Trip: Air Terjun Aling-Aling

Berwisata di Pulau Dewata tak hanya sekedar keindahan Pantai dan luasnya Sawah yang berundak-undak, namun keindahan wisata Air Terjun tidak kalah menarik. Terdapat lebih dari 20 tempat wisata Air Terjun di seluruh Pulau Bali. Salah satunya yang akan kita bahas adalah Air Terjun Aling Aling.

Air Terjun Aling-Aling berada di Jl. Raya Desa Sambangan, Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali. Waktu tempuh dari Bandara I Gusti Ngurah Rai sekitar 3-4 jam perjalanan. Lokasinya cukup dekat dengan pusat kota Singaraja. Air Terjun Aling-Aling menjadi salah satu destinasi wisata setelah Air Terjun Sekumpul. Dengan merogoh kocek sebesar Rp 10.000 tanpa pemandu atau Rp 100.000 dengan pemandu, kita akan disuguhi pemandangan yang menyejukkan mata. Bagaimana tidak, dengan banyaknya pepohonan hijau diantara tebing-tebing tinggi dan suara-suara serangga yang saling bersahut-sahutan serta suara air yang begitu deras membuat suasana menjadi syahdu.

This slideshow requires JavaScript.

Pemandu mengajak kita berkeliling wilayah sekitar Air Terjun Aling-Aling karena dalam satu area terdapat 4 Air Terjun, yaitu Air Terjun Aling-Aling, Air Terjun Kroya, Air Terjun Kembar, dan Air Terjun Pucuk. Tempat pertama kita akan melihat Air Terjun Kroya, Air Terjun ini diperbolehkan untuk melompat dan berenang. Ketika memandangi Air Terjun Kroya, kita akan melihat tulisan yang dipasang di pohon yang isinya “Never Try, Never Know.” “Tunjukkan nyali anda.” “Test your adrenalin.” “Light on your spirit.” Tulisan ini mengajak para pengunjung untuk mencoba merasakan sensasi melompat di Air Terjun tersebut. Tempat kedua kita akan melihat Air Terjun Kembar dan Air Terjun Pucuk. Kedua air terjun tersebut sama seperti Air Terjun  Kroya, diperbolehkan untuk melompat dan berenang. Perbedaannya hanya pada ketinggiannya, Air Terjun Kembar dan Air Terjun Pucuk lebih tinggi dibandingkan Air Terjun Kroya.

Air Terjun Aling-Aling

Setelah menikmati pemandangan dan melihat aksi melompat para wisatawan, pemandu mengajak kita menuju Air Terjun Aling-Aling. Kita membutuhkan waktu 15 menit berjalan dari ketiga Air Terjun tersebut. Ketika menaiki tangga terakhir dan menapaki jalan yang disediakan, suara gemuruh air dan pemandangan tebing tinggi yang menjulang membuat kita lebih semangat berjalan untuk mencari asal suara. Kita akan melihat pemandangan Air Terjun setinggi 35 meter dengan debit air yang tinggi dan cekungan kolam sedalam 4 meter. Pemandu tidak memperbolehkan wisatawan untuk melompat di Air Terjun Aling-Aling, hanya diperbolehkan berendam dan berenang.

Pemandangan yang disuguhkan Air Terjun Aling-Aling, Air Terjun Kroya, Air Terjun Kembar, dan Air Terjun Pucuk, membuat kita menjadi lebih segar dan bisa kembali beraktivitas dengan lebih semangat.

(Tulisan ini juga dipos pada website ngurahrai.ap1.co.id. Segala konten dan gambar sama, karena yang nulis juga sama. Hahaha..)

Have a nice day!

Venue: CafelateO, Bali

Saat ini, ada banyak sekali tempat makan seperti café, fine dining, warung makan, dan restauran di Kota Denpasar dan sekitarnya. Walopun kebanyakan yang punya dari warga Bali sendiri, ada juga yang dari Kota Malang dan Kota Surabaya. Hal ini pun dikarenakan pangsa pasar yang cukup beragam. Tinggal pintar-pintarnya teman-teman memilih tempat makan yang diinginkan. Misalnya, memilih tempat makan yang halal atau yang tidak halal dan kembali lagi sesuai selera masing-masing.

Saya sebenarnya jarang sekali keluar rumah untuk sekedar mencicip tempat makan baru atau yang lama namun belum pernah dicoba. Sejatinya karena jarang ada yang bisa di ajak untuk mencoba tempat baru sih. Haha.. Kalau mengajak Ibu, ada beberapa tempat yang kurang diminati seperti makanan Jepang atau Korea. Padahal ketika itu ada keinginan mencoba makanan tersebut. Alhasil yasudah makan di rumah saja atau menggunakan aplikasi pesan antar makanan. Hahaha…

Oke, lanjut. Singkat cerita pada hari sabtu kemarin saya kedatangan teman saya dari jauh, dia sudah sempat bilang ingin menikmati atau mencicipi tempat makan/café yang ada di Kota Denpasar karena dia sudah cukup sering berkeliling daerah Kuta-Seminyak-Legian. Setelah mengecheck di instagram dan melihat review-review, berlabuhlah kami di pusat Kota Denpasar yaitu di Jalan Gunung Semeru, tepat di belakang Denpasar Cineplex atau dahulu sebutannya Bioskop Wisata. Kita mencari sampai ujung jalan tapi tidak menemukan tempat yang kami tuju, kami putar balik dan ternyata lokasinya tidak terlihat dengan jelas karena ditutupi tembok hitam, hanya seperempatnya saja yang dipugar dijadikan jalan menuju café.

cafelateo
Jl. Gunung Semeru No. 3

Café yang ingin kami datangi bernama CafelateO. Café yang memiliki konsep khusus untuk pecinta greentea dalam bentuk apapun. Mereka meng-claim bahwa greentea dan matcha nya berasal dari Uji, Kyoto dikarenakan tempat tersebut memiliki greentea dan matcha dengan kualitas terbaik.

