sudah wanti-wanti ketika menuju ke Museum La Mayeur. Takut tutup karena waktu itu saya bertandang pada hari Minggu. Tahu kan ya, gak semua Museum di Indonesia mengetahui liburnya Museum itu hari Senin dan bukan hari Minggu, saya beberapa kali bertandang ke Museum yang tutup di Hari Minggu. Hehehe.. Tapi untung saja, Museum La Mayeur buka setiap hari kecual hari libur Nasional. Fiuh.. perjalanan panjang saya tidak sia-sia. Tiket masuknya pun murah meriah, untuk warga Indonesia di patok harga 5.000 rupiah untuk dewasa dan 2.000 rupiah untuk anak-anak.

Biaya dan Jam Museum

Ketika saya memasuki pintu masuk Museum La Mayeur, saya melihat Rumah. Rumah model Bali yang dijadikan Museum. Saya suka ukiran temboknya dan monumen untuk mengenang pemilik rumah yang tertata baik.

Pemilik rumah ini adalah Le Mayeur dan Ni Pollok. Le Mayeur merupakan pelukis berkebangsaan Belgia, dan Ni Pollok merupakan warga asli Bali. Le Mayeur memulai kehidupannya di Bali pada tahun 1932 dan bertemu Ni Pollok yang sampai akhir hayatnya menjadi model untuk lukisannya. Le Mayeur menjadi pelukis terkenal di Indonesia maupun di luar negeri. Pada tahun 1956, Menteri Pendidikan memutuskan untuk menjadikan rumahnya Museum dan disetujui dengan senang hati oleh Le Mayeur dan keluarga. Akhirnya pada tahun 1957, Museum Le Mayeur resmi dibuka dan menjadi hak milik Pemerintah Indonesia.

Museum Le Mayeur merupakan museum yang berisi lukisan-lukisan karya Le Mayeur. Lukisannya rata-rata bertema pemandangan dan kehidupan sehari-hari dengan model wanita yang tak lain tak bukan adalah Ni Pollok. Sekilas saya memerthatikan informasi mengenai lukisan La Mayeur adalah pada tahun 1937, Beliau melukis menggunakan kapur warna diatas kertas. Pada tahun 1942, Beliau melukis diatas bagor (tempat beras). Lukisan diatas bagor ini yang menyedot perhatian saya dan menurut saya yang paling bagus, karena belum pernah saya lihat. Warnanya penuh dan semi-abstrak menurut saya. Kebanyakan lukisan Le Mayeur yang dipajang tidak yang asli, alasannya karena lokasi Museum berdekatan dengan Pantai dan angin pantai kurang bagus untuk beberapa jenis barang. Oiya, bagus tidaknya lukisan berdasarkan orang awam seperti saya ini ya, yang pasti ada pendapat lain ketika dinilai oleh para pelukis atau orang yang bergerak di bidang seni. Hehe..

Art Gallery Ni Pollok

Pada tiap ruangan tertulis bahwa tidak boleh mengambil foto mengenai lukisan yang dipajang. Untuk menghormatinya, saya memang tidak mengambil foto untuk lukisannya, saya hanya mengambil foto mengenai penjelasan di tiap ruangannya. Museum Le Mayeur memiliki empat ruangan, tempat pencanangan, dan art gallery. Menurut saya, Museum Le Mayeur cukup sederhana dan gampang untuk dicerna antara informasi dan lukisannya.


Museum terdekat lainnya ada di area Renon yaitu di Lapangan Niti Mandala Renon, namanya adalah Museum Perjuangan Rakyat Bali, lokasinya tepat di dalam Monumen Bajra Sandi. Tutup pada hari Minggu (ingat.. ingat).

Ketika saya mencari di internet mengenai museum di Bali, ternyata banyak sekali. Rata-rata Museum mengenai lukisan. Paling banyak berada di area Ubud dan Kabupaten Gianyar.

Semoga saja saya bisa satu satu mengunjungi Museum yang ada di Bali. Pelan-pelan saja..

Have a Nice Day!

Saya Sudah Pernah ke Inggris

Yak, dari judulnya saja sudah bisa dipastikan kalau saya benar-benar pernah ke Inggris. Belum percaya dan masih meragukan? Ini saya kasih fotonya biar teman-teman gak penasaran dan berpikiran yang macam-macam. :p

Family Trip
Family Trip

Sudah lihat kan? Itu foto diambil di depan gerbang Buckingham Palace. Keren banget ya! Trus saya yang mana, sudah tahu?! Itu tuh yang digendong Ibu saya, pake jaket setebal-tebal alaihim. -___-“ iya itu saya masih kecil, umur belum setahun.

Kalau dikasih pertanyaan gimana rasanya disana… ermm..

 Saya GAK TAHU.

