Trip: Air Terjun Aling-Aling

Berwisata di Pulau Dewata tak hanya sekedar keindahan Pantai dan luasnya Sawah yang berundak-undak, namun keindahan wisata Air Terjun tidak kalah menarik. Terdapat lebih dari 20 tempat wisata Air Terjun di seluruh Pulau Bali. Salah satunya yang akan kita bahas adalah Air Terjun Aling Aling.

Air Terjun Aling-Aling berada di Jl. Raya Desa Sambangan, Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali. Waktu tempuh dari Bandara I Gusti Ngurah Rai sekitar 3-4 jam perjalanan. Lokasinya cukup dekat dengan pusat kota Singaraja. Air Terjun Aling-Aling menjadi salah satu destinasi wisata setelah Air Terjun Sekumpul. Dengan merogoh kocek sebesar Rp 10.000 tanpa pemandu atau Rp 100.000 dengan pemandu, kita akan disuguhi pemandangan yang menyejukkan mata. Bagaimana tidak, dengan banyaknya pepohonan hijau diantara tebing-tebing tinggi dan suara-suara serangga yang saling bersahut-sahutan serta suara air yang begitu deras membuat suasana menjadi syahdu.

This slideshow requires JavaScript.

Pemandu mengajak kita berkeliling wilayah sekitar Air Terjun Aling-Aling karena dalam satu area terdapat 4 Air Terjun, yaitu Air Terjun Aling-Aling, Air Terjun Kroya, Air Terjun Kembar, dan Air Terjun Pucuk. Tempat pertama kita akan melihat Air Terjun Kroya, Air Terjun ini diperbolehkan untuk melompat dan berenang. Ketika memandangi Air Terjun Kroya, kita akan melihat tulisan yang dipasang di pohon yang isinya “Never Try, Never Know.” “Tunjukkan nyali anda.” “Test your adrenalin.” “Light on your spirit.” Tulisan ini mengajak para pengunjung untuk mencoba merasakan sensasi melompat di Air Terjun tersebut. Tempat kedua kita akan melihat Air Terjun Kembar dan Air Terjun Pucuk. Kedua air terjun tersebut sama seperti Air Terjun  Kroya, diperbolehkan untuk melompat dan berenang. Perbedaannya hanya pada ketinggiannya, Air Terjun Kembar dan Air Terjun Pucuk lebih tinggi dibandingkan Air Terjun Kroya.

Air Terjun Aling-Aling

Setelah menikmati pemandangan dan melihat aksi melompat para wisatawan, pemandu mengajak kita menuju Air Terjun Aling-Aling. Kita membutuhkan waktu 15 menit berjalan dari ketiga Air Terjun tersebut. Ketika menaiki tangga terakhir dan menapaki jalan yang disediakan, suara gemuruh air dan pemandangan tebing tinggi yang menjulang membuat kita lebih semangat berjalan untuk mencari asal suara. Kita akan melihat pemandangan Air Terjun setinggi 35 meter dengan debit air yang tinggi dan cekungan kolam sedalam 4 meter. Pemandu tidak memperbolehkan wisatawan untuk melompat di Air Terjun Aling-Aling, hanya diperbolehkan berendam dan berenang.

Pemandangan yang disuguhkan Air Terjun Aling-Aling, Air Terjun Kroya, Air Terjun Kembar, dan Air Terjun Pucuk, membuat kita menjadi lebih segar dan bisa kembali beraktivitas dengan lebih semangat.

(Tulisan ini juga dipos pada website ngurahrai.ap1.co.id. Segala konten dan gambar sama, karena yang nulis juga sama. Hahaha..)

Have a nice day!

Venue: CafelateO, Bali

Saat ini, ada banyak sekali tempat makan seperti café, fine dining, warung makan, dan restauran di Kota Denpasar dan sekitarnya. Walopun kebanyakan yang punya dari warga Bali sendiri, ada juga yang dari Kota Malang dan Kota Surabaya. Hal ini pun dikarenakan pangsa pasar yang cukup beragam. Tinggal pintar-pintarnya teman-teman memilih tempat makan yang diinginkan. Misalnya, memilih tempat makan yang halal atau yang tidak halal dan kembali lagi sesuai selera masing-masing.