Jam telah menunjukkan pukul 4 sore dan café sudah siap beroperasi 15 menit kemudian (sambil menunggu, kami makan fried chicken diseberang café). Kami masuk dan memilih tempat di pojokan dekat dengan tulisan berwarna merah kelap kelip bertuliskan “Be Weird” saya tidak tahu sebenernya esensi dengan tulisan tersebut apa tapi kami suka dengan konsep tempat duduknya, ada yang menggunakan kursi dan ada yang lesehan. Kami memilih lesehan karena rasanya lebih bebas saja untuk kaki kami. Beberapa menit kami berbincang, sempat bingung karena waiternya tidak memberikan kami menu. Ternyata oh ternyata, kami harus ke depan kasir untuk pesan makanan dan minumannya. Hahahha..

inside-cafe

Kami kedepan kasir dan melihat ada tulisan dipapan kapur kecil “Single Origin: Uji-Kyoto”, kami melihat menu dan kami memesan Gainmacha Geisha (20k), Classic Affogato (18k), Matcha Latte (21k), Matcha L’Epresso (25k), Ritual (18k), dan Croissant Matcha (18k). Kami cuman berdua dan pesanan kami seperti buat berempat. Haha..

 

This slideshow requires JavaScript.

Kita review ya teman-teman. Untuk Classic Affogato saya suka karena vanilla ice cream nya dari ice cream Diamond, karena ice cream ini dan campuran espresso apapun rasanya nikmat sekali. Matcha L’Epresso sebenarnya enak hanya saja saya lupa menginfokan ke waiter nya untuk memasukkan low sugar saja, alhasil saya seperti minum susu dengan gula yang banyak tanpa terasa matcha ataupun kopinya. Heu heu heu… Untuk Gainmacha Geisha adalah teh sencha, kalau habis bisa gratis refill, rasanya segar sekali dan tidak terlalu pahit, pas dilidah saya. Matcha Latte nya full susu tapi lebih mendingan dibanding L’Epresso nya. Haha.. Croissant Matchanya juga enak dan isi saus greenteanya banyak. Nah, yang menarik di café ini adalah menu Ritual, menu ini mengajarkan kita bagaimana upacara minum teh di Jepang (mengaduk matcha dengan air panas menggunakan chasen atau pengaduk teh berbentuk kuas pendek). Sejatinya sih gak diajarin sama waiter atau pemilik tokonya, hanya saja kita melihat melalui video bagaimana cara mengaduknya. Seru sekali.. Rasanya pun walaupun pahit, tapi segar dan tidak membuat gatal di tenggorokan.

Silahkan bila ingin berkunjung, café buka dari jam 4 sore hingga 11 malam setiap hari. Tempatnya mudah dijangkau dan banyak tempat duduk. Selain greentea, mereka menyajikan menu kopi, cokelat, es seperti kakigori, snack, dan lainnya. Harga terjangkau di kantong. Selamat mencoba!

Happy Hunting!

Trip: Nusa Penida, another story of Bali

Sebenarnya perjalanan ini sudah dilakukan beberapa bulan yang lalu. Waktu itu udah pengen nulis banyak. Eh, ternyata leyeh-leyeh mengalahkan segalanya ya. Hahaha..

Saya mulai saja ceritanya..

Kakak saya datang berlibur selama dua minggu dan saya sengaja banget menyimpan cuti demi nemenin kakak. Perjalanan dimulai pertengahan tahun, awalnya bukan ke Nusa Penida dan sekitarnya. Big plan kakak saya adalah ke daerah Labuan Bajo. Sayang, ketika hitung-hitungan terjadi, banyak dana yang akan terkuras. Lalu saya memberikan opsi di sekitar Bali atau di daerah Jawa Timur. Kakak saya memutuskan untuk menjelajah daerah Bali saja dan yang belum pernah di jamah. Eng ing eng, dipilihlah Nusa Penida dan Nusa Lembongan. Dengan mantapnya kakak saya meminta saya dengan polosnya untuk buat itinerary. Cakep banget dah!

Hanya bermodal narasumber yaitu mbak Komang yang tak lain tak bukan adalah asli warga Nusa Penida  dan merupakan asisten rumah tangga di keluarga saya. Serta, cek sedetail mungkin di internet, dari peta nya, dari instagram, dan dari blog untuk jam keberangkatan boat (Nusa Lembongan). Waktu yang diminta untuk melakukan trip adalah 3 hari 2 malam dengan rute Nusa Penida lalu ke Nusa Lembongan.

