Trip: Gili Putih, Sumberkima

Perjalanan menikmati matahari terbit dari atas Pura Bukit Batu Kursi tak membuat kami kelelahan. Ada satu tempat lagi yang ingin kami kunjungi di daerah Buleleng sebelum kembali ke Denpasar, yaitu Gili Putih. Kami turun dari Pura sekitar pukul 8.30 pagi, Pak Wayan sudah standby untuk mengantarkan kami ke destinasi berikutnya. Kami memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu. Tempat makan yang sudah buka pagi itu adalah Warung Jawa dekat Bandar Udara Letkol Wisnu, warung makan yang memiliki menu nasi rames, nasi pecel, dan mie rebus/goreng.

Sambil menunggu teman-teman yang lain menghabiskan makan paginya, saya mengecek sekali lagi untuk lokasi pasti dari Gili Putih. Ternyata lokasinya berada di belakang Bandar Udara Letkol Wisnu. Dekat sekali dengan tempat kami sekarang. Kami memasuki area Bandar Udara Letkol Wisnu, Bandara perintis yang hanya diperuntukkan latihan calon penerbang dengan pesawat kecil. Sampai di ujung jalan, kami disuguhi pemandangan hamparan air laut, jukung (perahu kecil), dan beberapa keramba apung. Karena posisinya masih pagi dan tidak banyak warga yang lalu lalang, kami agak kebingungan untuk menanyakan dimana tempat kami bisa menyewakan jukung untuk membawa kami ke Gili Putih.

Akhirnya kami memutuskan untuk mengikuti lagi jalan setapak sampai ke ujung jalan di sebelah barat. Pak Wayan menanyakan kepada Bapak-Bapak yang berada disana dan dia bersedia mengantar kami ke Gili Putih. Pak Beni (yang mengantarkan kami), menawarkan perorangnya Rp 50.000,- untuk menaiki jukung miliknya. Setelah kami berdiskusi, kami sepakat dengan harga yang ditawarkan. Kami bersiap berganti celana dan menggunakan sunblock, karena Pak Beni menginfokan pagi hari lautnya sedang surut, jukungnya hanya dapat berhenti jauh dari Gili Putih.

Pak Beni mendorong, mengatur jukung miliknya, dan menghidupkan mesin untuk bersiap. Kami menaikinya dan jukung pun melaju menuju Gili Putih, tidak sampai sepuluh menit kata Pak Beni. Kami melihat air laut berwarna biru yang begitu jernih, keramba apung, dan gundukan pasir yang luas yang ternyata adalah Gili Putih.

Dari yang saya baca di beberapa situs web, Gili Putih merupakan gundukan pasir yang berbentuk pulau dan tak berpenghuni, beberapa wisatawan sejatinya mengetahui sejak lama Gili Putih ini karena sebelum ke Pulau Menjangan mereka akan mampir terlebih dahulu ke pulau ini untuk melihat terumbu karang yang ada disekitarnya. Bentukan Gili Putih ini pun akan berubah-ubah tergantung pasang surutnya air laut. Nah, untuk melestarikan Gili ini, warga sekitar membentuk Pokdarwis dan membuat beberapa agenda yang terkait lingkungan hidup seperti adanya signage larangan membuang sampah sembarangan, menanam pohon, dan beutifikasi dari bahan daur ulang untuk menarik kunjungan wisata.

This slideshow requires JavaScript.

Jukung Pak Beni sudah bersauh lumayan jauh dari lokasi Gili Putih. Sebelum turun, kami melihat banyak sekali gerombolan atau kelompok-kelompok bulu babi di kanan kiri jukung kami. Saya masih ingat pernah ditakut-takuti kalau bulu babi ini bisa menembus kulit dan beracun. Sudah ngeri-ngeri sedap aja membayangkan sepanjang jalan menuju Gili akan menemui gerombolan bulu babi lucu ini. Saya turun dari jukung setelah teman saya, Lukman, dilanjut dengan Alvien, Endah, dan Eirene. Kami melewati beberapa bulu babi dengan sangat pelan sekali agar mereka tidak bergerak karena arus yang kami buat. Tinggi air lautnya hanya sampai di atas mata kaki, namun pasir putihnya besar-besar dan apabila diijak agak sedikit pedih di telapak kaki. Kami berjalan seperti bermain minesweeper zaman komputer masih windows 98. Hahaha.. Selain bulu babi, banyak sekali teripang yang nggelayut-nggelayut kanan kiri karena langkah kaki kami. Tetiba ada yang teriak-teriak dibelakang saya, ternyata Eirene teriak karena geli melihat teripang. Pffttt… Sambil berpegangan dengan Pak Beni, Eirene akhirnya berhasil melewati beberapa teripang, namun teripang tak hanya di dekat jukung kami, tapi sepanjang jalan menuju Gili Putih. Akhirnya Eirene berpegangan dengan Endah sambil melompat sana sini agar kegeliannya cepat usai.

This slideshow requires JavaScript.

Setelah berjalan dan melompat-lompat selama kurang lebih lima belas menit, akhirnya kami sampai di Gili Putih. Di Gili Putih kami hanya berlima, tidak ada pengunjung wisatawan yang lainnya. Pak Beni mengatakan jam ramainya pengunjung adalah sore hari, sabtu dan minggu. Kami malah senang sih, gak ada wisatawan lainnya pada saat itu, jadi kami bisa eksplor dan berfoto lebih lama. Ahahaha.. Gili Putih ini ada dua ayunan, beberapa batang pohon untuk spot foto, bale untuk beristirahat, signage Gili Putih plus larangan membuang sampah sembarangan, dan beberapa pasak kayu yang seharusnya sebagai ayunan namun belum selesai dibuat. Kami berfoto di dekat ayunan yang bertuliskan “Gili Putih Sumberkima” dan memutuskan untuk berteduh di bale sambil menikmati pemandangan sekitar.

This slideshow requires JavaScript.

