DIY: Ice Cappucino

Saya mau bagi hasil racikan minuman dari ngambil resep pada sebuah laman web. Membuat Ice Cappucino sendiri.

Dari dulu sebenarnya saya pengen tahu gimana sih buat cappucino, karena terkadang ketika mencoba di sebuah coffee shop yang terkenal itu dan di beberapa coffee shop di daerah saya tinggal, rasanya ya sama. Beda di kopinya. Akhirnya, ketika saya searching di internet, ketemu resepnya. Oke, mari kita mulai:

Bahan:

100 ml Cold Brew Coffee 1:1 (beli di Seniman Coffee, Ubud)

2 sdm Gula

200 ml Whipping Cream (saya pake Anchor)

Ice a lot of Ice

Blender

Caranya cuman 1 aja, masukkan semua bahan ke dalam blender sampai es batu hancur. Bahan ini bisa untuk 2 (dua) gelas.

Hasilnya:

20150103_084653

Rasanya enak! Beneran deh. Ketika di sruput, whipp creamnya kerasa banget dan after taste rasa pahitnya kopi. Pas! dan mungkin menurut saya ini cappucino yang saya inginkan. Tapi tapi tapi mungkin whipp creamnya dikurangin ya, karena lumayan mendominasi disini. Lemak-lemak beterbangan. hahah..

Dan akhirnya saya mengakui kenapa cappucino atau latte yang dijual di coffee shop dipatok harga diatas 20k, karena untuk whipp creamnya saja sudah diatas 30k. Kalau dihitung-hitung, untuk minuman cappucino ini bisa dihargai 28k/gelas. Sebenarnya bisa sih bikin whipp cream sendiri biar lebih authentic. Tapi saya lagi pengen cepat-cepat buat. Hahaha..

Kalau mau yang gampang bikinnya tidak pakai blender, bikin frapuccino aja. Cukup pake susu cair, kopi, air dingin, gula. Buat kopinya cukup pake shaker dan di blend didalam gelas berisi susu cair. Jadi deh. ๐Ÿ˜‰

Semoga bermanfaat, teman-teman!

HAVE FUN!

Advertisements

Project 7: Nanoblock Daruma

โ€œMainan adalah alat penghibur yang tidak lekang oleh waktu dan umurโ€

Itu ungkapan yang pas buat saya karena saya masih suka mainan kecuali boneka barbie. Please, yang itu saya gak ada minat sama sekali walaupun waktu kecil pernah dibeliin, tidak terlalu saya sentuh. Hahah..

Oke, balik lagi. Pada saat semester akhir saya mulai menyukai mainan rakitan Gundam. Awalnya Gundam yang murah meriah dulu, yang dibawah 100rebu. Terus lanjut lagi beli yang agak mahal dikit dari yang sebelumnya. Selain itu juga saya agak condong ke satu merk, misalnya Gundam yang dibuat sama Bandai, menurut saya kualitas plastik yang digunakan bagus dan baik. *sotoy kamu, che*

Nah, belum lama ini saya nyangkut di mainan Nanoblock. Gegara saya ngefollow akun yang suka nayangin foto yang keren-keren dan dengan kekuatan kepo saya, akhirnya saya menemukan akun jualan online yang ngejual Nanoblock. Makanan apa itu Nanoblock?!

Nanoblock adalah serangkaian mainan konstruksi yang ukurannya 5mm x 8mm x 6mm dan yang paling panjang 16mm. Perusahaan yang membuat Nanoblock adalah Kawada Co. Ltd. Yang berasal dari Jepang. Saat ini sudah 31 negara yang ikut mendistribusikan mainan Nanoblock. Kalau teman-teman pernah melihat Lego, nah Nanoblock ini bentuknya berkali lipat lebih kecil. Sama-sama enak buat rangkai. Nanoblock saat ini sudah memiliki lebih dari 20 jenis dan di bagi menjadi 3 seri. Seri hobi, seri pemandangan, dan seri koleksi mini.

Saya sendiri untuk pertama kali membeli Nanoblock seri mini yaitu Daruma Doll. Online shop yang menjual Nanoblock dan Fuji Instax. Ragam Nanoblock yang disediakan disana cukup beragam dan yang pasti trusted seller. Huehehe..