Ada banyak tempat yang dapat kita kunjungi di Nusa Penida. Pulau kecil di timur Pulau Bali ini lebih terkenal untuk snorkeling dan diving. Tapi, bagian di daratnya gak kalah lho, seperti:

  1. Pura Dalam Ped: Bagi umat Hindu, Pura ini adalah salah satu tempat yang perlu dikunjungi untuk bersembahyang, untuk wisatawan bisa melihat ritual keagamaan disana.
  2. Goa Giri Putri: Tempat persembahyangan yang ada di dalam goa. Kata mbak Komang, masuk ke goanya sempit banget namun ketika sudah masuk, didalamnya luas sekali. Terletak di daerah Karang Sari.
  3. Pura Mobil: Tempat persembahyangan di dekat Desa Penangkidan, kenapa namanya pura mobil? Karena di dalam Pura tersebut ada 2 patung berbentuk mobil. Konon, ada penjajah yang meninggal di dalam mobil, warga setempat membuang mobil tersebut ke laut namun tak lama kemudian mobil tersebut kembali lagi. Warga akhirnya memutuskan tempat kembalinya mobil tersebut dijadikan tempat persembahyangan.
  4. Puncak Mundi: Pura yang paling tinggi di Nusa Penida karena berada di atas bukit. Bila berkunjung ke Puncak Mundi, kalian bisa melihat Gn. Agung dan Pulau Bali jauh lebih jelas.
  5. Pantai Atuh: Pantai yang lagi nge-hits di beberapa IGers Bali. Terletak di daerah Suana, pantai yang belum terjamah oleh banyak orang. Saking belum terjamahnya, perjalanan bisa menghabiskan waktu 2 jam. Haha..
  6. Kelingking Point / Old Manta Point: Pantai yang super private karena kalau mau kesana harus turun dari tebing yang sangat terjal. Lokasinya tak jauh dari Pura Mobil. Guess what? Pemandangannya gak kalah sama yang di Papua sana. So breathtaking! Too beautiful.
  7. Pasih Uug dan Angel’s Billabong: Sebelum pantai Atuh nge-hits, kedua tempat ini masih jadi primadona karena lokasinya lumayan dekat dengan pelabuhan Toyapakeh.
  8. Telaga Temeling: Tempat pemandian suci yang terletak di daerah Batu Madeg. Menuju ke tempat pemandiannya, harus berjalan turun..turun banget yang banyak tangganya dan fiuh menguras tenaga. Turun aja menguras tenaga, apalagi naik. Tapi, gak ada yang sia-sia dari perjalanan naik turunnya. Bagus banget pemandangannya. Gak pengen balik. Sampe wondering, ini kagak ada lift macam di karma kandara apa ya. Hahaha..
  9. Pantai Crystal Bay: Pantai yang berlokasi dekat sekali dengan pelabuhan Toyapakeh. Pantai yang saya bilang sangat bule dan (imho) biasa aja. Memang sih modelnya pantai banget yang bisa buat berjemur-jemur cantik, main air laut, dan menikmati pantai seperti biasanya.

Nusa Penida Map

Dari kesembilan tempat yang perlu dikunjungi, saya hanya bisa mendapatkan 4 (empat) tempat saja. Saya jabarkan sekalian dengan itinerary nya yaa.. Disini saya dan kakak mengajak mama untuk ikut serta. Tung itung quality time sama anak laki nya yang setahun sekali baru bisa balik ke Bali. Kalo papa mah jaga kandang di rumah aja. Hehehe…

Day 1 ( Nusa Penida):

06.30 kita sudah standby di Sanur untuk membeli tiket fast boat ke Nusa Penida, kalau tidak musim pulang kampung, lebih baik beli on the spot. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 30 menit. Pastikan pakaian teman-teman biasa aja dan siap basah. Rugi pake yang cantik-ganteng pas naik boat, karena masuk ke tepi laut. Kecuali kalo mau di gendong sama anak buah boat. Haha..  Harga: 75k untuk lokal, 250k untuk bule.

07.00 sampai di Pelabuhan Toyapakeh dan menunggu adik mbak Komang untuk menjemput serta menjadi guide kita selama di Nusa Penida. Disekitar pelabuhan ini kita bisa menyewa mobil atau motor untuk berkeliling. Untuk Motor merogoh kocek 50k kalau mobil saya lupa harganya. Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, penyewaan motor di Nusa Penida dan Nusa Lembongan tidak ada helm. Jadi gunakanlah kendaraan dengan hati-hati. Tipikal warga di Nusa Penida kalau naik motor memang kencang-kencang, tapi kita gak usah ngikutin lah ya. Mereka kan sudah biasa. Kalau pakai mobil harus jauh lebih hati-hati karena jalanannya tidak seperti di Pulau Bali. Jalanan di sini sempit dan berlubang-lubang.

07.00 kami menggunakan 2 motor menuju ke Desa Penangkidan, dimana kami akan menginap satu malam di rumah keluarga mbak Komang. Sejatinya perjalanan dari pelabuhan Toyapakeh ke Desa ini cukup 45 menit, namun karena jalanan penuh lobang, berbatu, naik turun, samping jurang, alhasil memakan waktu 1 jam 30 menit. Bayangkan lah pemirsa..

