Mungkin Satu-Satu

Sudah melewati tahun pertama, lumayan menambah pengalaman di dunia kerja. Namun, ada hal yang tertinggal dan tertutupi oleh aktifitas yang (sepertinya) monoton ini, yaitu saya jarang bersentuhan dengan dunia psikologi. Dunia yang saya minati dan saya senangi selama 4 tahun di perkuliahan. Entahlah, harusnya tidak seperti ini, harusnya saya tetap bersentuhan karena unit kerja saya sangat dengan dekat dunia psikologi.

Kenapa?

Mungkin saya meninggalkannya karena kegiatan di unit kerja saya lebih kepada “serabutan” kelas sekolah menengah, lalu ketika dihadapkan pada kegiatan wawancara untuk penerimaan pegawai kontrak rasa-rasanya hanya sebagai formalitas dan hanya like-dislike dari unit terkait. Hmm.. mungkin karena saya yang terlalu malas untuk mengembangkan diri untuk ilmu yang pernah saya emban.

Sepertinya, saya akan mulai lagi untuk membaca, mempelajari, dan merasakan kembali dunia psikologi. Baiklah.. mari di mulai!

Advertisements

Cuman pendapat biasa

Pada saat pertama kali berada di lingkungan kerja, saya merasa senang karena “akhirnya” kerja. Iya, karena saya merasakan bagaimana begitu tidak gampangnya mencari kerja. Bolak balik ke gedung itu lagi untuk melakukan psikotes ataupun wawancara dengan beberapa perusahaan. Tapi mungkin untuk sebagian orang mencari pekerjaan itu begitu gampang. Salah satunya mungkin dengan menggunakan link orang didalamnya atau menjadi pegawai outsourcing terlebih dahulu lalu menjadi pegawai tetap setelahnya ketika yang bersangkutan merasa pekerjaannya sudah setara dengan pegawai tetap dan yang pasti meminta atau ikut dalam open recruitment pegawai tetap di perusahaan tersebut.

It’s the matter of mindset.

Kenapa sih mau menjadi pegawai outsourcing sampai lebih dari 2 tahun?” kenapa lah ini menjadi pertanyaan dan menjadi hal yang saya pikirkan. heuheu.. Pertanyaan ini pun bukan pandangan saya sebagai perusahaan, tapi lebih ke sebagai individu. Kalo perusahaan mah saya pikir sangat menguntungkan memiliki pegawai outsourcing, load kerja sama dengan pegawai tetap tapi pembiayaan nya jauh lebih murah. Ya kan?

Selama kurang lebih setahunan ini saya berteman dengan beberapa pegawai outsourcing, yang masih muda seumuran saya dan yang dibawah 35 tahun. Terbesitlah pertanyaan itu, saya merasa seharusnya teman-teman bisa menjadi pegawai tetap karena saya melihat load kerja yang sama di beberapa section. Apalagi mereka lulusan sarjana dan diploma. Memang sih walaupun sudah sarjana atau diploma tidak bisa dipastikan namun saya masih memiliki pola pikir bahwa lulusan sarjana atau diploma seharusnya bisa menjadi lebih baik untuk kehidupannya di perusahaan ini atau di tempat lain.

Choose your mindset of working: a. Career, b. Living, c. Career and Living?

Sekelebat pendapat diatas muncul selama beberapa bulan. Sampai saya mempunyai keinginan untuk membantu teman-teman untuk menjadi pegawai tetap. Tapi itu adalah pendapat egosentris saya sendiri. Kata-kata mengenai mindset ini terbesit ketika saya lagi mandi sih sebenarnya dan membuka pikiran saya yang selama beberapa bulan belakangan ini saya pertanyakan. Secara keseluruhan saya merasa kalau mindset for living berada pada teman-teman outsourcing di tempat saya kerja dan beberapa pegawai tetap yang masih menjadi officer walaupun sudah berumur diatas 40 tahun. Istilah yang saya pakai adalah keadaan settle atau berada pada zona nyaman. Alasan lainnya adalah ketika saya bertanya langsung kepada salah satu teman os, secara tidak langsung adalah ketidakinginan untuk dipindahkan/mutasi seperti pegawai tetap. Bagi perempuan, secara budaya disini, bekerja apapun namun tetap di kampung halaman karena acara keagamaan disini begitu kental dan menjadi hal yang lumrah. Pada mindset for career and living, terlihat pada beberapa pegawai yang produktif (23 tahun s.d kurang dari 40 tahun) dan beberapa teman outsourcing. Contohnya terlihat ketika ada recruitment sebagai pegawai tetap beberapa teman os ikut serta sampai tahap wawancara. Intinya adalah it’s the matter of mindset. What they choose and what i choose. Padahal sampai saat ini masih mengharapkan untuk kehidupan yang lebih baik untuk teman-teman. hihi..