Pas ngebuka paketan yang dikirim, saya mikir ini sekecil apa sih. Ternyata emang kecil banget. -__-โ€œ Saya buka satu-satu isinya, di bagi perbagian dan ada instruksi pengerjaannya. Saya ikuti satu demi satu instruksi nya, lumayan jelas juga dan gak ribet buatnya. Akhirnya beberapa satu setengah jam sudah jadi Daruma Doll saya. Yeay!

Saya memilih Daruma Doll itu kenapa ya, erm.. sebenarnya karena kalau gak salah ingat memiliki makna yang cukup dalam. *ceileeeh* Daruma memiliki makna pantang menyerah pada tujuan kita. Kita harus fokus, berkomitmen, memiliki kebulatan tekad, dan Never Give Up!

Pada foto Nanoblock saya, mata dari Daruma Doll sendiri hitamnya cuman satu, itu karena saya memiliki tujuan untuk kedepannya. Apabila tujuan tersebut tercapai, mata yang lagi satu akan saya ubah menjadi hitam. ๐Ÿ™‚

Saya bukan tipe orang yang percaya banget sama hal-hal yang diluar hal-hal yang biasa dilakukan oleh masyarakat, tapi kalau hanya sekedar sebagai pengingat mah gak masalah lah ya. Hehehe..

Nanoblock sendiri di bandrol dari harga paling murah (di Indonesia) adalah seratus tiga puluh ribuan dan yang paling mahal sampai sejuta keatas, tergantung dari tingkat kerumitan dan banyaknya block yang dipakai. Tempat mana saja yang bisa kita beli kalau gak mau beli di online shop adalah salah duanya di Books & Beyond dan Kinokuniya, masih ada di Jakarta saja stocknya. Kalau mau beli di luar negeri di check permasing negara apakah ada Nanoblock atau tidak. Yang pasti kalo ada toko buku Kinokuniya, mereka jual Nanoblock.

Oke deh, segitu aja sharing-sharing tentang mainan. Kalau ada mainan yang aneh-aneh dan berbentuk rakit merakit, boleh lho ya di info-info. Siapa tau minat. Hihi..

Ps: saya lagi nunggu kiriman nanoblock pikachu nih.. :p

 

Have a Nice Day!

Project 6: Gundam Age-1

Sudah sebulan yang lalu saya mencoba merakit full Gundam mini part II. Sebenarnya saya sudah membelinya pada bulan Januari di sebuah pameran mainan. Ceritanya sebagai motivasi menyelesaikan โ€œtugas-muliaโ€. Awalnya tahan seminggu, cuman buka-tutup ngeliat isinya, setelah itu karena teman datang dan mulai bosen, saya menawarkan untuk ngerakit Gundamnya. Karena dia mulai ngerakit awal, saya terdistorsi dan malah mantengin rakitan daripada mantengin layar laptop. (-__-โ€œ) Namun dengan jurus-jurus ora cetho akhirnya saya berhasil menahan hasrat meneruskan rakitannya hingga โ€œtugas-muliaโ€ itu selesai berbentuk hardcopy dan antek-anteknya. *tepok tangan*

Gundam Age-1
Gundam Age-1
Isi Gundam Age-1
Isi Gundam Age-1

Nama Gundam mini yang saya beli adalah Gundam Age-1 (Normal-Titus-Spallow). Jadi tahun 2012 kemarin, Bandai ngeluarin Gundam Age 1 sampai 3. Saya lebih memilih yang Gundam Age-1 karena yaa saya pikir lebih enak dimulai dari yang pertama lalu kedua dan ketiga. Gundam Age ini tangannya dapat digerakkan sama seperti Gundam Shroud serta lebih tinggi, bisa bertransformasi dari Normal ke Titus (merah) atau Normal ke Spallow (biru). Tambahannya ada Gimmick atau tempat buat menyimpan tangan-kaki-senjata ketika dibutuhkan untuk bertransformasi. Ketiganya memiliki weapon yang berbeda dan ketiganya sama-sama keren menurut saya. :3

Semoga saja dikemudian hari saya bisa merakit Gundam Age-2 dan Gundam Age-3 lalu mencoba merakit yang lebih besar. Hihihi..

Dibawah ini ada beberapa foto hasil rakitan. Fotonya menggunakan kamera Nikon F80, karena baru belajar, jadi hasilnya cukup bagus *pede*

Have Fun!