 

08.30 di rumah keluarga mbak Komang kami disuguhi makanan yang sederhana tapi rasanya enak sekali. Apa karena hasil perjalanan pertama yang bikin deg-deg an. Haha.. Akibat perjalanan tadi, saya dan kakak saya sudah bisa membayangkan bagaimana perjalanan selanjutnya dan memutuskan (dari saran adiknya mbak Komang juga) seharian ini ke 4 (empat) tempat saja dan waktu selesai perjalanan diperkirakan sampai maghrib.

09.30 memulai tempat pertama, yang terdekat dari Desa Penangkidan, yaitu Pura Mobil dan Kelingking Point. Didalam Pura Mobil kami seperti orang kebanyakan, berfoto-foto sambil memandangi laut luas. Sayangnya gak ada yang bisa kami tanyakan mengenai sejarah Pura Mobil itu sendiri. Lanjut, beberapa meter dari Pura Mobil, kami ke Kelingking Point atau Old Manta Point. Pemandangan yang breathtaking dan super private beach. Saya ngeliat kebawah aja sepertinya gak mungkin bisa turun, ternyata adiknya mbak Komang ini sudah 4 (empat) kali turun kebawah sana bersama teman-temannya. Edan!

10.30 setelah memuaskan mata melihat keindahan Kelingking Point, kami melanjutkan perjalanan ke Pasih Uug dan Angel’s Billabong. Jalanannya kacau, panas, berdebu, kering, dan hah duduk di jok motor saja sampe sakit. Beginilah, keindahan alam yang belum terjamah oleh banyak orang dan wisatawan mancanegara. Pemerintah Klungkung seakan tutup mata tutup telinga dengan rusaknya infrastruktur di Nusa Penida (yak, malah curhat). Oke di Pasih Uug ini nama terkenalnya adalah Broken Beach dan yang buat fenomenal adalah adanya tebing yang berlubang dan di atasnya masih bisa dilalui oleh motor. Warna laut yang bergradasi dengan apik serta semburan air laut yang menerpa tebing. Sungguh indah melihatnya!

Pasih Uug

Nah, di samping Pasih Uug kita bisa berjalan menuju Angel’s Billabong. Jalannya penuh karang, bisa dipastikan dahulu air lautnya setinggi dimana kami berjalan. Angel’s Billabong merupakan tempat antara karang besar dan didepannya adalah palung yang cukup dalam. Di tengah-tengah Angel’s Billabong kita dapat berendam disana. Tapi tetap hati-hati karena karang yang lumayan tajam dan licin.

11.30 Perjalanan dilanjutkan ke daerah Batu Madeg tepatnya menuju ke Telaga Temeling. Kalau tanpa guide yang asli orang sana, sepertinya kami akan nyasar, atau nggak cuman main tempat yang mainstream. Menuju ke Telaga Temeling, kami merasakan hal yang berbeda, rumah-rumah di daerah Batu Madeg begitu berdekatan. Lain halnya dengan daerah-daerah yang lain. Menurut saya malah daerah Batu Madeg ini seperti daerah Bunga Mekar dimana menjadi daerah percontohan dengan jalan yang bagus dan berkembang. Banyak pula yang menjadikan daerah ini sebagai tempat KKN teman-teman dari Universitas Udayana dan Universitas lainnya di Bali. Kami tidak membayangkan Telaga Temeling itu seperti apa dan bagaimana karena hanya dikatakan tempat pemandian suci. Nyatanya, ketika kami memasuki jalan yang bertuliskan “Telaga Temeling”, jalanannya berkavling dan menurun. Menurun banget. Heeuuu.. Shock therapy siang-siang bolong. Di sebelah kiri ada tanda berangka yang menerangkan kita akan turun sepanjang 10 km. Saya selaku penumpang menghitung mengikuti tanda tersebut.

Delapan kilo, tujuh kilo, enam kilo, kami disuguhi hutan tebing terjal di sebelah kanan kami, di poin dua kilo kami diberhentikan oleh pekerja pembuat jalan kavling untuk membayar sumbangan pembangunan jalan sebesar Rp 5.000/orang. Lalu tak jauh dari poin tersebut kami memutuskan untuk memarkirkan motor kami. Karena jalannya kembali sangat menurun, kami memikirkan kalo kami teruskan motor kami kebawah, naiknya nanti susah. Akhirnya kami berjalan kaki menuju ke tempat pemandian. Harapan kami dengan hitungan sekilo lagi tidak akan jauh berjalan.

Nyatanyaaaaaa.. kami turun gak nyampe-nyampe. Hahaha… Mana tangganya tinggi-tinggi pula. Dengan ngos-ngosan, pemandiannya akhirnya terlihat. Pemandian dengan pemandangan hutan tebing terjal dan pantai berpasir putih. Pemandian paling atas untuk laki-laki dan pemandian dibawah dekat dengan pantai untuk perempuan. Pemandian untuk laki-laki lebih luas dibandingkan dengan yang perempuan. Kami dari awal memang tidak ingin mandi, hanya ingin menikmati pemandangan disekelilingnya. Batu-batu besar berserakan di pantai tersebut. Kami beristirahat sejenak sambil mengumpulkan tenaga dan wondering bagaimana caranya naik tapi gak pake capek. Haha.. Adiknya mbak Komang udah ngilang dari pandangan, sepertinya dia mandi, kami berfoto-foto saja dan duduk manis di batu besar.

This slideshow requires JavaScript.