Saya sebenarnya jarang sekali keluar rumah untuk sekedar mencicip tempat makan baru atau yang lama namun belum pernah dicoba. Sejatinya karena jarang ada yang bisa di ajak untuk mencoba tempat baru sih. Haha.. Kalau mengajak Ibu, ada beberapa tempat yang kurang diminati seperti makanan Jepang atau Korea. Padahal ketika itu ada keinginan mencoba makanan tersebut. Alhasil yasudah makan di rumah saja atau menggunakan aplikasi pesan antar makanan. Hahaha…

Oke, lanjut. Singkat cerita pada hari sabtu kemarin saya kedatangan teman saya dari jauh, dia sudah sempat bilang ingin menikmati atau mencicipi tempat makan/café yang ada di Kota Denpasar karena dia sudah cukup sering berkeliling daerah Kuta-Seminyak-Legian. Setelah mengecheck di instagram dan melihat review-review, berlabuhlah kami di pusat Kota Denpasar yaitu di Jalan Gunung Semeru, tepat di belakang Denpasar Cineplex atau dahulu sebutannya Bioskop Wisata. Kita mencari sampai ujung jalan tapi tidak menemukan tempat yang kami tuju, kami putar balik dan ternyata lokasinya tidak terlihat dengan jelas karena ditutupi tembok hitam, hanya seperempatnya saja yang dipugar dijadikan jalan menuju café.

cafelateo
Jl. Gunung Semeru No. 3

Café yang ingin kami datangi bernama CafelateO. Café yang memiliki konsep khusus untuk pecinta greentea dalam bentuk apapun. Mereka meng-claim bahwa greentea dan matcha nya berasal dari Uji, Kyoto dikarenakan tempat tersebut memiliki greentea dan matcha dengan kualitas terbaik.

Jam telah menunjukkan pukul 4 sore dan café sudah siap beroperasi 15 menit kemudian (sambil menunggu, kami makan fried chicken diseberang café). Kami masuk dan memilih tempat di pojokan dekat dengan tulisan berwarna merah kelap kelip bertuliskan “Be Weird” saya tidak tahu sebenernya esensi dengan tulisan tersebut apa tapi kami suka dengan konsep tempat duduknya, ada yang menggunakan kursi dan ada yang lesehan. Kami memilih lesehan karena rasanya lebih bebas saja untuk kaki kami. Beberapa menit kami berbincang, sempat bingung karena waiternya tidak memberikan kami menu. Ternyata oh ternyata, kami harus ke depan kasir untuk pesan makanan dan minumannya. Hahahha..

inside-cafe

Kami kedepan kasir dan melihat ada tulisan dipapan kapur kecil “Single Origin: Uji-Kyoto”, kami melihat menu dan kami memesan Gainmacha Geisha (20k), Classic Affogato (18k), Matcha Latte (21k), Matcha L’Epresso (25k), Ritual (18k), dan Croissant Matcha (18k). Kami cuman berdua dan pesanan kami seperti buat berempat. Haha..

 

This slideshow requires JavaScript.

Kita review ya teman-teman. Untuk Classic Affogato saya suka karena vanilla ice cream nya dari ice cream Diamond, karena ice cream ini dan campuran espresso apapun rasanya nikmat sekali. Matcha L’Epresso sebenarnya enak hanya saja saya lupa menginfokan ke waiter nya untuk memasukkan low sugar saja, alhasil saya seperti minum susu dengan gula yang banyak tanpa terasa matcha ataupun kopinya. Heu heu heu… Untuk Gainmacha Geisha adalah teh sencha, kalau habis bisa gratis refill, rasanya segar sekali dan tidak terlalu pahit, pas dilidah saya. Matcha Latte nya full susu tapi lebih mendingan dibanding L’Epresso nya. Haha.. Croissant Matchanya juga enak dan isi saus greenteanya banyak. Nah, yang menarik di café ini adalah menu Ritual, menu ini mengajarkan kita bagaimana upacara minum teh di Jepang (mengaduk matcha dengan air panas menggunakan chasen atau pengaduk teh berbentuk kuas pendek). Sejatinya sih gak diajarin sama waiter atau pemilik tokonya, hanya saja kita melihat melalui video bagaimana cara mengaduknya. Seru sekali.. Rasanya pun walaupun pahit, tapi segar dan tidak membuat gatal di tenggorokan.

Silahkan bila ingin berkunjung, café buka dari jam 4 sore hingga 11 malam setiap hari. Tempatnya mudah dijangkau dan banyak tempat duduk. Selain greentea, mereka menyajikan menu kopi, cokelat, es seperti kakigori, snack, dan lainnya. Harga terjangkau di kantong. Selamat mencoba!

Happy Hunting!

Trip: Nusa Penida, another story of Bali

Sebenarnya perjalanan ini sudah dilakukan beberapa bulan yang lalu. Waktu itu udah pengen nulis banyak. Eh, ternyata leyeh-leyeh mengalahkan segalanya ya. Hahaha..

Saya mulai saja ceritanya..