Menikmati angin sepoi-sepoi, ngobrol ngalor ngidul, dan setelah lelap tertidur di bale, sekitar pukul 11 siang kami memutuskan untuk kembali ke jukung dan bersiap kembali ke Denpasar (masih dengan berjalan dan melompat-lompat, minus kelompok bulu babi yang sudah hilang karena air laut sudah semakin pasang) Haha..

Overall, Gili Putih memang hanya sebatas gundukan pasir berbentuk pulau yang dikembangkan sebagai salah satu tempat wisata di Sumberkima, Gerokgak, Buleleng ini. Namun pemandangannya yang membuat saya ingin melihat lebih dekat Gili Putih itu seperti apa. hmm.. A day well spent in Buleleng, Bali!

HAVE A NICE DAY!

Trip: Wisata Alam Posong, Temanggung

Hari itu jam menunjukkan pukul 2 pagi. Alarm sudah mendengung disamping tempat tidur. Masih ada waktu satu jam untuk bersiap. Saya menelepon teman untuk membangunkannya dan bersiap untuk mandi serta berganti pakaian yang nyaman dan hangat.

Saya berada di Semarang pada bulan Juli, sedang ada pelatihan selama dua minggu. Awalnya seminggu lebih berada di Jakarta dan beberapa hari berada di Semarang. Pada saat mengetahui bahwa saya akan berkunjung ke Semarang sampai dengan weekend, saya teringat foto si mas yang sedang berdiri dengan latar belakang pemandangan Gunung Sumbing dan disampingnya tertulis “Posong”. Foto yang ia ambil ketika bulan puasa kemarin. Sejak saat itu saya berandai-andai ingin kesana dan melihat langsung apa yang dia lihat karena bagus banget pemandangannya. Saya mulai melihat di Gmaps jarak antara tempat saya menginap di Kota Semarang dengan Wisata Alam Posong. Sekitar 2 setengah jam sampai dengan 3 jam perjalanan.  Hmm.. Jaraknya sama lah ya dari Kota Denpasar ke Negara, pikir saya begitu. Sepertinya juga karena saya habis nonton kulari kepantai, jadi rasanya pengen roadtrip atau jalan jauh. Ahahaha..

Niat sudah dibentuk ketika hari pertama berada di Semarang, saya menelepon penyewaan mobil disana yang supirnya mau mengendarai mobilnya ke luar kota. Satu dua penyewaan mobil menolak, alasannya penuh dan akhirnya ada yang mau menerima tawaran saya tapi dengan tambahan sedikit biaya. Oke tidak masalah, saya mengiyakan. Mobil sudah oke, saatnya nggolek bolo (nyari teman.red). Nothing to lose juga sih sebenarnya kalau saya akhirnya berangkat sendiri, etapi ketika saya menawarkan ke teman saya yang doyan jalan-jalan random, dia mau. Syukur juga ada temannya selama perjalanan. Kalau emak baca ini tulisan gimana prosesnya, mungkin uda dibilang gila kali anak gadis satu ini, kagak pernah main ke Semarang, kagak pernah pergi sejauh itu sendirian, malah dia pula yang punya ide jalan ke tempat itu. Pft.

Mobil sudah menjemput kami pukul 3 dini hari, sesuai jam kesepakatan. Saya menghitung-hitung akan sampai disana maksimal sekitar jam setengah 6, matahari pun sudah terbit dahulu sebelum kami sampai. Kami memulai perjalanan, melewati Alun-Alun Temanggung dan Jl Raya Magelang Semarang yang berisikan truk-truk besar dimalam hari seperti ini. Pak Didik, supir kami, syukurnya tahu medan yang akan dilewatinya selama perjalanan. Tidak lambat, tidak juga cepat. Setelah melewati jalananan besar yang tak kunjung berakhir itu, kami mampir di pom bensin untuk salat subuh terlebih dahulu. Ketika saya melihat Gmaps ternyata tinggal seperempat jam lagi sampai ditujuan, perjalanan kami lebih cepat dari dugaan.

Kami tiba di pintu masuk Wisata Alam Posong pukul 5.15 WIB. Suasana masih gelap. Kami membayar retribusi sebesar Rp 10.000/orang, total kami ber-4 termasuk Pak Didik menjadi Rp 40.000. Menuju ke lokasi yang kami inginkan lumayan jauh kedalam, untuk kontur jalannya bebatuan, kiri dan kanan adalah perkebunan warga. Setengah perjalanan tiba-tiba mobil kami harus berhenti karena didepan kami ada mobil tua yang tidak bisa menanjak. Alhasil kami menunggu beberapa menit sambil keluar dari mobil dan memandang alam sekitar. Pancaran jingga matahari yang akan naik ke atas mulai terlihat. Pemandangannya semakin syahdu, kami selama perjalanan menuju ke lokasi tak henti hentinya bergumam “wah” “wih” “ya ampun bagusnya” dan lainnya. Hahahha.. Biasa lah ya orang kota jarang diajak main ke alam yang sebagus ini.

Suasana sebelum matahari terbit

Sampai dilokasi ternyata sudah banyak mobil yang parkir berjejer, karena sudah penuh, mobil kami naik sampai ke atas di tempat parkir mobil dan bus bersama. Kami turun di pintu masuk Taman Posong. Membayar lagi sebesar Rp 10.000/orang untuk masuk kedalam. Taman posong isinya cuman beberapa spot untuk selfie dan ada tulisan POSONG segede gaban. Haha.. Tapi saya masuk kesana untuk melihat sunrise yang terlihat lebih jelas. Setelah foto pemandangan Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro, kami duduk dan menikmati matahari terbit. Kamera hanya digunakan beberapa kali, selebihnya kami matikan dan kami melihat dengan seksama dan takjub. Sungguh indah sekali pemandangan yang kami lihat pagi itu.

This slideshow requires JavaScript.