Bermain dengan Nikon F80

Saya mulai menyukai kamera dengan roll film semenjak menggunakan Fujica M1 setahun yang lalu. Sedikit demi sedikit sudah bisa menguasai kamera yang cukup lawas ini. Saya memakainya selalu di siang hari karena tidak memiliki blitz dan enam bulan yang lalu akhirnya saya membelinya, hasilnya malah gak jelas. Hahaha…Total penggunaan roll film pada Fujica M1 sekitar 10 roll film.

Bulan februari lalu ketika saya pulang kampung, saya menemukan kamera SLR Nikon F80 teronggok di kotak penyimpanan alat rekam (video, kamera, kamera digital, dll). Daripada didiamkan lebih baik saya mencoba kamera tersebut. Nyatanya ketika saya melihat kebelakang kamera, kamera ini menggunakan roll film. Wow. Dulu mungkin ini kamera keren banget kali ya, fokusnya sudah sehebat SLR tapi masih menggunakan roll film. Hahahha..

Nama: Nikon F80/Nikon N80

Lensa: Nikon AF Nikkor 28-80mm f/3.5-5.6G

Karena buku manualnya tidak saya temukan, saya mencarinya di internet. Setelah membaca secara seksama, saya gak ngerti. (-___-“) Bagian yang saya paling mengerti adalah bagian cara memasukkan dan mengeluarkan roll film. Sisanya adalah coba-coba. Sempat bertanya dengan teman saya yang mahir di dunia per-SLR-an, mengenai exposure-autofocus-dan-lain-lain. Akhirnya saya mulai mencoba-coba. Hasilnya adalah seperti yang dibawah ini. Gambar dibawah ini tanpa editan, hanya tag nama aja.

Bagaimana? awut-awut an ya. Hahahhaa.. Gitu-gitu ada yang bagus sesuai keinginan dan sesuai dengan keinginan kameranya. (-__-“)

Untuk beberapa foto yang sesuai keinginan, besok-besok saya post-kan, karena ada tema nya. ๐Ÿ˜‰

Have a Nice Weekend!

Project 5: Danbo!

Episode rakit-rakitan kali ini adalah membuat Danbo! Yeay! Sebenarnya saya sudah lama sekali melihat Danbo ini, sayangnya sebelumnya saya tidak tau namanya. (-___-“) Akhirnya pada bulan-bulan lalu terkuaklah bahwa namanya Danbo. Saya suka dengan Danbo karena emoticonnya yang seperti sedih dan muka ingin dikasihani. Huehehehe..

Pada saat saya searching di internet, harga yang dijual untuk merakit Danbo ini berkisar dari 50k-150k. Tergantung jenis kertas dan tergantung dari siapa yang mencetak. Nah, karena saya gak mau ngeluarin banyak duit cuman demi kertas, maka saya searching apakah ada danbo papercraft yang bisa di unduh atau tidak. Syukurlah ada. Huehehe..

Awalnya saya mendapat danbo papercraft yang berbeda, bedanya adalah tangan dan kepalanya tidak bisa digerakkan, jadi hanya tertempel di bagian lainnya, hal bagusnya adalah warna dan polanya yang menarik. Setelah saya mengunduhnya, saya menuju ke percetakan dan hanya menghabiskan sekitar 9k. ๐Ÿ˜€

Pada saat selesai mengerjakannya dan mengetahui bahwa polanya berbeda dengan yang asli, maka saya mencari kembali yang benar-benar bisa digerakkan. Setelah dicari-cari akhirnya ketemu. Sayangnya, warnanya kurang menarik dan agak rumit untuk membentuk tangannya. Tapi tidak apa-apa, itu tantangannya. ๐Ÿ˜€

Alat yang diperlukan untuk merakitnya hanya alas yang cukup tebal, gunting/cutter, penggaris, dan lem. Setelah menggunting yang cukup lama, dilanjutkan dengan merakit pola-pola yang sudah tersedia. Sekitar satu jam, Danbo sudah siap dipajang. ๐Ÿ˜€

Ini beberapa foto-foto bersama boeboe (my lucky bamboo), Danbo yang gede dan Danbo yang kecil.

Danbo ini sebenarnya bisa DIY (Do It Yourself) kok, lewat photoshop atau corel, dan bisa berbentuk polos atau berganti warna maupun ganti-ganti tulisannya. ๐Ÿ˜€

Selamat Mencoba!