Kakak saya datang berlibur selama dua minggu dan saya sengaja banget menyimpan cuti demi nemenin kakak. Perjalanan dimulai pertengahan tahun, awalnya bukan ke Nusa Penida dan sekitarnya. Big plan kakak saya adalah ke daerah Labuan Bajo. Sayang, ketika hitung-hitungan terjadi, banyak dana yang akan terkuras. Lalu saya memberikan opsi di sekitar Bali atau di daerah Jawa Timur. Kakak saya memutuskan untuk menjelajah daerah Bali saja dan yang belum pernah di jamah. Eng ing eng, dipilihlah Nusa Penida dan Nusa Lembongan. Dengan mantapnya kakak saya meminta saya dengan polosnya untuk buat itinerary. Cakep banget dah!

Hanya bermodal narasumber yaitu mbak Komang yang tak lain tak bukan adalah asli warga Nusa Penida  dan merupakan asisten rumah tangga di keluarga saya. Serta, cek sedetail mungkin di internet, dari peta nya, dari instagram, dan dari blog untuk jam keberangkatan boat (Nusa Lembongan). Waktu yang diminta untuk melakukan trip adalah 3 hari 2 malam dengan rute Nusa Penida lalu ke Nusa Lembongan.

Ada banyak tempat yang dapat kita kunjungi di Nusa Penida. Pulau kecil di timur Pulau Bali ini lebih terkenal untuk snorkeling dan diving. Tapi, bagian di daratnya gak kalah lho, seperti:

  1. Pura Dalam Ped: Bagi umat Hindu, Pura ini adalah salah satu tempat yang perlu dikunjungi untuk bersembahyang, untuk wisatawan bisa melihat ritual keagamaan disana.
  2. Goa Giri Putri: Tempat persembahyangan yang ada di dalam goa. Kata mbak Komang, masuk ke goanya sempit banget namun ketika sudah masuk, didalamnya luas sekali. Terletak di daerah Karang Sari.
  3. Pura Mobil: Tempat persembahyangan di dekat Desa Penangkidan, kenapa namanya pura mobil? Karena di dalam Pura tersebut ada 2 patung berbentuk mobil. Konon, ada penjajah yang meninggal di dalam mobil, warga setempat membuang mobil tersebut ke laut namun tak lama kemudian mobil tersebut kembali lagi. Warga akhirnya memutuskan tempat kembalinya mobil tersebut dijadikan tempat persembahyangan.
  4. Puncak Mundi: Pura yang paling tinggi di Nusa Penida karena berada di atas bukit. Bila berkunjung ke Puncak Mundi, kalian bisa melihat Gn. Agung dan Pulau Bali jauh lebih jelas.
  5. Pantai Atuh: Pantai yang lagi nge-hits di beberapa IGers Bali. Terletak di daerah Suana, pantai yang belum terjamah oleh banyak orang. Saking belum terjamahnya, perjalanan bisa menghabiskan waktu 2 jam. Haha..
  6. Kelingking Point / Old Manta Point: Pantai yang super private karena kalau mau kesana harus turun dari tebing yang sangat terjal. Lokasinya tak jauh dari Pura Mobil. Guess what? Pemandangannya gak kalah sama yang di Papua sana. So breathtaking! Too beautiful.
  7. Pasih Uug dan Angel’s Billabong: Sebelum pantai Atuh nge-hits, kedua tempat ini masih jadi primadona karena lokasinya lumayan dekat dengan pelabuhan Toyapakeh.
  8. Telaga Temeling: Tempat pemandian suci yang terletak di daerah Batu Madeg. Menuju ke tempat pemandiannya, harus berjalan turun..turun banget yang banyak tangganya dan fiuh menguras tenaga. Turun aja menguras tenaga, apalagi naik. Tapi, gak ada yang sia-sia dari perjalanan naik turunnya. Bagus banget pemandangannya. Gak pengen balik. Sampe wondering, ini kagak ada lift macam di karma kandara apa ya. Hahaha..
  9. Pantai Crystal Bay: Pantai yang berlokasi dekat sekali dengan pelabuhan Toyapakeh. Pantai yang saya bilang sangat bule dan (imho) biasa aja. Memang sih modelnya pantai banget yang bisa buat berjemur-jemur cantik, main air laut, dan menikmati pantai seperti biasanya.