Setelah matahari sudah naik dan semakin jelas pemandangan yang kami lihat tadi selama perjalanan, saya tidak melihat tempat foto yang sesuai foto si mas di Taman Posong. Saya tanya ke penjaga karcis di depan, ternyata ada di bagian bawah diluar Taman. Kami turun kebawah dan sudah ada bu ibu berkelompok yang sudah mengekspansi tempat. Haha.. Bu ibu itu dikoordinir oleh satu orang yang rempong nya minta ampun, sudah bergaya a-z tapi gak nyadar kalau ada yang antri buat foto juga. Setelah sepuluh menit menunggu, giliran saya dan teman-teman untuk berfoto, baru mau foto eh ada bapak-bapak yang fotoin bu ibu tadi jadi photobomb beberapa jepretan di kamera kami. Sampai kami bilang “permisi, Pak”. Hahahha.. Lha gak jelas banget iki. Akhirnya kami sudahi sesi foto dan kembali ke mobil untuk melanjutkan perjalan ke Museum Ambarawa dan kembali ke Kota Semarang.

This slideshow requires JavaScript.

Perjalanan kali ini menurut saya sangat menarik karena saya memberanikan diri mengambil keputusan untuk pergi sejauh itu di tempat yang belum pernah saya datangi sebelumnya dan sama sekali tidak ada bayangan seperti apa medan yang akan saya temui. Baru mengabarkan ke emak dan si mas ketika sudah beberapa jam disana. Huehehe.. Saya puas dengan pemandangan Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, dan Gunung-Gunung lain di belakangnya. Hamparan perkebunan tembakau dan sayur mayur lainnya yang begitu hijau dan enak dipandang. Semoga saya bisa mampir lagi ke Wisata Alam Posong dan didaerah sekitarnya. Aamiin.

Ada video 30s yang saya buat:

Wisata Alam Posong

Jl Raya Parakan Wonosobo Km.9,

Posong, Tlahap, Kledung, Kab. Temanggung

HAVE A NICE DAY!

Trip: Jalan Kaki di Area Glodok

Perjalanan saya di area Glodok ini sejatinya dilakukan setelah mengelilingi daerah Kota Tua Jakarta. Saya ingin melihat suasana Pecinan di Jakarta. Awalnya saya mau jalan kaki dari Museum Bank Mandiri ke Glodok, tapi ya karena melihat jam sudah menunjukkan pukul 1 siang dan perut saya kelaparan, alhasil saya menggunakan ojol untuk mengantarkan saya ke Gado-Gado yang cukup terkenal yaitu Gado-Gado Direksi sebagai titik mulainya perjalanan saya di sana.

Saya sampai di Gado-Gado Direksi sekitar 10 menit kemudian, letaknya kalau sesuai Gmaps ada di Jl. Pintu Besar Selatan 1 No.10, nanti kalian akan menemukan pujasera dengan beberapa tempat makan, salah satunya Gado-Gado Direksi. Gado-Gado ini kalau dari spanduknya tertulis sudah ada sejak 1967 dan sudah banyak yang merekomendasikan untuk one of food yang harus dicoba selama di Jakarta. Saya memesan satu porsi tidak pedas dan beberapa saat kemudian datanglah gado-gado tersebut. Penampakannya memang terlihat menggiurkan, bumbu kacangnya dan lebih banyak isi mentimun, sayurannya pun terasa segar. Bumbu kacangnya berbeda dan menurut saya gado-gado ini memang enak. Haha.. Saya mah kalo makan nilainya semua enak. Pada saat saya mau membayar, harganya ternyata Rp 40.000,-. Pftt… saya agak kaget sih dengan harganya, agak kemahalan tapi untuk kualitas penyajiannya memang segitu kali ya worth it nya.

Oke lanjut, setelah makan, saya bermaksud untuk ke Wihara Darma Bhakti, melihat wihara yang cukup terkenal di Glodok. Karena gak punya bayangan ada dimana itu lokasinya, saya menggunakan Gmaps dan diajaklah saya ke jalan kecil yang rame sekali orang berdagang di kiri dan kanan. Ketika sudah setengah jalan, saya baru menyadari kalau saya berada di Gang Gloria, gang yang banyak penjaja makanan dari gorengan, buah-buahan, manisan, sekba (babi), dan lainnya. Selain itu ada tempat cukur Ko Tang dan es kopi Tak Kie yang legendaris. Kala itu saya sudah telat mencicip es kopi Tak Kie karena sudah tutup di atas jam 12 siang. Hmmm..

Setelah melewati Gang Gloria, saya menyeberangi jalan dan jembatan. Menuju ke Wihara Darma Bhakti ini saya juga melewati Pasar Petak Sembilan. Petak Sembilan lebih banyak pedagang sayuran dan bahan makanan mentah lainnya, selain itu kita juga dapat melihat toko kue yang menjual kue keranjang, kue dodol, dan kue lapis. Toko kue dengan ornamen khas china yang klasik menurut saya. Akhirnya saya menemukan wihara yang saya cari, pada saat saya ingin masuk, ternyata sedang ada kegiatan lain, jadi saya hanya dapat melihatnya dari luar saja. Pada saat itu saya melihat banyak ibu-ibu, anak-anak, dan bapak-bapak yang dari penampakannya adalah pengemis disekitar area tersebut. Pada saat itu mereka tidak sedang mengemis sih, tapi lagi main kartu gaple diselingi suara teriakan mereka. hahaha.. 

Setelah melihat Wihara tersebut, saya kembali melewati Pasar Petak Sembilan menuju Pantjoran Tea House untuk ngadem, jalan kaki dari ujung ke ujung dengan udara yang panas membuat saya kehausan. Pantjoran Tea House ada di Jl. Pancoran Raya No.4-6 Glodok, gedungnya ada di pojokan jalan besar, sering lihat ketika saya melewati jalan menuju Kota Tua. Ternyata dulu gedung ini adalah Apotek Chung Hwa (1928) dan merupakan salah satu warisan budaya dunia versi UNESCO dan sudah direvitalisasi pada tahun 2015. Ketika saya memasuki gedung ini, suasana Tiongkok kental sekali, dari meja, kursi, ubin, dan penataannya. Saya mencoba Chinese Tea yaitu Smokey Green Tea, rasanya enak, tidak terlalu pahit dan bisa direfill 3x. 