*terus gak jadi nyombongin diri*

Yah.. Gimana lah saya bisa ngerasain disana itu kayak gimana, makanannya kayak apa, cuacanya asik atau gak. Manggil Ibu dan Ayah saja masih “aa uu eee”. Pada saat sudah cukup besar, cuman bisa ngerasain lewat foto-fotonya aja. Sambil mupeng tingkat dewa. *miris*

Sedari SD sampe sekarang saya sudah punya obsesi buat keliling Negara 4 musim, awalnya pengen ke Amerika terlebih dahulu, banyak yang ingin saya lakukan disana. Ketika saya sudah tahu Internet, mulai cari-cari informasi tentang Amerika dan Negara-Negara di sekitarnya. Tapi pas masa-masa kuliah, dua tiga teman saya dapat kesempatan buat pertukaran mahasiswa ke daerah di Benua Eropa. Mendengarkan cerita-cerita mereka tentang budaya nya, orang-orang nya, kulinernya, jadi pengen menjelajah Benua Eropa. Selain itu beberapa kali melihat acara di National Geographic tentang kuliner di Eropa, makin makin makin tambah pengen lagi. Aaah.. Rasanya pengen punya alatnya Doraemon buat ngambil makanan-makanan yang disuguhin di televisi. 🙂

Pada saat saya melihat timeline di Twitter, ada yang lagi rame membicarakan kegiatan “Inggris Gratis” bersama salah satu snack yang terkenal di Indonesia. Mungkin ini salah satu cara saya untuk menjelajah Inggris untuk kedua kalinya. Saya tahu Inggris hanya dari foto waktu saya kecil, postcard, ensiklopedia, teman-teman yang pernah dan tinggal disana, film-film serta melalui televisi. Ketika saya browsing di internet dan melihat apa saja yang disuguhkan di Inggris, terutama di kota London adalah terdapat 170 museum yang tersebar di sana dan 3 diantaranya masuk menjadi museum terbaik di dunia. Selain itu banyaknya toko buku yang berjajar disepanjang jalan London rasanya akan menyuguhkan pemandangan yang sangat berbeda dari yang biasa saya lihat. Wah, bisa membayangkan apa saja yang akan saya lakukan disana.

Menurut saya, hampir semua tempat di Inggris mempunyai kenangan tersendiri di tiap orang yang berkunjung kesana. Entah itu di daerah pedesaannya, sub urban, atau kota padatnya sekalipun. Pasti ada spot yang menjadi kenangan. Saya ingin menjadi salah satu orang tersebut.

Saya Jatuh Hati, Iya.

Saya berkeinginan ke Inggris, Sangat.

Rasanya ingin kembali ke sana dengan mata, raga, dan pikiran yang jauh lebih siap untuk diajak merasakan seperti apa sih kehebatan Inggris saat ini dan tempat-tempat wisata yang ada disana. Saya baca-baca katanya bakal berangkat pas autumn dan bakal ketempat-tempat yang lagi happening serta berbudaya kental. Hmm..

Coba itu yang katanya snack terkenal di Indonesia, Mister Potato, bisa gak ngajakin saya kesana?

Dream in my Hand
Dream in my Hand

*langsung sungkem*

Have a Nice Day!

Event: MAESTRO, Gelar Karya Seni Rupa

Bulan Desember ini, Yogyakarta mempunyai banyak agenda kegiatan yang berhubungan dengan kesenian. Agenda yang saya tahu bulan Desember ini adalah 7th Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF), Festival Film Indonesia, Sekaten di Alun-Alun Utara, dan bermacam-macam gelar karya seni rupa di beberapa art gallery atau museum. Ketika saya selesai menonton JAFF di Societet,Taman Budaya Yogyakarta, saya melihat di gedung utama ada acara yang menarik yaitu gelar karya seni rupa MAESTRO. Setelah saya melihat lebih dekat, ternyata di pamerkan karya 10 perupa yang sangat berpengaruh di Indonesia. Siapa saja mereka?

  1. Affandi (Pelukis) karya Beliau bisa di lihat di Museum Affandi, Jl. Solo, Yogyakarta.
  2. Amri Yahya (Pelukis) karya Beliau bisa di lihat di Amri Art Gallery, Jl. Amri Yahya, Yogyakarta.
  3. Edhi Sunarso (Pematung) pembuat patung monumen selamat datang di Bundaran HI
  4. Fadjar Sidik (Pelukis) mengembangkan corak lukisan abstrak yang khas dengan menciptakan genre Dinamika Keruangan.
  5. Gregorius Sidharta (Pematung, Pelukis) “Tonggak Samudra”, monumen Pelabuhan Peti Kemas di daerah Tanjung Priok, “Garuda Pancasila” di atas podium Gedung MPR/DPR.
  6. Hendra Gunawan (Pelukis, Pematung) selain melukis, Beliau juga membuat patung Jendral Sudirman yang berada di gedug DPRD Yogyakarta.
  7. Hendrodjasmoro (Pelukis, Pematung) selain melukis sketsa, Beliau juga membuat patung Ki Hadjar Dewantoro di Pendopo Taman Siswa Yogyakarta, patung perunggu Jenderal Urip Sumohardjo di AKABRI Magelang, dan patung Jenderal Sudirman di Hankam, Jakarta.
  8. Rusli (Pelukis) menekuni bidang seni lukis murni, seni patung mural/relief, terakota, arsitektur dan filsafat kesenian timur mashab shantineketan.
  9. Sindudarsono Sudjojono (Pelukis) objek lukisannya lebih menonjol pada pemandangan alam, sosok manusia, serta suasana.
  10. Widayat (Pelukis) ciptaan artistiknya sering dianggap sebagai penganut dekora-magis. Sebuah aliran seni yang menyandarkan pada dekoratifisme. Memiliki Museum yang bernama Museum Haji Widayat, Magelang.