Nusa Penida Map

Dari kesembilan tempat yang perlu dikunjungi, saya hanya bisa mendapatkan 4 (empat) tempat saja. Saya jabarkan sekalian dengan itinerary nya yaa.. Disini saya dan kakak mengajak mama untuk ikut serta. Tung itung quality time sama anak laki nya yang setahun sekali baru bisa balik ke Bali. Kalo papa mah jaga kandang di rumah aja. Hehehe…

Day 1 ( Nusa Penida):

06.30 kita sudah standby di Sanur untuk membeli tiket fast boat ke Nusa Penida, kalau tidak musim pulang kampung, lebih baik beli on the spot. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 30 menit. Pastikan pakaian teman-teman biasa aja dan siap basah. Rugi pake yang cantik-ganteng pas naik boat, karena masuk ke tepi laut. Kecuali kalo mau di gendong sama anak buah boat. Haha..  Harga: 75k untuk lokal, 250k untuk bule.

07.00 sampai di Pelabuhan Toyapakeh dan menunggu adik mbak Komang untuk menjemput serta menjadi guide kita selama di Nusa Penida. Disekitar pelabuhan ini kita bisa menyewa mobil atau motor untuk berkeliling. Untuk Motor merogoh kocek 50k kalau mobil saya lupa harganya. Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, penyewaan motor di Nusa Penida dan Nusa Lembongan tidak ada helm. Jadi gunakanlah kendaraan dengan hati-hati. Tipikal warga di Nusa Penida kalau naik motor memang kencang-kencang, tapi kita gak usah ngikutin lah ya. Mereka kan sudah biasa. Kalau pakai mobil harus jauh lebih hati-hati karena jalanannya tidak seperti di Pulau Bali. Jalanan di sini sempit dan berlubang-lubang.

07.00 kami menggunakan 2 motor menuju ke Desa Penangkidan, dimana kami akan menginap satu malam di rumah keluarga mbak Komang. Sejatinya perjalanan dari pelabuhan Toyapakeh ke Desa ini cukup 45 menit, namun karena jalanan penuh lobang, berbatu, naik turun, samping jurang, alhasil memakan waktu 1 jam 30 menit. Bayangkan lah pemirsa..

 

08.30 di rumah keluarga mbak Komang kami disuguhi makanan yang sederhana tapi rasanya enak sekali. Apa karena hasil perjalanan pertama yang bikin deg-deg an. Haha.. Akibat perjalanan tadi, saya dan kakak saya sudah bisa membayangkan bagaimana perjalanan selanjutnya dan memutuskan (dari saran adiknya mbak Komang juga) seharian ini ke 4 (empat) tempat saja dan waktu selesai perjalanan diperkirakan sampai maghrib.

09.30 memulai tempat pertama, yang terdekat dari Desa Penangkidan, yaitu Pura Mobil dan Kelingking Point. Didalam Pura Mobil kami seperti orang kebanyakan, berfoto-foto sambil memandangi laut luas. Sayangnya gak ada yang bisa kami tanyakan mengenai sejarah Pura Mobil itu sendiri. Lanjut, beberapa meter dari Pura Mobil, kami ke Kelingking Point atau Old Manta Point. Pemandangan yang breathtaking dan super private beach. Saya ngeliat kebawah aja sepertinya gak mungkin bisa turun, ternyata adiknya mbak Komang ini sudah 4 (empat) kali turun kebawah sana bersama teman-temannya. Edan!

10.30 setelah memuaskan mata melihat keindahan Kelingking Point, kami melanjutkan perjalanan ke Pasih Uug dan Angel’s Billabong. Jalanannya kacau, panas, berdebu, kering, dan hah duduk di jok motor saja sampe sakit. Beginilah, keindahan alam yang belum terjamah oleh banyak orang dan wisatawan mancanegara. Pemerintah Klungkung seakan tutup mata tutup telinga dengan rusaknya infrastruktur di Nusa Penida (yak, malah curhat). Oke di Pasih Uug ini nama terkenalnya adalah Broken Beach dan yang buat fenomenal adalah adanya tebing yang berlubang dan di atasnya masih bisa dilalui oleh motor. Warna laut yang bergradasi dengan apik serta semburan air laut yang menerpa tebing. Sungguh indah melihatnya!

Pasih Uug

Nah, di samping Pasih Uug kita bisa berjalan menuju Angel’s Billabong. Jalannya penuh karang, bisa dipastikan dahulu air lautnya setinggi dimana kami berjalan. Angel’s Billabong merupakan tempat antara karang besar dan didepannya adalah palung yang cukup dalam. Di tengah-tengah Angel’s Billabong kita dapat berendam disana. Tapi tetap hati-hati karena karang yang lumayan tajam dan licin.