Demikian perjalanan saya di salah satu daerah Pecinan di Jakarta, Glodok. Saya jalan kaki sendiri dari Gang Gloria sampai Wihara Darma Bhakti dan berakhir di Pantjoran, melihat suasana dan kegiatan orang-orang disekitar.

HAVE A GOOD DAY!

Trip: Kota Tua Jakarta

Kota Tua Jakarta merupakan salah satu destinasi yang wajib dikunjungi ketika berada di Jakarta. Bagaimana tidak, tempat ini merupakan tempat bersejarah mengenai terbentuknya Jakarta. Menurut saya, wisata Kota Tua Jakarta menjadi ikonik bagi warga dan orang-orang dari daerah lain karena penataan yang rapi dari Dinas Parwisata dan Kebudayaan Jakarta. Banyak tempat dan kegiatan yang bisa kita lihat. Bermain sepeda onthel, berfoto dengan beberapa seniman di sepanjang jalan, tempat makan dan cafe dengan tema lawas, dan tiga museum yang saling berdekatan (Museum Kesejarahan Jakarta atau Museum Fatahillah, Museum Seni atau Museum Wayang, dan Museum Seni Rupa dan Keramik). Terdapat dua museum lainnya yang tidak jauh dari area ini yaitu Museum Bank Mandiri dan Museum Bank Indonesia.

Saya mengunjungi Kota Tua Jakarta pada Hari Minggu sekitar pukul 8.30 WIB. Saya lupa kalau di area ini dijadikan salah satu tempat untuk car free day (CFD). Alhasil ketika saya sampai, sudah ramai orang yang berlalu lalang di sepanjang area tersebut. Rata-rata museum yang ada sudah buka pukul 09.00 WIB, tutup pada hari Senin plus pada saat hari libur nasional dan tiket masuk hanya Rp 5.000,- saja. Setelah melihat beberapa tempat sambil menunggu museum buka, saya beranjak ke Museum Kesejarahan Jakarta atau Museum Fatahillah terlebih dahulu. Dengan bangunan yang cukup luas, kita bisa melihat banyak benda-benda dan cerita bersejarah mengenai terbentuknya Kota Jakarta. Lompat ke Museum Seni atau Museum Wayang, didalam bangunan dua lantai ini, kita bisa melihat berbagai jenis wayang dari segala penjuru dunia, tak hanya di Indonesia saja tapi dari berbagai negara juga dipamerkan disini. Museum lainnya adalah Museum Seni Rupa dan Keramik, kita dapat melihat keramik dari berbagai negara dan berbagai macam bentu dari bahan keramik. Selain itu kita dapat melihat patung-patung yang dipamerkan disana.

Setelah melihat tiga museum dan mengelilingi daerah Kota Tua, saya berjalan kaki menuju lokasi Museum Bank Mandiri dan Museum Bank Indonesia. Saya sarankan untuk mengunjungi Museum Bank Mandiri terlebih dahulu baru ke Museum Bank Indonesia. Mengapa demikian? karena lebih menarik di Museum Bank Indonesia ketimbang di Bank Mandiri. Ahaha.. No offense ya, karena penataannya jauh lebih eye catching di Museum BI ketimbang di Museum Bank Mandiri. Apa mungkin karena pencahayaannya.. Entahlah.

Lanjut deh yaa.. Museum Bank Mandiri letaknya di Jl. Lapangan Stasiun No. 1, pas di seberang Halte TransJakarta Kota Tua dan banyak sekali pedagang-pedagang makanan dan kaki lima yang menjualkan dagangannya di depan Museum ini. Pada saat saya menaiki tangga dan membayar tiket masuk, saya baru baca kalau nasabah Bank Mandiri hanya perlu membayar Rp 2.000,- saja, njuk yang jaga tidak menawarkan sebelum meminta biaya tiket. Hmmm… Museum Bank Mandiri menceritakan proses Bank Mandiri ini terbentuk, sejarah perbankan lainnya, alat-alat yang digunakan di perbankan, dan contoh ATM pada zaman dahulu.

This slideshow requires JavaScript.

Pada saat mengunjungi Museum Bank Indonesia, saya senang dengan penataan dan konsep museum yang ditawarkan. Sebelum masuk, saya membayar tiket dan menitipkan barang saya di loket yang sudah disediakan. Saya berjalan menyusuri wahana demi wahana seperti area playmotion, area sejarah (salah satunya menceritakan mengenai kejadian tahun 1998), area ruang rapat direksi, area uang emas moneter, dan area numismatik (koleksi mata uang yang beredar di Indonesia). Setelah menyusuri gedung yang luas dengan berbagai macam area, sebelum kembali ke area tiket masuk, saya ikut melihat immersive cinema yang ditawarkan oleh pihak Museum. Cinema dengan desain visual 3D ini menceritakan sejarah bangunan Bank Indonesia yang saat ini saya kunjungi. Saya sampe senyum-senyum melihat cinema ini. Hahha..

This slideshow requires JavaScript.

Saya menyelesaikan trip saya di Kota Tua Jakarta pada pukul 13.30 WIB dengan perasaan puas. Puas karena saya bisa mengunjungi banyak Museum dalam satu waktu dan menikmati hiruk pikuk warga yang sedang bermain di kawasan Kota Tua Jakarta. Semoga bisa lebih dijaga kelestarian budaya dan sejarahnya. Aamiin.

HAVE A NICE DAY!

Trip: Pelabuhan Sunda Kelapa

Selama ke Jakarta, saya jarang sekali main ke daerah utara. Sekalinya main cuma mampir ke baywalk mall untuk lihat laut dan melewati perumahan di pantai indah kapuk. Nah, beberapa minggu lalu ketika saya sedang melaksanakan kegiatan diklat dari kantor, pada hari liburnya saya berencana mengunjungi Pelabuhan Sunda Kelapa.