Jadi begitulah, sekedar pendapat saya yang sepertinya suka-suka dan daripada di simpan di pikiran saya mending saya tulis disini. Ya kan? 🙂

Happy Working! 

DIY: Ice Cappucino

Saya mau bagi hasil racikan minuman dari ngambil resep pada sebuah laman web. Membuat Ice Cappucino sendiri.

Dari dulu sebenarnya saya pengen tahu gimana sih buat cappucino, karena terkadang ketika mencoba di sebuah coffee shop yang terkenal itu dan di beberapa coffee shop di daerah saya tinggal, rasanya ya sama. Beda di kopinya. Akhirnya, ketika saya searching di internet, ketemu resepnya. Oke, mari kita mulai:

Bahan:

100 ml Cold Brew Coffee 1:1 (beli di Seniman Coffee, Ubud)

2 sdm Gula

200 ml Whipping Cream (saya pake Anchor)

Ice a lot of Ice

Blender

Caranya cuman 1 aja, masukkan semua bahan ke dalam blender sampai es batu hancur. Bahan ini bisa untuk 2 (dua) gelas.

Hasilnya:

20150103_084653

Rasanya enak! Beneran deh. Ketika di sruput, whipp creamnya kerasa banget dan after taste rasa pahitnya kopi. Pas! dan mungkin menurut saya ini cappucino yang saya inginkan. Tapi tapi tapi mungkin whipp creamnya dikurangin ya, karena lumayan mendominasi disini. Lemak-lemak beterbangan. hahah..

Dan akhirnya saya mengakui kenapa cappucino atau latte yang dijual di coffee shop dipatok harga diatas 20k, karena untuk whipp creamnya saja sudah diatas 30k. Kalau dihitung-hitung, untuk minuman cappucino ini bisa dihargai 28k/gelas. Sebenarnya bisa sih bikin whipp cream sendiri biar lebih authentic. Tapi saya lagi pengen cepat-cepat buat. Hahaha..

Kalau mau yang gampang bikinnya tidak pakai blender, bikin frapuccino aja. Cukup pake susu cair, kopi, air dingin, gula. Buat kopinya cukup pake shaker dan di blend didalam gelas berisi susu cair. Jadi deh. 😉

Semoga bermanfaat, teman-teman!

HAVE FUN!

Jalan

Pada sore hari yang begitu melelahkan, seorang wanita berambut hitam panjang terbesit merencanakan pergi ke suatu tempat agar rasa lelah itu segera hilang. Setelah memarkirkan mobil sedan berwarna abu-abunya, dia melangkahkan kaki dengan gerakan yang sama ketika pulang dari kantor yang berjarak tidak jauh dari tempat itu. Dia hampir lupa bagaimana penataan ruang tempat tersebut.

Sudah banyak yang berubah, pikirnya.

Berderet penjaja pakaian dan sepatu yang siap menerima pelanggan kapan pun itu, walaupun hari itu adalah hari libur bagi sebagian orang di daerah yang ditempatinya saat ini.


Langkahnya terhenti di lantai paling dasar, di sudut konsesi yang hanya berukuran 4 x 5 meter. Konsesi tersebut didominasi berwarna ungu dengan berbagai iklan yang dapat menelan ludah setiap melihatnya.

Akhirnya sampai juga, dalam hati dia berkata.