11.30 Perjalanan dilanjutkan ke daerah Batu Madeg tepatnya menuju ke Telaga Temeling. Kalau tanpa guide yang asli orang sana, sepertinya kami akan nyasar, atau nggak cuman main tempat yang mainstream. Menuju ke Telaga Temeling, kami merasakan hal yang berbeda, rumah-rumah di daerah Batu Madeg begitu berdekatan. Lain halnya dengan daerah-daerah yang lain. Menurut saya malah daerah Batu Madeg ini seperti daerah Bunga Mekar dimana menjadi daerah percontohan dengan jalan yang bagus dan berkembang. Banyak pula yang menjadikan daerah ini sebagai tempat KKN teman-teman dari Universitas Udayana dan Universitas lainnya di Bali. Kami tidak membayangkan Telaga Temeling itu seperti apa dan bagaimana karena hanya dikatakan tempat pemandian suci. Nyatanya, ketika kami memasuki jalan yang bertuliskan “Telaga Temeling”, jalanannya berkavling dan menurun. Menurun banget. Heeuuu.. Shock therapy siang-siang bolong. Di sebelah kiri ada tanda berangka yang menerangkan kita akan turun sepanjang 10 km. Saya selaku penumpang menghitung mengikuti tanda tersebut.

Delapan kilo, tujuh kilo, enam kilo, kami disuguhi hutan tebing terjal di sebelah kanan kami, di poin dua kilo kami diberhentikan oleh pekerja pembuat jalan kavling untuk membayar sumbangan pembangunan jalan sebesar Rp 5.000/orang. Lalu tak jauh dari poin tersebut kami memutuskan untuk memarkirkan motor kami. Karena jalannya kembali sangat menurun, kami memikirkan kalo kami teruskan motor kami kebawah, naiknya nanti susah. Akhirnya kami berjalan kaki menuju ke tempat pemandian. Harapan kami dengan hitungan sekilo lagi tidak akan jauh berjalan.

Nyatanyaaaaaa.. kami turun gak nyampe-nyampe. Hahaha… Mana tangganya tinggi-tinggi pula. Dengan ngos-ngosan, pemandiannya akhirnya terlihat. Pemandian dengan pemandangan hutan tebing terjal dan pantai berpasir putih. Pemandian paling atas untuk laki-laki dan pemandian dibawah dekat dengan pantai untuk perempuan. Pemandian untuk laki-laki lebih luas dibandingkan dengan yang perempuan. Kami dari awal memang tidak ingin mandi, hanya ingin menikmati pemandangan disekelilingnya. Batu-batu besar berserakan di pantai tersebut. Kami beristirahat sejenak sambil mengumpulkan tenaga dan wondering bagaimana caranya naik tapi gak pake capek. Haha.. Adiknya mbak Komang udah ngilang dari pandangan, sepertinya dia mandi, kami berfoto-foto saja dan duduk manis di batu besar.

This slideshow requires JavaScript.

Setengah jam sepertinya cukup bagi kami untuk beristirahat dan bersiap untuk mencari makan siang. Kami naik dengan penuh perjuangan dan sambil berdoa kencang-kencang dalam hati agar dilancarkan sampai keluar dari Telaga Temeling. Kind of lebay, but trust me, it’s a bit frightening for me because of the path. Tak jauh dari daerah Batu Madeg yaitu di Penutuk, ada tempat makan yang jadi andalan adiknya mbak Komang karena dekat dengan sekolahnya. Namanya “Warung Pak De”, menjual soto ayam, nasi goreng, dan bakso ayam. Karena rasa lapar yang membuncah dan sudah menunjukkan pukul 2 siang, saya memesan soto ayam, kakak dan mama saya memesan nasi goreng. Tak disangka, kami ketagihan. Haha.. Kakak saya sampai memesan 2 nasi goreng dan dimakan bersama.

15.00 Perut kenyang hati senang tenaga kembali. Kami melanjutkan perjalanan menuju Pantai Crystal Bay. Tempat terakhir yang kami kunjungi. Menuju ke pantai ini sama seperti yang lain, ada banyak bolong-bolongnya namun jalanannya lumayan cukup besar. Pantai yang dekat dengan Pelabuhan Toyapakeh ini adalah pantai yang turis banget. Ada 2 penginapan besar yang dibangun di daerah Pantai ini. Yang membuat menarik adalah ketika kami menuruni jalan besar menuju pantai, kami disuguhi banyaknya pohon kelapa.

Sampai di Pantai, saya dan mama saya menikmati pemandangan di warung dekat sana, sementara kakak saya mandi di pantai. Keinginan kami adalah menikmati sunset di pantai tersebut, namun kalau kita menghabiskan waktu disana, kemungkinan besar kami akan pulang menuju rumah Mbak Komang dalam keadaan gelap gulita dengan jalan yang tidak beraturan itu. Kita memutuskan menikmati sunset di jalan. Tidak rugi, sunset terlihat jelas karena kita menaiki bukit dan arahnya ke barat.