Saya main ke Pelabuhan Sunda Kelapa bersama teman saya, sekitar pukul 15.30 WIB, kalau dari info-info yang saya baca, best momen nya sih pas sunset, tapi karena saya ada acara lain akhirnya memilih waktu sebelum sunset. Kami berdua sama-sama belum pernah ke Pelabuhan Sunda Kelapa dan ketika kami sampai dilokasi, kami senang sekali melihat kapal berjejer rapi di pelabuhan. Haha.. Rada udik ya.. Padahal saya sudah pernah lihat gambaran semacam itu ketika mengantar teman saya melihat pelabuhan Benoa, Bali.

Udara pada saat itu panas, kering, dan berangin. Sepanjang jalan kami ditawari untuk naik kapal kecil melihat dua mercusuar di ujung pelabuhan. Tapi kami tolak dulu karena masih ingin melihat jejeran kapal sampai ke ujung pelabuhan disambi dengan beberapa pengambilan foto. Setelah berjalan hampir di ujung pelabuhan, pada saat ingin kembali ke arah pintu masuk, kami ditawari (lagi) oleh Bapak-Bapak yang sudah cukup tua untuk menggunakan kapal kecilnya, akhirnya kami menyetujui ajakan Bapaknya dan kami menaiki kapal kecil tersebut. Dari logat bicaranya terdengar bukan dari jakarta (betawi), berbeda dengan Bapak-Bapak lainnya yang menawari kami hal yang sama. Ternyata Bapaknya berasal dari Makassar (bugis) dan sudah berpuluh-puluh tahun menetap di Jakarta.

Ketika kami menyusuri laut, kami melihat aktivitas orang-orang yang ada di kapal, ada yang tidur, ada yang sedang memandang keluar, ada yang sehabis mandi, dan rasa-rasanya mereka menjadikan kapal itu sebagai rumah mereka. Saya sempat beberapa waktu lalu membaca berita mengenai puluhan kapal yang terbakar hebat di pelabuhan Benoa, saya langsung sedih karena membayangkan itu rumah mereka. hmmm..

Setelah selesai melihat dua mercusuar dan beberapa kapal besar yang bersandar, kami kembali menyusuri jalan kembali ke pintu masuk. Saya penasaran dengan sejarah yang ada di Pelabuhan Sunda Kelapa ini, saya mencari info pada mesin pencari dan menemukan informasi yang akurat dari sahabatkotatua.id yang bertuliskan seperti ini:

Kesultanan Demak yang melihat hubungan Portugis dengan Kerajaan Hindu Sunda Pajajaran sebagai sebuah ancaman, kemudian merencanakan penyerangan atas Sunda Kalapa. Pada 22 Juni 1527, pasukan gabungan Kesultanan Demak-Cirebon dibawah pimpinan Fatahillah menyerang dan berhasil menguasai Sunda Kalapa dan merubah namanya menjadi Jayakarta. Peristiwa ini kemudian ditetapkan sebagai ulang tahun Kota Jakarta.

Pelabuhan ini memiliki sejarah yang panjang, dengan banyaknya pergolakan dari berbagai lini. Semoga saja kedepannya Pelabuhan ini tetap dijaga kelestarian sejarah dan budaya yang ada didalamnya. Aamiin.

Alamat:  Jl. Matrim Raya, Kota Tua, Ancol, Pademangan, Kota Jkt Utara, DKI Jakarta 14430

Tiket: Gratis

HAVE A NICE DAY!

Trip: Air Terjun Grombong dan Air Terjun Fiji (Sekumpul)

Setelah tahun lalu mengeksplorasi Air Terjun bagian Gianyar dan Bangli, awal tahun 2018 saya dan teman saya melakukan perjalanan menuju Singaraja untuk melihat Air Terjun Grombong dan Air Terjun Fiji. Nama terkenalnya sih Air Terjun Sekumpul.

Air Terjun Grombong dan Air Terjun Fiji terletak di Sawan, Lemukih, Kabupaten Buleleng, Bali. Waktu tempuh menuju lokasi dari Renon Denpasar adalah 2 jam 30 menit. Tergantung juga ya kalau sedang ada long weekend, biasanya akan macet di area Bedugul dan sekitarnya. Setelah menempuh lika-liku Jalan Bedugul – Singaraja, teman-teman akan melihat tanda “Air Terjun Sekumpul” disebelah kanan, ikuti saja jalurnya. Perlu disampaikan kalau jalur menuju Lemukih ini cukup untuk satu mobil, jadi kalau ada papasan dengan mobil lain, harus mengalah dan yang pasti kalau bisa tidak ngebut karena setiap belokannya belum ada convex mirror (kaca cembung).

Lanjut, saya dan teman saya menyewa mobil untuk menuju kesana, alasannya sih karena belum tahu medan dan mobil saya sendiri sepertinya gak sanggup buat ditanjakan yang terjal. Huehe.. Untung saja saya menyewa mobil dengan Pak Wayan yang sudah biasa kami booking untuk perjalanan jauh karena Pak Wayan tahu banget daerah Singaraja yang bagian mana yang bisa dieksplor dan sering memberikan saran mana yang lebih dulu didatangi.

Pak Wayan merekomendasikan untuk masuk melalui pintu masuk Lemukih, karena kalau menggunakan pintu masuk utama Sekumpul kita harus merogoh kocek 2x tiket masuk. Sedangkan di Lemukih hanya membayar 1x tiket masuk. Kami masuk ke jalan setapak yang sempit dan memarkirkan mobil di tempat yang telah disediakan. Kami menggunakan pemandu untuk ke Air Terjun Grombong dan Air Terjun Fiji. Kenapa kita pakai pemandu? Padahal bisa jalan sendiri karena sudah ada petunjuk jalan. Sebenernya kita pakai pemandu karena untuk meningkatkan pendapatan yang bersangkutan sih dan juga ingin mendapatkan informasi lebih mengenai Air Terjunnya.

Awal memulai perjalanan, bli Adi, pemandu kami menawarkan beberapa opsi sebelum menuju ke lokasi Air Terjun. Ada water slide Lemukih, kita akan turun ke air terjun kecil seperti perosotan dan berjalan mengitari persawahan sebelum menuju Air Terjun. Lalu ada Waterfall Swing Lemukih, kita menggunakan ayunan yang cukup besar dan menikmati pemandangan Air Terjun Fiji dari atas. Kedua opsi yang disebutkan tersebut, kita memilih untuk main di Waterfall Swing Lemukih terlebih dahulu.