Setelah dia memesan menu yang tertera di konsesi itu, dia menunggu sambil memerhatikan seseorang. Dia melihat dengan seksama orang yang melayaninya tadi. Orang tersebut mulai mencampurkan bubuk cokelat, air, beberapa es kedalam wadah dan mengocoknya seperti seorang bartender. Lalu, menuangkannya dalam wadah plastik dengan tulisan khas yang sudah dihafalnya. Tak lama kemudian orang tersebut mengambil wadah lain dan memasukkan heavy cream atau krim kocok, potongan kecil stroberi dan sepertinya ditambahkan sedikit garam laut. Orang itu mulai mengaduknya, dengan sekuat tenaga sampai semuanya tercampur rata, menuangkannya diatas wadah yang tersedia dan menutupnya menggunakan mesin penutup. Pesanannya telah jadi dan dia mengambilnya dengan perasaan senang yang mulai timbul. Dia berjalan menuju ekskalator dan mulai menusuk straw kedalam minuman tersebut. Minuman berwarna cokelat dibagian bawah dan putih bertabur stroberi diatasnya.

Sepertinya nikmat, pikirnya.

Dia mulai mengaduk dan menyeruput minumannya.

Rasa cokelat dinginnya terasa sekali.

Hmm.. Krim putih bertabur stroberi inikah yang dinamakan strawberry mousse? Wah, Enak dan segar!

Rasa lelah dan dahaganya telah hilang dalam setiap seruputnya. Dia melangkahkan kakinya dengan gembira menuju mobil sedan berwarna abu-abu, pulang dengan senyum yang sumringah.

Have a Good Day, Guys!

Pretending

The most important thing is to enjoy your life – to be happy – it’s all that matters

-audrey hepburn-

What keep you alive is because of love. It doesn’t matter you don’t have any partner today, but you still have love from friends near you, your family,  your co-worker or you can just pretending to being in love with someone.

Why am i supposed to do that?

Because when you feel it, you are getting more happier and you get passionate with life. You getting more humble and brings hope about the future. The future that you, the only one, that knows about it.

So keep the spirit of love and you can keep moving forward. Be better and better.

Regards,

C.

Trip: Museum Le Mayeur, Bali

Matahari semakin terik ketika saya memutuskan untuk mendatangi Museum Le Mayeur yang berada tidak jauh dari rumah tinggal saya. Lokasinya berada tepat di areal Pantai Sanur, Bali. Jika ingin mengunjungi Museum ini, jarak yang paling dekat untuk menuju tempat ini adalah melalui belakang hotel Sanur Paradise Plaza atau orang-orang sering mengatakan tempat makan mak beng (tempat makan seafood ala Bali).

Untuk menuju ke Museumnya harus dengan berjalan kaki karena masih di areal pantai, maka mobil dan motor harus diparkirkan sesuai dengan lokasi yang sudah ditentukan. Sayangnya, semakin sore menuju ke pantai tersebut, semakin banyak kendaraan yang parkir. Contohnya saya ketika mau menggunakan jalan tercepat menuju Museum tersebut, parkir penuh. Akhirnya saya harus menuju jalan satunya lagi yang lebih jauh ditempuh.

Saya sudah wanti-wanti ketika menuju ke Museum La Mayeur. Takut tutup karena waktu itu saya bertandang pada hari Minggu. Tahu kan ya, gak semua Museum di Indonesia mengetahui liburnya Museum itu hari Senin dan bukan hari Minggu, saya beberapa kali bertandang ke Museum yang tutup di Hari Minggu. Hehehe.. Tapi untung saja, Museum La Mayeur buka setiap hari kecual hari libur Nasional. Fiuh.. perjalanan panjang saya tidak sia-sia. Tiket masuknya pun murah meriah, untuk warga Indonesia di patok harga 5.000 rupiah untuk dewasa dan 2.000 rupiah untuk anak-anak.

Biaya dan Jam Museum

Ketika saya memasuki pintu masuk Museum La Mayeur, saya melihat Rumah. Rumah model Bali yang dijadikan Museum. Saya suka ukiran temboknya dan monumen untuk mengenang pemilik rumah yang tertata baik.

Pemilik rumah ini adalah Le Mayeur dan Ni Pollok. Le Mayeur merupakan pelukis berkebangsaan Belgia, dan Ni Pollok merupakan warga asli Bali. Le Mayeur memulai kehidupannya di Bali pada tahun 1932 dan bertemu Ni Pollok yang sampai akhir hayatnya menjadi model untuk lukisannya. Le Mayeur menjadi pelukis terkenal di Indonesia maupun di luar negeri. Pada tahun 1956, Menteri Pendidikan memutuskan untuk menjadikan rumahnya Museum dan disetujui dengan senang hati oleh Le Mayeur dan keluarga. Akhirnya pada tahun 1957, Museum Le Mayeur resmi dibuka dan menjadi hak milik Pemerintah Indonesia.

