Cuman pendapat biasa

Pada saat pertama kali berada di lingkungan kerja, saya merasa senang karena “akhirnya” kerja. Iya, karena saya merasakan bagaimana begitu tidak gampangnya mencari kerja. Bolak balik ke gedung itu lagi untuk melakukan psikotes ataupun wawancara dengan beberapa perusahaan. Tapi mungkin untuk sebagian orang mencari pekerjaan itu begitu gampang. Salah satunya mungkin dengan menggunakan link orang didalamnya atau menjadi pegawai outsourcing terlebih dahulu lalu menjadi pegawai tetap setelahnya ketika yang bersangkutan merasa pekerjaannya sudah setara dengan pegawai tetap dan yang pasti meminta atau ikut dalam open recruitment pegawai tetap di perusahaan tersebut.

It’s the matter of mindset.

Kenapa sih mau menjadi pegawai outsourcing sampai lebih dari 2 tahun?” kenapa lah ini menjadi pertanyaan dan menjadi hal yang saya pikirkan. heuheu.. Pertanyaan ini pun bukan pandangan saya sebagai perusahaan, tapi lebih ke sebagai individu. Kalo perusahaan mah saya pikir sangat menguntungkan memiliki pegawai outsourcing, load kerja sama dengan pegawai tetap tapi pembiayaan nya jauh lebih murah. Ya kan?

Selama kurang lebih setahunan ini saya berteman dengan beberapa pegawai outsourcing, yang masih muda seumuran saya dan yang dibawah 35 tahun. Terbesitlah pertanyaan itu, saya merasa seharusnya teman-teman bisa menjadi pegawai tetap karena saya melihat load kerja yang sama di beberapa section. Apalagi mereka lulusan sarjana dan diploma. Memang sih walaupun sudah sarjana atau diploma tidak bisa dipastikan namun saya masih memiliki pola pikir bahwa lulusan sarjana atau diploma seharusnya bisa menjadi lebih baik untuk kehidupannya di perusahaan ini atau di tempat lain.

Choose your mindset of working: a. Career, b. Living, c. Career and Living?

Sekelebat pendapat diatas muncul selama beberapa bulan. Sampai saya mempunyai keinginan untuk membantu teman-teman untuk menjadi pegawai tetap. Tapi itu adalah pendapat egosentris saya sendiri. Kata-kata mengenai mindset ini terbesit ketika saya lagi mandi sih sebenarnya dan membuka pikiran saya yang selama beberapa bulan belakangan ini saya pertanyakan. Secara keseluruhan saya merasa kalau mindset for living berada pada teman-teman outsourcing di tempat saya kerja dan beberapa pegawai tetap yang masih menjadi officer walaupun sudah berumur diatas 40 tahun. Istilah yang saya pakai adalah keadaan settle atau berada pada zona nyaman. Alasan lainnya adalah ketika saya bertanya langsung kepada salah satu teman os, secara tidak langsung adalah ketidakinginan untuk dipindahkan/mutasi seperti pegawai tetap. Bagi perempuan, secara budaya disini, bekerja apapun namun tetap di kampung halaman karena acara keagamaan disini begitu kental dan menjadi hal yang lumrah. Pada mindset for career and living, terlihat pada beberapa pegawai yang produktif (23 tahun s.d kurang dari 40 tahun) dan beberapa teman outsourcing. Contohnya terlihat ketika ada recruitment sebagai pegawai tetap beberapa teman os ikut serta sampai tahap wawancara. Intinya adalah it’s the matter of mindset. What they choose and what i choose. Padahal sampai saat ini masih mengharapkan untuk kehidupan yang lebih baik untuk teman-teman. hihi..

Jadi begitulah, sekedar pendapat saya yang sepertinya suka-suka dan daripada di simpan di pikiran saya mending saya tulis disini. Ya kan? 🙂

Happy Working! 

Pretending

The most important thing is to enjoy your life – to be happy – it’s all that matters

-audrey hepburn-

What keep you alive is because of love. It doesn’t matter you don’t have any partner today, but you still have love from friends near you, your family,  your co-worker or you can just pretending to being in love with someone.

Why am i supposed to do that?

Because when you feel it, you are getting more happier and you get passionate with life. You getting more humble and brings hope about the future. The future that you, the only one, that knows about it.

So keep the spirit of love and you can keep moving forward. Be better and better.

Regards,

C.

Kepada..

Aku mulai mencoba menulis kembali. Mengenai hal apapun yang dapat kuceritakan. Mengenai perjalanan kecilku ketika aku kembali ke tempat asalku, mengenai hal-hal yang tidak penting dan mungkin membosankan, mengenai teman-teman baru yang aku temui di kehidupan kerjaku, dan apa saja.

Pada awalnya aku memang meninggalkan sejenak mengenai kegiatan menulis panjang. Aku lebih sering menulis di social media. Penting dan yang tidak penting. Mengupload foto mengenai hal yang aku sukai, menuliskannya, dan menyebarkan di social media lainnya. Terkadang menulis sesuatu di aplikasi chatting yang menurutku perlu ditulis tapi tidak mau terlalu diekspos. Walaupun alasannya cukup aneh tapi aku menyukainya, dan sepertinya itu salah satu tempat keluaran kata-kata dipikiran yang lumayan bagus serta konyol.

Aku mengharapkan agar aku dapat menulis panjang kembali seperti dahulu.

Kau tahu mengapa?

Agar kamu bisa membaca tulisanku. Sesederhana itu dan mungkin ini terlalu melankolis. Tapi, aku meyakini satu hal, ketika kamu membaca tulisanku, aku harap kamu menyukainya, dengan senyum kecil saja sudah cukup.