Ketika kita jalan menyusuri sawah menuju waterfall swing saya melihatnya menarik dan tidak takut untuk mencoba. Namun ketika semakin dekat, makin kebayang seperti apa nantinya ketika ayunan itu ditarik jauh ke atas dan dilepaskan sampai ke atas Air Terjun. Teman saya terlebih dahulu mencoba, persiapan sudah lengkap dengan memakai harnest, menapaki ban yang dibuat seperti tangga, duduk di ayunan, dan memegang tali ayunan, tetiba dia berucap “kakiku getar ini!” dan iya saya lihat juga kakinya bergetar. Hahaha.. Makin jadi jiper buat nyoba. Dan wusss… didorong ayunan itu oleh penjaga. Setelah teman saya turun dari ayunan dengan kaki lemas, saya menimbang-nimbang kembali keputusan untuk naik kesana. Akhirnya saya memutuskan untuk mencoba dan benar saja ketika sudah menapaki ban dan duduk di ayunan, rasanya makin takut. Ahahaha.. dan momen itu terjadi. Jantung seperti mau lepas ketika dekat dengan jurang Air Terjun dan kembali lagi ketika tertarik kebelakang. Begitu terus sampai ayunannya berhenti. Saya hanya bisa teriak-teriak gembira (buat merelease ketakutan kalo tetiba saya lepas dari ayunan). Turun dari ayunan ya sama deh dengan teman saya, kakinya masih gemetaran. Padahal turun ke Air Terjun aja belum. Pft.

Kalau berminat main diayunan ini ada biaya yang dikeluarkan. Biayanya 75k per orang, bisa 2x coba. Untung kita bersama bli Adi yang warga Lemukih, jadi kita dapat diskon buy 1 get 1 gitu. Hehe..

Baiklah kita sudahi saja ayunan cantik tadi, kita lanjut lagi ke menu utama kita. Setelah dari ayunan, kita menyusuri jalan setapak dan tangga yang lumayan berjarak untuk ke pos pembelian tiket Air Terjun. Kami membayar retribusi sebesar 10k per orang. Ditempat retribusi ini ada warung kecil yang menjaja makanan dan minuman, toilet dan tempat untuk mengganti pakaian. Akhirnya perjalanan ke Air Terjun dimulai. Kami menyusuri anak tangga yang lumayan banyak dan ada beberapa anak tangga yang pendek namun curam. Enaknya adalah tangga-tangga ini dilengkapi dengan pegangan tangan. Jadi kalau kita naik pun sudah ada yang bisa kita pegangi.

Sampailah kami di pertigaan jalan. Tanda sudah terlihat jelas, bila memilih arah kanan kita akan disuguhkan Air Terjun Grombong dan bila memilih arah kiri kita akan disuguhkan Air Terjun Fiji. Kami memilih Air Terjun Grombong terlebih dahulu karena waktu tempuhnya lebih sedikit dibanding Air Terjun Fiji. Setelah menyusuri jalan setapak, melewati pohon besar, dan melewati aliran sungai, tidak sampai 5 menit kami sudah didepan Air Terjun Grombong. Dari kejauhan kita akan melihat ada dua air terjun yang deras jatuh beriringan dari ketinggian, menuruni serangkaian bebatuan dibawahnya. Air Terjun ini yang sering diposting oleh banyak wisatawan di media social jadi ketika kita sampai disana sudah banyak wisatawan mancanegara yang berfoto dan main air disini. Kita sendiri sih cuman foto-foto dekat Air Terjunnya, untung hp saya anti air jadi foto jauhnya pakai kamera betul, pas udah deket sana pakai kamera hp. Jadi bisa dapat foto jauh dan dekat. Hehe..

This slideshow requires JavaScript.

Setelah memandangi Air Terjung Grombong dengan takjub, kami melanjutkan perjalanan kembali ke Air Terjun Fiji. Rute ke Air Terjun Fiji ini perlu 2 kali menyeberangi sungai. Mengapa demikian? Karena sejatinya sudah ada jembatan bambu yang dibangun oleh warga, namun karena derasnya hujan yang sering terjadi di Singaraja, jembatan tersebut rusak dan tidak bisa digunakan serta berisiko membahayakan orang yang hendak menggunakannya. Alhasil kita harus menyusuri aliran sungai yang cukup deras dan dibawah sungai itupun banyak batu-batuan yang tidak terlihat. Kalau kita tidak hati-hati bisa terpeleset atau keseleo karena salah pijak. Untuk aliran sungai kedua tidak terlalu deras dan tidak dalam, jadi bisa lah ya kita nyebrang dengan senang hati. Oiya, di dekat jembatan bambu, ada Air Terjun kecil yang cukup deras, kata bli Adi itu termasuk Air Terjun Fiji. Jadi, Air Terjun Fiji ada empat Air terjun, pertama yang dekat jembatan, kedua sampai keempat didalam satu area. Setelah menyebrangi sungai menyusuri jalan setapak, kita bisa mendengar suara Air Terjun Fiji yang kedua sampai keempat. Pengunjungnya lebih sepi dibandingkan dengan Air Terjun Grombong, padahal Air Terjun Fiji gak kalah keren. Mungkin karena ketiga air terjun ini alirannya sangat deras dan langsung turun ke kolam terjun, tidak menuruni bebatuan, belum lagi kolam terjunnya lebih dalam dibanding Air Terjun Grombong.

This slideshow requires JavaScript.

Nah, Air Terjun Fiji inilah yang menjadi pemandangan di Waterfall Swing Lemukih. Dari atas aja pemandangannya aduhai, pas lihat dari dekat ternyata tidak kalah aduhainya. Pada saat kita mendekat ke arah Air Terjun, saking derasnya air itu, kita sampai kebasahan macam kena hujan. Jepret sana jepret sini akhirnya kita istirahat sejenak dibebatuan sambil menikmati pemandangan Air Terjun Fiji.