Setengah jam sepertinya cukup bagi kami untuk beristirahat dan bersiap untuk mencari makan siang. Kami naik dengan penuh perjuangan dan sambil berdoa kencang-kencang dalam hati agar dilancarkan sampai keluar dari Telaga Temeling. Kind of lebay, but trust me, it’s a bit frightening for me because of the path. Tak jauh dari daerah Batu Madeg yaitu di Penutuk, ada tempat makan yang jadi andalan adiknya mbak Komang karena dekat dengan sekolahnya. Namanya “Warung Pak De”, menjual soto ayam, nasi goreng, dan bakso ayam. Karena rasa lapar yang membuncah dan sudah menunjukkan pukul 2 siang, saya memesan soto ayam, kakak dan mama saya memesan nasi goreng. Tak disangka, kami ketagihan. Haha.. Kakak saya sampai memesan 2 nasi goreng dan dimakan bersama.

15.00 Perut kenyang hati senang tenaga kembali. Kami melanjutkan perjalanan menuju Pantai Crystal Bay. Tempat terakhir yang kami kunjungi. Menuju ke pantai ini sama seperti yang lain, ada banyak bolong-bolongnya namun jalanannya lumayan cukup besar. Pantai yang dekat dengan Pelabuhan Toyapakeh ini adalah pantai yang turis banget. Ada 2 penginapan besar yang dibangun di daerah Pantai ini. Yang membuat menarik adalah ketika kami menuruni jalan besar menuju pantai, kami disuguhi banyaknya pohon kelapa.

Sampai di Pantai, saya dan mama saya menikmati pemandangan di warung dekat sana, sementara kakak saya mandi di pantai. Keinginan kami adalah menikmati sunset di pantai tersebut, namun kalau kita menghabiskan waktu disana, kemungkinan besar kami akan pulang menuju rumah Mbak Komang dalam keadaan gelap gulita dengan jalan yang tidak beraturan itu. Kita memutuskan menikmati sunset di jalan. Tidak rugi, sunset terlihat jelas karena kita menaiki bukit dan arahnya ke barat.

Crystal Bay

18.30 Kami sampai di Desa Penangkidan, rumah Mbak Komang. Kami membersihkan badan dan makan malam. Menikmati bintang-bintang yang banyak sekali sambil berbincang-bincang dengan keluarga disana.

Keesokan harinya, kami bersiap menuju ke Pelabuhan Toyapakeh untuk menyeberang ke Jembatan Kuning Nusa Ceningan.

Foto dengan Basecamp

Perjalanan di Nusa Penida telah usai. Satu hari tanpa henti menuju ke 4 (empat) tempat dengan keadaan jalan yang super rusak itu benar-benar pengalaman yang tidak terlupakan bagi kami. Dengan adanya guide yang mengantarkan kami selama disana membuat perjalanan lebih lancar. Terdapat beberapa hal yang ingin saya sampaikan apabila ingin berkeliling di Nusa Penida, yaitu:

  1. Bawalah minum sebanyak-banyaknya. Gersang dan Panasnya bukan main. Jarang ada warung dan tempat makan.
  2. Gunakanlah sunblock, jaket tipis, penutup mulut, kacamata hitam, dan pakai sepatu atau sandal gunung.
  3. Bensin di Nusa Penida dihargai 15k/liter. Gunakanlah motor dengan hati-hati, karena tidak ada helm dan jalanannya yang tidak bersahabat. Kalau yang tidak terbiasa dengan jalanan tersebut biasanya after effectnya semua badan pegal-pegal.
  4. Kalau ada Guide yang mau mengantarkan itu lebih bagus lagi. Kalau dilihat di peta, sepertinya kita bisa berkeliling ke seluruh tempat tersebut. Sayangnya tidak seperti itu, karena kontur di Nusa Penida berbukit-bukit, jalan yang disediakan lebih banyak memutar dan out of nowhere. Sinyal paling banter adalah Telkomsel dengan sinyal internet adalah EDGE.
  5. Masjid atau musholla hanya terdapat di daerah Sampalan karena di daerah sana banyak pendatang dari Lombok untuk berjualan.

Nusa Penida sudah mulai berkembang layaknya Nusa Lembongan, namun pemerintahnya masih menutup mata untuk perbaikan infrastruktur kedua Nusa tersebut. Infrastruktur hanya diperbaiki ketika hangat-hangatnya pemilu daerah. Warga sendiri harapannya infrastruktur dapat diperbaiki secara berkala, air bersih selalu tersedia, marka jalan dan tanda jalan diperbanyak, serta agar dapat saling menjaga keutuhan alam yang ada di Nusa Penida. Semoga harapan ini dapat di dengar dengan baik bukan menjadikannya sebagai bahan pengembangan bisnis perseorangan. Aamiin.

 

Next Post lanjutan saya dan keluarga saya main ke Nusa Lembongan. Mari…

Trip: Museum Le Mayeur, Bali

Matahari semakin terik ketika saya memutuskan untuk mendatangi Museum Le Mayeur yang berada tidak jauh dari rumah tinggal saya. Lokasinya berada tepat di areal Pantai Sanur, Bali. Jika ingin mengunjungi Museum ini, jarak yang paling dekat untuk menuju tempat ini adalah melalui belakang hotel Sanur Paradise Plaza atau orang-orang sering mengatakan tempat makan mak beng (tempat makan seafood ala Bali).