Crystal Bay

18.30 Kami sampai di Desa Penangkidan, rumah Mbak Komang. Kami membersihkan badan dan makan malam. Menikmati bintang-bintang yang banyak sekali sambil berbincang-bincang dengan keluarga disana.

Keesokan harinya, kami bersiap menuju ke Pelabuhan Toyapakeh untuk menyeberang ke Jembatan Kuning Nusa Ceningan.

Foto dengan Basecamp

Perjalanan di Nusa Penida telah usai. Satu hari tanpa henti menuju ke 4 (empat) tempat dengan keadaan jalan yang super rusak itu benar-benar pengalaman yang tidak terlupakan bagi kami. Dengan adanya guide yang mengantarkan kami selama disana membuat perjalanan lebih lancar. Terdapat beberapa hal yang ingin saya sampaikan apabila ingin berkeliling di Nusa Penida, yaitu:

  1. Bawalah minum sebanyak-banyaknya. Gersang dan Panasnya bukan main. Jarang ada warung dan tempat makan.
  2. Gunakanlah sunblock, jaket tipis, penutup mulut, kacamata hitam, dan pakai sepatu atau sandal gunung.
  3. Bensin di Nusa Penida dihargai 15k/liter. Gunakanlah motor dengan hati-hati, karena tidak ada helm dan jalanannya yang tidak bersahabat. Kalau yang tidak terbiasa dengan jalanan tersebut biasanya after effectnya semua badan pegal-pegal.
  4. Kalau ada Guide yang mau mengantarkan itu lebih bagus lagi. Kalau dilihat di peta, sepertinya kita bisa berkeliling ke seluruh tempat tersebut. Sayangnya tidak seperti itu, karena kontur di Nusa Penida berbukit-bukit, jalan yang disediakan lebih banyak memutar dan out of nowhere. Sinyal paling banter adalah Telkomsel dengan sinyal internet adalah EDGE.
  5. Masjid atau musholla hanya terdapat di daerah Sampalan karena di daerah sana banyak pendatang dari Lombok untuk berjualan.

Nusa Penida sudah mulai berkembang layaknya Nusa Lembongan, namun pemerintahnya masih menutup mata untuk perbaikan infrastruktur kedua Nusa tersebut. Infrastruktur hanya diperbaiki ketika hangat-hangatnya pemilu daerah. Warga sendiri harapannya infrastruktur dapat diperbaiki secara berkala, air bersih selalu tersedia, marka jalan dan tanda jalan diperbanyak, serta agar dapat saling menjaga keutuhan alam yang ada di Nusa Penida. Semoga harapan ini dapat di dengar dengan baik bukan menjadikannya sebagai bahan pengembangan bisnis perseorangan. Aamiin.

 

Next Post lanjutan saya dan keluarga saya main ke Nusa Lembongan. Mari…

Mungkin Satu-Satu

Sudah melewati tahun pertama, lumayan menambah pengalaman di dunia kerja. Namun, ada hal yang tertinggal dan tertutupi oleh aktifitas yang (sepertinya) monoton ini, yaitu saya jarang bersentuhan dengan dunia psikologi. Dunia yang saya minati dan saya senangi selama 4 tahun di perkuliahan. Entahlah, harusnya tidak seperti ini, harusnya saya tetap bersentuhan karena unit kerja saya sangat dengan dekat dunia psikologi.

Kenapa?

Mungkin saya meninggalkannya karena kegiatan di unit kerja saya lebih kepada “serabutan” kelas sekolah menengah, lalu ketika dihadapkan pada kegiatan wawancara untuk penerimaan pegawai kontrak rasa-rasanya hanya sebagai formalitas dan hanya like-dislike dari unit terkait. Hmm.. mungkin karena saya yang terlalu malas untuk mengembangkan diri untuk ilmu yang pernah saya emban.

Sepertinya, saya akan mulai lagi untuk membaca, mempelajari, dan merasakan kembali dunia psikologi. Baiklah.. mari di mulai!

Cuman pendapat biasa

Pada saat pertama kali berada di lingkungan kerja, saya merasa senang karena “akhirnya” kerja. Iya, karena saya merasakan bagaimana begitu tidak gampangnya mencari kerja. Bolak balik ke gedung itu lagi untuk melakukan psikotes ataupun wawancara dengan beberapa perusahaan. Tapi mungkin untuk sebagian orang mencari pekerjaan itu begitu gampang. Salah satunya mungkin dengan menggunakan link orang didalamnya atau menjadi pegawai outsourcing terlebih dahulu lalu menjadi pegawai tetap setelahnya ketika yang bersangkutan merasa pekerjaannya sudah setara dengan pegawai tetap dan yang pasti meminta atau ikut dalam open recruitment pegawai tetap di perusahaan tersebut.