Museum Le Mayeur merupakan museum yang berisi lukisan-lukisan karya Le Mayeur. Lukisannya rata-rata bertema pemandangan dan kehidupan sehari-hari dengan model wanita yang tak lain tak bukan adalah Ni Pollok. Sekilas saya memerthatikan informasi mengenai lukisan La Mayeur adalah pada tahun 1937, Beliau melukis menggunakan kapur warna diatas kertas. Pada tahun 1942, Beliau melukis diatas bagor (tempat beras). Lukisan diatas bagor ini yang menyedot perhatian saya dan menurut saya yang paling bagus, karena belum pernah saya lihat. Warnanya penuh dan semi-abstrak menurut saya. Kebanyakan lukisan Le Mayeur yang dipajang tidak yang asli, alasannya karena lokasi Museum berdekatan dengan Pantai dan angin pantai kurang bagus untuk beberapa jenis barang. Oiya, bagus tidaknya lukisan berdasarkan orang awam seperti saya ini ya, yang pasti ada pendapat lain ketika dinilai oleh para pelukis atau orang yang bergerak di bidang seni. Hehe..

Art Gallery Ni Pollok

Pada tiap ruangan tertulis bahwa tidak boleh mengambil foto mengenai lukisan yang dipajang. Untuk menghormatinya, saya memang tidak mengambil foto untuk lukisannya, saya hanya mengambil foto mengenai penjelasan di tiap ruangannya. Museum Le Mayeur memiliki empat ruangan, tempat pencanangan, dan art gallery. Menurut saya, Museum Le Mayeur cukup sederhana dan gampang untuk dicerna antara informasi dan lukisannya.


Museum terdekat lainnya ada di area Renon yaitu di Lapangan Niti Mandala Renon, namanya adalah Museum Perjuangan Rakyat Bali, lokasinya tepat di dalam Monumen Bajra Sandi. Tutup pada hari Minggu (ingat.. ingat).

Ketika saya mencari di internet mengenai museum di Bali, ternyata banyak sekali. Rata-rata Museum mengenai lukisan. Paling banyak berada di area Ubud dan Kabupaten Gianyar.

Semoga saja saya bisa satu satu mengunjungi Museum yang ada di Bali. Pelan-pelan saja..

Have a Nice Day!

Kepada..

Aku mulai mencoba menulis kembali. Mengenai hal apapun yang dapat kuceritakan. Mengenai perjalanan kecilku ketika aku kembali ke tempat asalku, mengenai hal-hal yang tidak penting dan mungkin membosankan, mengenai teman-teman baru yang aku temui di kehidupan kerjaku, dan apa saja.

Pada awalnya aku memang meninggalkan sejenak mengenai kegiatan menulis panjang. Aku lebih sering menulis di social media. Penting dan yang tidak penting. Mengupload foto mengenai hal yang aku sukai, menuliskannya, dan menyebarkan di social media lainnya. Terkadang menulis sesuatu di aplikasi chatting yang menurutku perlu ditulis tapi tidak mau terlalu diekspos. Walaupun alasannya cukup aneh tapi aku menyukainya, dan sepertinya itu salah satu tempat keluaran kata-kata dipikiran yang lumayan bagus serta konyol.

Aku mengharapkan agar aku dapat menulis panjang kembali seperti dahulu.

Kau tahu mengapa?

Agar kamu bisa membaca tulisanku. Sesederhana itu dan mungkin ini terlalu melankolis. Tapi, aku meyakini satu hal, ketika kamu membaca tulisanku, aku harap kamu menyukainya, dengan senyum kecil saja sudah cukup.

 

*Saat ini aku sedang mendengarkan lagu-lagu dari Adhitia Sofyan. Aah, lagu-lagu nya memang surreal buatku dan aku dapat menuliskan tulisan melankolik ini karenanya.

 

Denpasar, Oktober 2014

Semoga perjalanan tak berhenti sampai disini..