Untuk menuju ke Museumnya harus dengan berjalan kaki karena masih di areal pantai, maka mobil dan motor harus diparkirkan sesuai dengan lokasi yang sudah ditentukan. Sayangnya, semakin sore menuju ke pantai tersebut, semakin banyak kendaraan yang parkir. Contohnya saya ketika mau menggunakan jalan tercepat menuju Museum tersebut, parkir penuh. Akhirnya saya harus menuju jalan satunya lagi yang lebih jauh ditempuh.

Saya sudah wanti-wanti ketika menuju ke Museum La Mayeur. Takut tutup karena waktu itu saya bertandang pada hari Minggu. Tahu kan ya, gak semua Museum di Indonesia mengetahui liburnya Museum itu hari Senin dan bukan hari Minggu, saya beberapa kali bertandang ke Museum yang tutup di Hari Minggu. Hehehe.. Tapi untung saja, Museum La Mayeur buka setiap hari kecual hari libur Nasional. Fiuh.. perjalanan panjang saya tidak sia-sia. Tiket masuknya pun murah meriah, untuk warga Indonesia di patok harga 5.000 rupiah untuk dewasa dan 2.000 rupiah untuk anak-anak.

Biaya dan Jam Museum

Ketika saya memasuki pintu masuk Museum La Mayeur, saya melihat Rumah. Rumah model Bali yang dijadikan Museum. Saya suka ukiran temboknya dan monumen untuk mengenang pemilik rumah yang tertata baik.

Pemilik rumah ini adalah Le Mayeur dan Ni Pollok. Le Mayeur merupakan pelukis berkebangsaan Belgia, dan Ni Pollok merupakan warga asli Bali. Le Mayeur memulai kehidupannya di Bali pada tahun 1932 dan bertemu Ni Pollok yang sampai akhir hayatnya menjadi model untuk lukisannya. Le Mayeur menjadi pelukis terkenal di Indonesia maupun di luar negeri. Pada tahun 1956, Menteri Pendidikan memutuskan untuk menjadikan rumahnya Museum dan disetujui dengan senang hati oleh Le Mayeur dan keluarga. Akhirnya pada tahun 1957, Museum Le Mayeur resmi dibuka dan menjadi hak milik Pemerintah Indonesia.

Museum Le Mayeur merupakan museum yang berisi lukisan-lukisan karya Le Mayeur. Lukisannya rata-rata bertema pemandangan dan kehidupan sehari-hari dengan model wanita yang tak lain tak bukan adalah Ni Pollok. Sekilas saya memerthatikan informasi mengenai lukisan La Mayeur adalah pada tahun 1937, Beliau melukis menggunakan kapur warna diatas kertas. Pada tahun 1942, Beliau melukis diatas bagor (tempat beras). Lukisan diatas bagor ini yang menyedot perhatian saya dan menurut saya yang paling bagus, karena belum pernah saya lihat. Warnanya penuh dan semi-abstrak menurut saya. Kebanyakan lukisan Le Mayeur yang dipajang tidak yang asli, alasannya karena lokasi Museum berdekatan dengan Pantai dan angin pantai kurang bagus untuk beberapa jenis barang. Oiya, bagus tidaknya lukisan berdasarkan orang awam seperti saya ini ya, yang pasti ada pendapat lain ketika dinilai oleh para pelukis atau orang yang bergerak di bidang seni. Hehe..

Art Gallery Ni Pollok

Pada tiap ruangan tertulis bahwa tidak boleh mengambil foto mengenai lukisan yang dipajang. Untuk menghormatinya, saya memang tidak mengambil foto untuk lukisannya, saya hanya mengambil foto mengenai penjelasan di tiap ruangannya. Museum Le Mayeur memiliki empat ruangan, tempat pencanangan, dan art gallery. Menurut saya, Museum Le Mayeur cukup sederhana dan gampang untuk dicerna antara informasi dan lukisannya.


Museum terdekat lainnya ada di area Renon yaitu di Lapangan Niti Mandala Renon, namanya adalah Museum Perjuangan Rakyat Bali, lokasinya tepat di dalam Monumen Bajra Sandi. Tutup pada hari Minggu (ingat.. ingat).

Ketika saya mencari di internet mengenai museum di Bali, ternyata banyak sekali. Rata-rata Museum mengenai lukisan. Paling banyak berada di area Ubud dan Kabupaten Gianyar.

Semoga saja saya bisa satu satu mengunjungi Museum yang ada di Bali. Pelan-pelan saja..

Have a Nice Day!

Sunset, Churros, and BeachWalk

Setelah berjalan-jalan ke daerah Nusa Dua, tepat sekali saya dan nenek saya ingin menghabiskan makan siang yang kami bawa. Kami menginginkan tempat yang settle untuk dapat menikmatinya. Saya berpikiran untuk makan siang di pantai Dreamland. Pantai Dreamland terletak di Pecatu Indah, memasuki areal perumahan elite. Saya sudah lama sekali tidak berkunjung ke pantai tersebut, alhasil kami tidak menemukan pantai tersebut. Usut punya usut ternyata akses ke pantai tersebut sedang di renovasi, jadi kendaraan tidak diperbolehkan masuk. -__-“ Terang saja saya tidak merekomendasikan nenek saya berjalan jauh kembali setelah sebelumnya sudah berjalan kaki menuju Water Blow. Akhirnya kami kembali ke arah keluar dan menemukan warung makan. Ternyata warung makan tersebut dapat dikatakan sebagai kantin para mbak-mbak caddy. uwuwuw~

Kami dengan percaya diri makan perbekalan kami dan hanya membeli minuman serta cemilan disana. Hal ini mengakibatkan mbak penjaganya sedikit merengut. Hahaha. Namanya juga kantin ya, setelah di hitung-hitung jumlah yang kami keluarkan untuk minum dan cemilan tidak sampai 20ribu (bangga to the max).