 

*Saat ini aku sedang mendengarkan lagu-lagu dari Adhitia Sofyan. Aah, lagu-lagu nya memang surreal buatku dan aku dapat menuliskan tulisan melankolik ini karenanya.

 

Denpasar, Oktober 2014

Semoga perjalanan tak berhenti sampai disini..

My Lesson (1)

Selamat Pagi.

Hari ini saya mendapatkan pelajaran tambahan dari kerasnya jalanan di tempat saya tinggal. *sounds like really serious*

Sekitar pukul 07.20 pagi saya masih dua kilometer dari rumah, waktu menunjukkan akan terlambatnya saya berangkat kerja. Di depan, saya melihat lampu warna kuning, saya berniat menerobos. Saya berpikir mobil sejenis ma*da bewarna putih tepat di depan saya ini akan ikut menerobos juga. Kami sama-sama masih meng-gas kendaraan masing-masing. Saya berada dikanannya hanya beberapa centi, tiba-tiba dia sedikit kekanan dan mengerem di jarak yang masih agak jauh dari zebra cross. Tidak jadi menerobos.

dan terjadilah.

serempetan yang berbunyi lumayan keras.

—————————

Tiba-tiba pengendara mobil itu keluar. Perempuan yang cukup tinggi, memakai dress berwarna merah yang cukup ketat. Keluar dengan wajah marah. Memandangi baretan di mobilnya yang tidak sengaja saya serempet. Saya tidak bisa keluar karena pintu saya tepat disamping pembatas yang cukup tinggi. Saya hanya bisa memandangi perempuan itu dan meminta maaf (dengan manangkup kedua tangan) ketika dia melihat saya. Dia masuk kembali dengan wajah yang (masih) marah.

Baretannya berwarna hitam dan panjangnya sekitar 3 centimeter. Mobil didepan saya melaju dengan jalur yang sama dengan saya.

Saya tahu sepertinya dia mengambil foto plat dan mobil saya. Karena biasanya dia depan saya, ketika ada lampu merah berikutnya, dia berada di kiri saya, dan saya berada tepat didepan bagian kanannya.

Sejujurnya, saya masih tidak tahu apakah saya sepenuhnya bersalah dalam hal menyerempet ini. Atau kah kita sama-sama salah. Dalam artian, bilamana pengendara mobil tersebut melihat kaca spion, dan lebih maju sedikit tepat dibelakang zebra cross, mungkin baretan yang timbul tidak akan separah yang tadi atau tidak terjadi kejadian seperti ini.

Kalaupun saya terdakwa bersalah dalam menyerempet, saya minta maaf, maaf yang sebesar-besarnya karena kecerobohan, keugalan, dan konsentrasi yang kurang mengakibatkan kerugian kepada orang lain.

Saya tahu pasti, bagaimana perasaan pengendara mobil yang kena serempet, mobil dengan jarak dekat hampir keserempet saja sudah kesalnya setengah mati.

Tapi satu yang saya minta, bila pengendara mobil tersebut mem-posting di media sosial, meng-upload mobil saya, coba dipikirkan sekali lagi. Serempetan yang saya timbulkan sepanjang 3 centimeter. Apakah worth it mem-posting kejadian tersebut dan kemungkinan besar akan terjadi bully besar-besaran terhadap pihak terdakwa.

Semoga mbak pengendara mobil tersebut tidak melakukan hal yang saya takutkan. Semoga saja.

Sekali lagi saya minta maaf atas kejadian tadi, mbak ber-dress merah. Saya akan lebih berhati-hati dan lebih waspada.

 

Salam.

:) Back in Time

“Maturity has more to do with what types of experiences you’ve had, and what you’ve learned from them, and less to do with how many birthdays you’ve celebrated.”

(Anonymous)

When i see the calender in 2012, i can see the same day and week in 1990. It means (in my opinion) that i have a chance to feel again when i was born. Back in Time. I feel grateful. Really am.

Today, the next day, the day after tomorrow, or even a years later i have to always thanks to God, to my parents, to everybody who always care about me. To be more mature and always step forward with determination.

“And in the end, it’s not the years in your life that count. It’s the life in your years.”

(Abraham Lincoln)

Grateful June!

Menuliskanmu dan Mengantarkanku

Menuliskan catatan terakhir untukmu ternyata tidak membukakan jalan menuju kelegaan. Merasa bahwa kesalahan ini selain dipihak ku, juga di pihak mu. Tetapi saat ini aku paham bahwa kesalahan itu ada dipihakku. Kata-kata yang kupilih dan kurakit ternyata mengantarkanku kepada stagnansi. Disisimu tetap merasa kosong, sedangkan disisiku masih sama, tidak merubahku pada kekosongan yang sama denganmu.

Setelah beberapa waktu berlalu, aku tidak mengerti mengenai terkaan-terkaan yang ku buat kepadamu. Seperti teka-teki yang tidak bisa dipecahkan. Seakan-akan yang kamu tulis adalah sebuah pengenalan tidak langsung kepadaku. Ah, aku lupa bahwa semua itu adalah dunia maya. Apa yang ada saat kaki terpijak ditanah, raga saling berdekatan, mata saling bertatap, membuatku semakin tidak memahami mu. Apa yang kamu inginkan?

Memandangi catatan mu diantara tumpukan berkas-berkas lainnya membuatku merasa bahwa aku harus mengosongkan perasaan yang stagnan ini. Menunggumu membuatku lelah. Menerka-nerka apa keinginanmu lebih melelahkan. Aku berusaha untuk tidak menyesalinya, keputusan yang baik untuk mengembalikan apa yang seharusnya ada.

untukmu dan untukku.