Memang ya, di daerah Singaraja, Buleleng ini banyak sekali tempat wisata Air Terjun dan hampir semuanya berkesan. Next trip nya mau mencoba yang baru, katanya pak Wayan ada bukit yang apik banget untuk kita jelajah pada saat pagi hari dengan pemandangan sunrise. Hmm… kapan yaa.

HAVE A NICE DAY!

Jalan Santai: Ranu Kumbolo

Sedari dulu sebenarnya saya merasa tidak kuat untuk naik gunung. Merasa penuh pertimbangan ini itu, nanti kalau gini gimana kalau gitu gimana. Pokoknya heboh dengan pikirannya sendiri. Lalu, sekitar tahun 2015, teman kantor mengajak saya untuk mendaki Gunung Batur, Bali. Tidak ada bayangan sama sekali bagaimana bentukan jalur Gunung Batur. Setelah membaca-baca di blog, dikatakan hanya 2 jam bisa sampai puncak yang tingginya hanya 1717 mdpl. Saya cuman berpikir “ah, tidak masalah”, dan juga ketika itu saya baru membiasakan diri untuk jogging kembali pasca lulus kuliah. Latihan mengatur napas sudah dipersiapkan. Ternyata jalurnya cuman satu dan itu langsung tanjakan dan berpasir. Alhasil saya bisa sampai puncak (di pos pertama). Empat bulan kemudian, teman kos saya berkunjung ke Bali dan mengajak saya naik kembali ke Gunung Batur dengan full mengitari Gunung Batur. So, i’m already happy and satisfied with that achievement. Haha..

Awal April 2018, saya diminta untuk mengikuti Rapat Koordinasi Tahunan di tempat saya kerja. As you know, kegiatannya seperti pembahasan dan pengembangan bla bla bla yang diakhir sesi pasti ada kegiatan outing. Tahun ini, dari Kantor Pusat membuat ide fantastis sampe melongo karena mereka ingin kegiatan outingnya di Ranu Kumbolo. ((RANU KUMBOLO)).

Tidak pernah masuk dalam list “what should i do before i die” versi saya untuk bisa main atau berkunjung ke Gunung Semeru. Ever. Karena saya pikir Gunung Semeru itu Gunung yang paling di agung-agungkan oleh para pendaki. Gunung tertinggi di Pulau Jawa. Rasanya gak pantas aja saya naik kesana. Ahaha..

Apakah saya jiper sehabis mengetahui keinginan kantor pusat? haaa jelas sekaleee.. Hahaha.. Sebelum berangkat pun saya sudah cek sana sini di blog-blog orang seperti apa rutenya, penampakannya seperti apa. Untungnya sih hanya sampe Ranu Kumbolo saja gak sampai puncak. Akhirnya saya memantapkan hati untuk ikut serta dalam outing kali ini. Saya sudah mempersiapkan segala sesuatunya dari mulai cari jas hujan ponco, sandal jepit, obat-obatan yang biasa jadi senjata saya kalau dinas luar, kaus kaki, dan buff. Perjalanan ke Ranu Kumbolo sendiri sudah dipersiapkan sama kantor pusat dengan menggandeng event organizer (EO), jadi seperti tiket masuk, tenda, sleeping bag, makanan ringan, air mineral, obat-obatan sederhana, sarung tangan, dan jaket anti dingin sudah dipersiapkan mereka. Berasa eksklusif karena tamu besar yang ikut outing adalah Direktur bagianku. Ahahaha..

Kegiatan outing ini diikuti lumayan banyak orang dari seluruh cabang dan kantor pusat. Kalau ditotal, ada 104 orang yang ikut serta, 30 diantaranya perempuan termasuk saya. Diantaranya, hanya 20% aja yang anak-anak muda. Sisanya ibu-ibu sekitar 35 tahun ke atas dan ada beberapa yang hampir masuk purnabakti. Ketika saya mengetahui hal ini saya cuman berpikir sepertinya saya akan bejalan sangat lambat dan akan melelahkan menemani ibu-ibu ini. Mereka tetap keukeuh untuk ikut serta karena merasa kapan lagi bisa ikut sampai ke Ranu Kumbolo. Turns out, benar apa yang saya khawatirkan. Baru 1/25 perjalanan (baru jalan 100 meter dari gerbang tulisan selamat datang) mereka sudah berhenti dan minta porter untuk mengangkut tas mereka. Oh my.. Belum lagi ada ibu-ibu yang menyalahkan tasnya berat dikarenakan bawa air mineral. Untung saja pemandu kami, mas Ali begitu sabar menemani ibu-ibu riwil ini. Setiap berapa ratus meter istirahat dan cekrek-cekrek foto. Padahal pemandunya sudah mengatakan bahwa perjalanan ini panjang, 17 km dengan asumsi sampai ke Ranu Kumbolo 4-5 jam. Kami baru saja berjalan di pukul 13.30 WIB dari RanuPani dan sudah banyak berhenti nya. Untuk ibu-ibu muda sih mereka santai-santai aja, jalan ayo, istirahat ayo, lanjut lagi ayo.

Depan Gerbang Bersama Bu Ibu
View Gerbang Selamat Datang
Jalur Menuju Pos

Sejatinya saya yang khawatir dengan perjalanan kali ini. Pertama, karena ini Gunung Semeru (tetap takut buat menyapa Gunung ini), kedua, posisi saya sedang berhalangan (dihari kedua), ketiga, saya gak pingin ketemu maghrib pas perjalanan (u kno what i mean). Lalu, dari 4 pos yang harus dilewati untuk menuju Ranu Kumbolo, kami sudah ketemu marghrib di pos 2 menuju pos 3.  Huft.