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah 3 sore. Kami memutuskan untuk menjadi Anak Gaul Bali (AGB). Yak, ke Mall. Hahaha.. Kami menuju ke Mall yang lagi fresh from the oven! Beachwalk Mall, Kuta.Tepatnya, mall ini ada di belakang pantai Kuta. Kita dapat menikmati keindahan pantai Kuta dan sunsetnya tanpa harus ke pantai, yaah bagi yang gak doyan ke pantai dan kotor-kotoran sih. 😀

Beachwalk 2

Beachwalk Mall ini bentuknya setengah lingkaran, gak terlalu luas sebenarnya. Ada tiga lantai disini dan menyuguhkan barang-barang branded serta tempat makan yang rasa-rasanya mahal yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Duh. Maksudnya model tempat makannya itu luar negeri banget, ada free cold beer gitu. Saya milih coffee shop aja kalo kesini. :))

Kalau mau menikmati sunset, kita bisa ke daerah tengah di lantai dua, disana pihak mall membuat taman bunga kecil dan ada tempat duduknya. Enak. Serta kalau ingin menikmatinya sambil makan atau minum, bisa ke cafe-cafe yang pas berada di kedua ujung mall. Ahh, asik lah pokoknya.

Kami berkeliling tak sampai sejam dan sudah sampai di lantai 3, saya melihat ada makanan yang menurut saya patut dicoba dan cukup murah. Ahaha. Nama dagangannya adalah “Churros”. Dengan konsep Street Snacks, Churros menyuguhkan 10 donat panas ala Spanyol yang dipotong memanjang, ditaburi gula saja ataupun gula dengan cinnamon. Bisa di tambahkan dengan toping saus coklat. Oiya, Churros juga menyediakan minuman coklat hangat. Sayangnya saya tidak mencoba minumannya. Saya memilih Churros dengan taburan gula dengan cinnamon serta topping saus dark coklat. Rasanya… Yummy!

Sambil menunggu jam 5 atau setengah 6, kami memutuskan untuk duduk-duduk di sebuah coffee shop tak jauh dari Churros. Nyatanya, pemilik coffee shop ini adalah orang Solo. Lha, pantesan mas nya medhok banget tadi pas ngerekomendasi kopinya. Hihihi. Saya memesan yang ringan-ringan saja, Ice Americano dan nenek saya memesan Hot Tea. Setelah menandaskan minuman, kami turun ke lantai 2 menuju taman bunga karena tempat dan waktu yang pas untuk berfoto. Hahaha..

This slideshow requires JavaScript.

Have a Nice Trip!   

Trip: Water Blow, Nusa Gede Island

Mengajak seseorang yang sudah pernah menginjakkan kaki di Bali dan sudah beberapa kali berkunjung ke tempat wisata membuat saya cukup kebingungan. Selaku warga setempat yang jarang pulang semenjak kuliah, diperlukan ekstra tambahan mencari informasi terkini tempat yang sedang atau belum dikunjungi oleh orang tersebut. Apalagi seseorang tersebut adalah yang sudah lanjut usia, a.k.a nenek saya sendiri. (-__-“)

Mencari tempat wisata atau tempat hiburan yang tidak membuat capek dan tetap bisa menikmati pemandangan yang tidak ditemukan di kota Jakarta. Setelah di cek dibeberapa tempat, hari itu saya memilih berkunjung ke daerah selatan, Nusa Dua. Ada tempat di Nusa Dua yang ingin saya kunjungi sejak lama, yaitu Water Blow di Nusa Gede Island. Erm, jadi ini sebenarnya modus saya untuk datang kesana dengan mengajak nenek saya. Hahaha.. No offense ya, nek. *kabur*

Kawasan Nusa Dua sebagian besar orang beranggapan hanya ada kumpulan hotel-hotel berbintang 5+ sampai tempat shopping serta teater. Namun, di dalam kawasan Nusa Dua, terdapat 2 pulau yang menyambung dalam artian kita bisa kesana dengan berjalan kaki. Salah satu pulaunya bernama Nusa Gede. Disana kita dapat melihat Gardu Pandang Gunung Agung dan Water Blow.

Rute jalan ketika sampai di depan kawasan Nusa Dua adalah setelah masuk dan diperiksa oleh satpam setempat, beloklah ke kanan, ikuti arah menuju ke “The Bay Bali”- Bali Nusa Dua Theatre-Bali Colection-hotel Hyatt Bali. Ketika melihat banyak mobil-mobil terparkir disana, kita sudah memasuki “The Bay Bali”, namun dikarenakan disana ada 2 pulau, untuk tahu yang mana Nusa Gede Island kita cukup melihat dimana lokasi restoran Bebek Bengil. Jalan setapak tersebut yang akan mengantarkan kita menuju Nusa Gede Island.