All data taken from tamanismailmarzuki.com

Dari ke 10 perupa Maestro, yang datang ke acara ini dan masih berpartisipasi aktif dalam dunia seni adalah Bapak Edhi Sunarso. Baru Affandi yang pernah saya lihat karya-karya Beliau, maka dari itu saya berniat untuk melihat acara ini.

Saya dengan percaya diri hanya menggunakan kaos dan jeans duduk manis di tempat duduk yang telah di sediakan. Saya melihat sekeliling hampir rata-rata menggunakan batik dan baju resmi. Acaranya benar-benar formal. Wah salah kostum nih, pikir saya. Alhasil saya berpindah tempat duduk yang sebelumnya di dekat tamu undangan menjadi di paling belakang. (-__-“) Ternyata acara pembukaan ini di datangi oleh keluarga 10 perupa dan beberapa tamu penting dari pemerintah Yogyakarta.

Event Maestro berlangsung dari tanggal 02 Desember hingga 11 Desember 2012. Dari jam 10.00 hingga 21.00. Kuratornya adalah Bapak Suwarno Wisetrotomo dan Bapak Anusapati. Inti dari acara ini adalah memperlihatkan jejak pencapaian para 10 Maestro seni rupa di Indonesia. Sayangnya katalognya belum jadi dari awal pembukaan sampai tanggal 5 kemarin. Semoga saja hari ini sudah ada. 🙂 Dibawah ini ada beberapa karya yang berhasil di abadikan di kamera.

ENJOY!

Event: Train Music Orchestra

Berawal dari melihat situs web disalah satu ruangan kampus, saya terkesan akan acara orchestra kali ini. Tema acara ini adalah Journey from Indonesian Railways, cerita dalam kereta. Mendengarkan beberapa lagu di soundcloud dan melihat video acaranya di vimeo, membuat saya semakin memantapkan untuk memesan tiket konsernya. Acara ini diadakan pada tanggal 24-25 November 2012 bertempat di Taman Budaya Yogyakarta. Tiket masuknya sebesar IDR 30k. Acara ini mendapatkan hibah dari yayasan KELOLA (Jakarta) untuk proyek hibah seni karya inovatif.

Nama komposernya adalah Gardika Gigih Pradipta, yang merupakan lulusan termuda di Program Studi Komposisi Musik, Jurusan Musik, FSP-ISI Yogyakarta. Gardika pernah berkolaborasi dengan Makoto Nomura dan melakukan komposisi kolaboratif di Rumah Budaya TEMBI. Tim orchestra berasal dari ISI Yogyakarta dan soloist biola adalah Eya Grimonia. Eya pernah berduet dengan beberapa penyanyi dan pemusik Indonesia seperti Vina Panduwinata, Elfa’s Singer, Padi, Sherina, Ruth Sahanaya, dan Idris Sadri.

Acara ini menyuguhkan delapan lagu, seperti cerita dalam perlintasan kereta, keretamu berlalu dan hujan pun turun, hujan dan pertemuan, percakapan dalam kereta malam, kereta dan perjalanan impian, kita kan naik kereta yang sama, kereta senja, dan my story-sky sailor. Musik yang disuguhkan sederhana dan mengena, selain itu musik yang dimainkan menurut saya, membawa kita ke angkasa bersama kereta (haiish.. ;-p) malah saya mengira lagu ini lebih cocok untuk ending game-game petualangan. Saya suka yang berjudul “kita kan naik kereta yang sama” karena cocok sebagai soundtrack of your life-lah. Hihihi..

Ini saya merekam beberapa lagu yang dipentaskan.. Enjoy!

Kalau mau lihat webnya ada disini

The Little Things in Jakarta

They walking along the road in Cempaka Putih

They using traditional instruments

Two of them wearing Ondel-Ondel dolls, Woman and Man

They earn a living from there

Initially, Ondel-Ondel serves as repellent “bala” or disorder refined spirit. Currently Ondel-Ondel is usually used to add vibrant folk festivals, parties or to welcoming guests of honor, for example in building inauguration which completed built (from Wikipedia)

This slideshow requires JavaScript.