It’s the matter of mindset.

Kenapa sih mau menjadi pegawai outsourcing sampai lebih dari 2 tahun?” kenapa lah ini menjadi pertanyaan dan menjadi hal yang saya pikirkan. heuheu.. Pertanyaan ini pun bukan pandangan saya sebagai perusahaan, tapi lebih ke sebagai individu. Kalo perusahaan mah saya pikir sangat menguntungkan memiliki pegawai outsourcing, load kerja sama dengan pegawai tetap tapi pembiayaan nya jauh lebih murah. Ya kan?

Selama kurang lebih setahunan ini saya berteman dengan beberapa pegawai outsourcing, yang masih muda seumuran saya dan yang dibawah 35 tahun. Terbesitlah pertanyaan itu, saya merasa seharusnya teman-teman bisa menjadi pegawai tetap karena saya melihat load kerja yang sama di beberapa section. Apalagi mereka lulusan sarjana dan diploma. Memang sih walaupun sudah sarjana atau diploma tidak bisa dipastikan namun saya masih memiliki pola pikir bahwa lulusan sarjana atau diploma seharusnya bisa menjadi lebih baik untuk kehidupannya di perusahaan ini atau di tempat lain.

Choose your mindset of working: a. Career, b. Living, c. Career and Living?

Sekelebat pendapat diatas muncul selama beberapa bulan. Sampai saya mempunyai keinginan untuk membantu teman-teman untuk menjadi pegawai tetap. Tapi itu adalah pendapat egosentris saya sendiri. Kata-kata mengenai mindset ini terbesit ketika saya lagi mandi sih sebenarnya dan membuka pikiran saya yang selama beberapa bulan belakangan ini saya pertanyakan. Secara keseluruhan saya merasa kalau mindset for living berada pada teman-teman outsourcing di tempat saya kerja dan beberapa pegawai tetap yang masih menjadi officer walaupun sudah berumur diatas 40 tahun. Istilah yang saya pakai adalah keadaan settle atau berada pada zona nyaman. Alasan lainnya adalah ketika saya bertanya langsung kepada salah satu teman os, secara tidak langsung adalah ketidakinginan untuk dipindahkan/mutasi seperti pegawai tetap. Bagi perempuan, secara budaya disini, bekerja apapun namun tetap di kampung halaman karena acara keagamaan disini begitu kental dan menjadi hal yang lumrah. Pada mindset for career and living, terlihat pada beberapa pegawai yang produktif (23 tahun s.d kurang dari 40 tahun) dan beberapa teman outsourcing. Contohnya terlihat ketika ada recruitment sebagai pegawai tetap beberapa teman os ikut serta sampai tahap wawancara. Intinya adalah it’s the matter of mindset. What they choose and what i choose. Padahal sampai saat ini masih mengharapkan untuk kehidupan yang lebih baik untuk teman-teman. hihi..

Jadi begitulah, sekedar pendapat saya yang sepertinya suka-suka dan daripada di simpan di pikiran saya mending saya tulis disini. Ya kan? 🙂

Happy Working! 

Jalan

Pada sore hari yang begitu melelahkan, seorang wanita berambut hitam panjang terbesit merencanakan pergi ke suatu tempat agar rasa lelah itu segera hilang. Setelah memarkirkan mobil sedan berwarna abu-abunya, dia melangkahkan kaki dengan gerakan yang sama ketika pulang dari kantor yang berjarak tidak jauh dari tempat itu. Dia hampir lupa bagaimana penataan ruang tempat tersebut.

Sudah banyak yang berubah, pikirnya.

Berderet penjaja pakaian dan sepatu yang siap menerima pelanggan kapan pun itu, walaupun hari itu adalah hari libur bagi sebagian orang di daerah yang ditempatinya saat ini.


Langkahnya terhenti di lantai paling dasar, di sudut konsesi yang hanya berukuran 4 x 5 meter. Konsesi tersebut didominasi berwarna ungu dengan berbagai iklan yang dapat menelan ludah setiap melihatnya.

Akhirnya sampai juga, dalam hati dia berkata.