Perjalanan menjadi lembih lambat, melelahkan, dan mulai kedinginan karena saya membawa tas yang penuh namun gerakan berjalan saya yang tidak cepat karena mengikuti irama jalan ibu-ibu, dan rasanya semua darah turun ke kaki. Ketika sampai di pos 3 kami diminta berhenti sejenak sambil menunggu rombongan yang tersisa di belakang. Dinginnya gak kira-kira. Saya tetap tidak mau menggunakan jaket, saya hanya menggunakan topi kupluk, sarung tangan dan buff karena saya tahu bahwa saya gak kuat dingin. Jaket yang saya bawa adalah senjata terakhir saya yang akan saya gunakan pada saat tidur nanti.

Pos 3 menuju Pos 4 perjalanan lumayan panjang dan hanya di bagian pertama saja yang tanjakan. Selama perjalanan saya cuman bisa berdzikir dan fokus berjalan sambil mendekatkan jarak dengan teman didepan saya agar tidak tertinggal. hahaha.. Gimana ya, rasanya uda kekurangan darah banget, hampir ngelantur dan mau udahan aja. Untung masih ada sisa tenaga dan motivasi yang kuat buat tidur di tenda. Walaupun pada rute ini saya diikuti sebentar oleh “yang tak terlihat” karena pada saat itu posisi saya dibelakang dan tidak ada siapa-siapa. Haha..

Pos 4 ke Ranu Kumbolo, perjalanan menurun dan masuk ke bagian pinggir danau. Disini angin dingin berhembus kencang, saya tambah kedinginan. Akhirnya kami sampai ke Ranu Kumbolo pukul 20.30 WIB, 6 jam yang melelahkan. Saya melihat banyak sekali tenda yang sudah dibangun, internal kami maupun dari para pendaki lainnya yang hendak beristirahat. Sampai disana kami disambut beberapa teman-teman yang sudah lebih dulu sampai. Mereka bilang ada makan malam dan masih diambilkan di posko dapur. Saya sudah gak nafsu buat makan dan yang terpikirkan cuman nggeletak di tenda. Syukurnya ada bapak-bapak dirombongan kami yang minta masuk tenda dahulu. Saya dan teman saya langsung mengikuti beliau dan ditunjukkan tenda yang masih kosong oleh panitia. Saya langsung menggelar matras dan sleeping bag yang telah disediakan. Memakai kaus kaki tebal, memakai jaket, topi kupluk, sarung tangan, buff di bagian hidung dan bibir. Peralatan lengkap untuk tidur. Nyatanya sebelum tidur kami diminta untuk berbagi tenda dengan 2 teman lainnya. Jadi tenda cilik yang harusnya cukup buat 2-3 orang, diisi 4 orang. Saya yang badannya lumayan bongsor gini alhasil dapat dipojok dengan kontur tanah yang gak manusiawi. Hahaha..

Walaupun saya tidur miring sana miring sini dan tetap menggigil, saya tetap bersyukur bisa tidur lelap barang 15 menitan tiap ganti posisi. Pagi-pagi saya terbangun karena banyak suara-suara orang yang bersiap mengambil momen sunrise. Saya berniat ke toilet dahulu, dengan menggunakan sandal jepit,  membawa hp, dan air mineral untuk bersih-bersih saya keluar tenda dan kaki saya langsung beku karena dingin banget. Pft. Pas ke toiletnya yang dibilang baru itu, ternyata masih belum valid karena airnya belum disediakan secara terus menerus. Jadi saya sudah menemui bentukan toilet kotor dan bau yang aduhai.

Lanjut, setelah dari sana, saya menuju tenda dan melihat matahari sudah muncul sedikit demi sedikit. Momen langka karena penampakannya bagus banget. Sampai terharu ngeliatnya.

Teman saya mengajak ke tanjakan cinta untuk lebih menikmati suasana. Kami naik sampai hampir ke ujung tanjakan, dan benar katanya, lebih syahdu. Kamera hp pun kalah sama apa yang saya lihat dengan mata sendiri. Setelah matahari sudah cukup naik dan momen sunrise nya selesai, saya dan beberapa teman melakukan foto bersama (as usual ya), foto juga dengan tim dari kantor saya yang ikut serta dalam outing ini dan tidak lupa foto di papan Ranu Kumbolo 2400 mdpl. Ahahahaha… Ini wajib lho.

Setelah jam 06.30 WIB ada yang naik ke tanjakan cinta dan ingin melihat oro-oro ombo. Saya sendiri tidak menuju kesana karena uda mikir rute baliknya akan sama dengan yang kemarin malam. Jadi saya menghemat tenaga. Jam 07.00 WIB kami disuguhkan makan pagi, nasi sop ayam telur dadar dan rendang. Gila, makanan super enak yang saya makan sepanjang perjalanan ini. Pft. Gimana nggak, kemarinnya kagak makan malam, yeekaan.

Pada saat makan, saya diajak oleh teman saya dari cabang Makassar untuk lebih dulu balik ke RanuPani. Saat itu saya mengiyakan karena kami akan berjalan bersama dengan 4 orang lainnya. Jam 07.30 WIB kami pamit lebih dahulu ke teman-teman lainnya. Karena saya perempuan sendiri yang ikut rombongan ini, saya ada ditengah-tengah mereka biar bisa saling jaga. Pemandangan pada saat malam kami lewati kemarin ternyata bagus banget. Hamparan danau, hutan dan bukit yang saling mengelilingi. Pace jalan kami adalah semi cepat dan karena jalannya sudah khatam kami lewati, rasanya jauh lebih mudah. Kami hanya butuh 5-10 menit untuk istirahat di tiap pos yang kami temui. Kami memerlukan waktu 3 jam saja buat sampai di RanuPani. Perjalanan kembali ke RanuPani ini jauh lebih menyenangkan dan bertenaga dibanding kemarin.

Sekian cerita ringan saya mengenai perjalanan santai saya ke Ranu Kumbolo. Perjalanannya menyenangkan karena sudah ada rute nya, walaupun ada rasa emosi-emosi yang gak jelas karena bareng rombongan yang tidak biasa, tapi overall salah satu perjalanan yang bisa diceritakan ke teman-teman dan diblog ini. Hihi..

HAVE A NICE DAY!