Project 4: Last for you

“I know it ain’t easy
Giving up your heart
I know it ain’t easy
Giving up your heart”

Adele-one and only

Terjebak dalam intaian perasaan itu menjemukkan. Sangat terasa apabila perasaan itu hanya satu. Bukan dua perasaan di kedua belah pihak. Dan saya mengalaminya. Sekali lagi saya tekankan, saya mengalaminya. Sudah berapa lama mengalaminya dan memendamnya? 6 semester, ini masuk semester ke 7. Gila! ya saya gila! Dan ini yang terakhir saya lakukan untuk orang itu. Saya gak peduli lagi apa yang bakal dikata. Hell with that! Yang perlu saya lakukan adalah memberikannya dan sudah. Tutup buku. Tutup perasaan. Muak. Ya! Muak…. karena ulah sendiri.

Setahun lalu pernah saya berikan barang yang sampai saat ini saya belum pernah melihat itu dipakai. Erm, peduli gak peduli. Toh setahun berikutnya saya tetep saja ingin memberikan sesuatu di hari tambah umurnya. Pikiran brutal mengalahkan perasaan mengelak. Jadilah kemarin terjebak disebuah gedung bertingkat dengan berjejalkan barang-barang berwarna-warni dengan poster besar “diskon”. Semua tempat tulisannya sama. Ramai dan menyebalkan. Saya naik keatas, memasuki satu toko, mengambil barang yang sudah terpikirkan selama di perjalanan. Barang yang ditangan membuat saya bimbang. Seperti setahun yang lalu saya merasakannya dan saya tidak perlu membuang-buang waktu karena hal itu.

Barang itu masih teronggok dikamar hingga malam tiba. Belum dibungkus. Mencoba tidak peduli. Mencoba merasakan ini hanya hadiah biasa. Dan, saya mulai membungkusnya. Bungkusan se”biasa” mungkin, karena yang akan menerimanya bukan dia.

Saya akan memberikan di tempat tinggal sementaranya. Dia sedang tidak ada ditempat. Saya tahu dan memang sengaja. Hasilnya? saya tidak tahu. Tulisan ini pun ditulis sebelum saya memberikan ke tempat itu.

“I’ll close my eyes
‘Cause then I won’t see
The love you don’t feel”

Adele- I can’t make you love me

Newbie: my Fujica M1

Now I’m officially have the Old Camera Analogue, Fujica M1. I bought it from bazaar World Toy Cam 2011 in Lir Shop, Yogyakarta. Fujica M1 was made in Indonesia actually and i’m proud of it. hahah.

Pada saat saya menggunakan kamera ini, sedikit mengalami kesusahan karena hasil yang didapat selalu blur. Sehabis saya membaca beberapa blog komunitas, itu dikarenakan memang lambatnya pengambilan gambar atau tangan kita yang sedang bergetar/bergerak. Hueheh pantesan saja selalu ngeblur. Oiya, katanya fujica ini tidak bisa dipakai untuk jarak dekat a.k.a minimal jarak foto 100 meter. Begitu..

Hasil coba-coba saya cuman berhasil 32 dari 36 film. kenapa? yup karena under exposure, terlalu rendah cahayanya. huehehe.. :p

Oke ini saya tunjukin beberapa hasil jepretan saya. Huehe. Tanpa editan dan sangat amatir sekali.

Camera: Fujica M1

Lens: Fujinon

Roll Film: Kodak Max, asa 400, 36 exp, Expired date 2005.

ini di lampu merah balaikota yogya

acara BRIZZI beberapa waktu lalu, ada atraksi streetball

ini acara pembukaan kartu BRIZZI dari BRI

masih acara BRIZZI, ada Urban Ganon

topeng yang dipakai oleh Urban ganon

lampu kota jl. malioboro

acara pawai drum band di malioboro, ada 14 kota diseluruh Indonesia

masih pawai drum band di Malioboro

antusiasme warga menonton drum band

lampion Jogja Java Carnival

muka kantor Kedaulatan Rakyat. Terlihat lawas. ๐Ÿ˜€

sering ke pasar malam? berarti sering liat martabak Populair.. :p

Yup, ini sebagian hasilnya yang saya anggap cukup lumayan buat dipajang disini. hahahah.. ๐Ÿ˜€ enjoy! and keep hunting the nice spot! Cheers.