Setelah dia memesan menu yang tertera di konsesi itu, dia menunggu sambil memerhatikan seseorang. Dia melihat dengan seksama orang yang melayaninya tadi. Orang tersebut mulai mencampurkan bubuk cokelat, air, beberapa es kedalam wadah dan mengocoknya seperti seorang bartender. Lalu, menuangkannya dalam wadah plastik dengan tulisan khas yang sudah dihafalnya. Tak lama kemudian orang tersebut mengambil wadah lain dan memasukkan heavy cream atau krim kocok, potongan kecil stroberi dan sepertinya ditambahkan sedikit garam laut. Orang itu mulai mengaduknya, dengan sekuat tenaga sampai semuanya tercampur rata, menuangkannya diatas wadah yang tersedia dan menutupnya menggunakan mesin penutup. Pesanannya telah jadi dan dia mengambilnya dengan perasaan senang yang mulai timbul. Dia berjalan menuju ekskalator dan mulai menusuk straw kedalam minuman tersebut. Minuman berwarna cokelat dibagian bawah dan putih bertabur stroberi diatasnya.

Sepertinya nikmat, pikirnya.

Dia mulai mengaduk dan menyeruput minumannya.

Rasa cokelat dinginnya terasa sekali.

Hmm.. Krim putih bertabur stroberi inikah yang dinamakan strawberry mousse? Wah, Enak dan segar!

Rasa lelah dan dahaganya telah hilang dalam setiap seruputnya. Dia melangkahkan kakinya dengan gembira menuju mobil sedan berwarna abu-abu, pulang dengan senyum yang sumringah.

Have a Good Day, Guys!

My Lesson (1)

Selamat Pagi.

Hari ini saya mendapatkan pelajaran tambahan dari kerasnya jalanan di tempat saya tinggal. *sounds like really serious*

Sekitar pukul 07.20 pagi saya masih dua kilometer dari rumah, waktu menunjukkan akan terlambatnya saya berangkat kerja. Di depan, saya melihat lampu warna kuning, saya berniat menerobos. Saya berpikir mobil sejenis ma*da bewarna putih tepat di depan saya ini akan ikut menerobos juga. Kami sama-sama masih meng-gas kendaraan masing-masing. Saya berada dikanannya hanya beberapa centi, tiba-tiba dia sedikit kekanan dan mengerem di jarak yang masih agak jauh dari zebra cross. Tidak jadi menerobos.

dan terjadilah.

serempetan yang berbunyi lumayan keras.

—————————

Tiba-tiba pengendara mobil itu keluar. Perempuan yang cukup tinggi, memakai dress berwarna merah yang cukup ketat. Keluar dengan wajah marah. Memandangi baretan di mobilnya yang tidak sengaja saya serempet. Saya tidak bisa keluar karena pintu saya tepat disamping pembatas yang cukup tinggi. Saya hanya bisa memandangi perempuan itu dan meminta maaf (dengan manangkup kedua tangan) ketika dia melihat saya. Dia masuk kembali dengan wajah yang (masih) marah.

Baretannya berwarna hitam dan panjangnya sekitar 3 centimeter. Mobil didepan saya melaju dengan jalur yang sama dengan saya.

Saya tahu sepertinya dia mengambil foto plat dan mobil saya. Karena biasanya dia depan saya, ketika ada lampu merah berikutnya, dia berada di kiri saya, dan saya berada tepat didepan bagian kanannya.

Sejujurnya, saya masih tidak tahu apakah saya sepenuhnya bersalah dalam hal menyerempet ini. Atau kah kita sama-sama salah. Dalam artian, bilamana pengendara mobil tersebut melihat kaca spion, dan lebih maju sedikit tepat dibelakang zebra cross, mungkin baretan yang timbul tidak akan separah yang tadi atau tidak terjadi kejadian seperti ini.

Kalaupun saya terdakwa bersalah dalam menyerempet, saya minta maaf, maaf yang sebesar-besarnya karena kecerobohan, keugalan, dan konsentrasi yang kurang mengakibatkan kerugian kepada orang lain.

Saya tahu pasti, bagaimana perasaan pengendara mobil yang kena serempet, mobil dengan jarak dekat hampir keserempet saja sudah kesalnya setengah mati.

Tapi satu yang saya minta, bila pengendara mobil tersebut mem-posting di media sosial, meng-upload mobil saya, coba dipikirkan sekali lagi. Serempetan yang saya timbulkan sepanjang 3 centimeter. Apakah worth it mem-posting kejadian tersebut dan kemungkinan besar akan terjadi bully besar-besaran terhadap pihak terdakwa.

Semoga mbak pengendara mobil tersebut tidak melakukan hal yang saya takutkan. Semoga saja.

Sekali lagi saya minta maaf atas kejadian tadi, mbak ber-dress merah. Saya akan lebih berhati-hati dan lebih waspada.

 

Salam.