Ketika saya datang ke Nusa Gede, tepat pukul 11 siang dan cuacanya panasnya ngethang-ngenthang (panes banget, maksudnya). Ketika berjalan menuju lokasi Water Blow bersama nenek saya, saya berpikir dua kali, jalan menuju water blow agak membentuk gundukan, panas pula, nanti nenek saya bisa cepat capek. Akhirnya saya memutuskan untuk mengajak nenek saya duduk-duduk di pantai sebelum gapura Nusa Gede, pantai yang berpasir putih beserta bunyi deburan ombak yang besar namun menenangkan. Setelah meminta nenek saya beristirahat disana, saya jalan sendiri menuju Water Blow.

Bermodal kamera saku dan topi, saya berjalan menuju Nusa Gede Island. Di tengah-tengah gundukan rumput hijau, saya disuguhkan pemandangan dua patung Rama dan Lesmana yang tinggi dan besar. Bagus sekali!

Water Blow Sign

Water Blow Road 2

Water Blow Road

Lokasi Water Blow terletak di belakang patung, sedangkan Gardu Pandang Gunung Agung terletak tak jauh di samping patung tersebut. Tak sampai 5 menit, saya sudah sampai di gerbang yang terbuat dari bebatuan bertuliskan “Water Blow”. Jalan setapak yang terbuat dari kayu serta di kanan dan kiri ditanami tanaman hijau, menghilangkan rasa panas yang begitu menyengat. Di sekililingnya saya melihat ada dua jembatan yang sengaja dibuat untuk membantu kita lebih dekat melihat Water Blow. Apa sih Water Blow itu? Air yang ditiup? Air yang di terbangkan? Huehehe.. Water Blow itu adalah air laut yang dihempaskan keatas diantara karang yang terpecah cukup panjang. Karangnya bukanlah karang yang mulus-mulus tapi karang yang tajam-tajam. 🙂

Pada saat saya mengunjungi Water Blow, tepat sekali air lautnya sedang pasang. Jadinya saya dapat melihat tingginya hempasan air lautnya. Keren banget!

Jalan sendiri, terkagum-kagum sendiri, dan memotret sendiri tanpa ada saya di foto tersebut. pfft..! why am i always do like that. :))))

Okay, Monggo di nikmati Water Blownya..

This slideshow requires JavaScript.

Setelah selesai self-trip nya, saya kembali ke pantai untuk mengajak nenek saya berfoto-foto dan menikmati pemandangan. Pada saat matahari tidak begitu terik, saya dan nenek saya memutuskan untuk beranjak ke trip selanjutnya, yang santai-santai dan yang fresh. Tapi sebelumnya kami berkunjung terlebih dahulu ke Puja Mandala, masih di sekitar Nusa Dua, yaitu tempat peribadatan seluruh lima agama. Ternyata banyak wisatawan yang sudah tahu keberadaan Puja Mandala, mungkin sekalian ya sebelum melanjutkan trip ke GWK atau uluwatu. Hihihi..

Puja Mandala, Nusa Dua

Next trip kami adalah berada di Pantai Kuta, menikmati sunset. Terkesan biasa ya, tapi ini menikmatinya tidak di pantai. Haha.. Tunggu postingan selanjutnya. :p

Have a Nice Trip!

Bermain dengan Nikon F80

Saya mulai menyukai kamera dengan roll film semenjak menggunakan Fujica M1 setahun yang lalu. Sedikit demi sedikit sudah bisa menguasai kamera yang cukup lawas ini. Saya memakainya selalu di siang hari karena tidak memiliki blitz dan enam bulan yang lalu akhirnya saya membelinya, hasilnya malah gak jelas. Hahaha…Total penggunaan roll film pada Fujica M1 sekitar 10 roll film.

Bulan februari lalu ketika saya pulang kampung, saya menemukan kamera SLR Nikon F80 teronggok di kotak penyimpanan alat rekam (video, kamera, kamera digital, dll). Daripada didiamkan lebih baik saya mencoba kamera tersebut. Nyatanya ketika saya melihat kebelakang kamera, kamera ini menggunakan roll film. Wow. Dulu mungkin ini kamera keren banget kali ya, fokusnya sudah sehebat SLR tapi masih menggunakan roll film. Hahahha..

Nama: Nikon F80/Nikon N80

Lensa: Nikon AF Nikkor 28-80mm f/3.5-5.6G

Karena buku manualnya tidak saya temukan, saya mencarinya di internet. Setelah membaca secara seksama, saya gak ngerti. (-___-“) Bagian yang saya paling mengerti adalah bagian cara memasukkan dan mengeluarkan roll film. Sisanya adalah coba-coba. Sempat bertanya dengan teman saya yang mahir di dunia per-SLR-an, mengenai exposure-autofocus-dan-lain-lain. Akhirnya saya mulai mencoba-coba. Hasilnya adalah seperti yang dibawah ini. Gambar dibawah ini tanpa editan, hanya tag nama aja.

Bagaimana? awut-awut an ya. Hahahhaa.. Gitu-gitu ada yang bagus sesuai keinginan dan sesuai dengan keinginan kameranya. (-__-“)

Untuk beberapa foto yang sesuai keinginan, besok-besok saya post-kan, karena ada tema nya. 😉

Have a Nice Weekend!