Trip: Air Terjun Aling-Aling

Berwisata di Pulau Dewata tak hanya sekedar keindahan Pantai dan luasnya Sawah yang berundak-undak, namun keindahan wisata Air Terjun tidak kalah menarik. Terdapat lebih dari 20 tempat wisata Air Terjun di seluruh Pulau Bali. Salah satunya yang akan kita bahas adalah Air Terjun Aling Aling.

Air Terjun Aling-Aling berada di Jl. Raya Desa Sambangan, Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali. Waktu tempuh dari Bandara I Gusti Ngurah Rai sekitar 3-4 jam perjalanan. Lokasinya cukup dekat dengan pusat kota Singaraja. Air Terjun Aling-Aling menjadi salah satu destinasi wisata setelah Air Terjun Sekumpul. Dengan merogoh kocek sebesar Rp 10.000 tanpa pemandu atau Rp 100.000 dengan pemandu, kita akan disuguhi pemandangan yang menyejukkan mata. Bagaimana tidak, dengan banyaknya pepohonan hijau diantara tebing-tebing tinggi dan suara-suara serangga yang saling bersahut-sahutan serta suara air yang begitu deras membuat suasana menjadi syahdu.

This slideshow requires JavaScript.

Pemandu mengajak kita berkeliling wilayah sekitar Air Terjun Aling-Aling karena dalam satu area terdapat 4 Air Terjun, yaitu Air Terjun Aling-Aling, Air Terjun Kroya, Air Terjun Kembar, dan Air Terjun Pucuk. Tempat pertama kita akan melihat Air Terjun Kroya, Air Terjun ini diperbolehkan untuk melompat dan berenang. Ketika memandangi Air Terjun Kroya, kita akan melihat tulisan yang dipasang di pohon yang isinya “Never Try, Never Know.” “Tunjukkan nyali anda.” “Test your adrenalin.” “Light on your spirit.” Tulisan ini mengajak para pengunjung untuk mencoba merasakan sensasi melompat di Air Terjun tersebut. Tempat kedua kita akan melihat Air Terjun Kembar dan Air Terjun Pucuk. Kedua air terjun tersebut sama seperti Air Terjun  Kroya, diperbolehkan untuk melompat dan berenang. Perbedaannya hanya pada ketinggiannya, Air Terjun Kembar dan Air Terjun Pucuk lebih tinggi dibandingkan Air Terjun Kroya.

Air Terjun Aling-Aling

Setelah menikmati pemandangan dan melihat aksi melompat para wisatawan, pemandu mengajak kita menuju Air Terjun Aling-Aling. Kita membutuhkan waktu 15 menit berjalan dari ketiga Air Terjun tersebut. Ketika menaiki tangga terakhir dan menapaki jalan yang disediakan, suara gemuruh air dan pemandangan tebing tinggi yang menjulang membuat kita lebih semangat berjalan untuk mencari asal suara. Kita akan melihat pemandangan Air Terjun setinggi 35 meter dengan debit air yang tinggi dan cekungan kolam sedalam 4 meter. Pemandu tidak memperbolehkan wisatawan untuk melompat di Air Terjun Aling-Aling, hanya diperbolehkan berendam dan berenang.

Pemandangan yang disuguhkan Air Terjun Aling-Aling, Air Terjun Kroya, Air Terjun Kembar, dan Air Terjun Pucuk, membuat kita menjadi lebih segar dan bisa kembali beraktivitas dengan lebih semangat.

(Tulisan ini juga dipos pada website ngurahrai.ap1.co.id. Segala konten dan gambar sama, karena yang nulis juga sama. Hahaha..)

Have a nice day!

Trip: Museum Le Mayeur, Bali

Matahari semakin terik ketika saya memutuskan untuk mendatangi Museum Le Mayeur yang berada tidak jauh dari rumah tinggal saya. Lokasinya berada tepat di areal Pantai Sanur, Bali. Jika ingin mengunjungi Museum ini, jarak yang paling dekat untuk menuju tempat ini adalah melalui belakang hotel Sanur Paradise Plaza atau orang-orang sering mengatakan tempat makan mak beng (tempat makan seafood ala Bali).

Untuk menuju ke Museumnya harus dengan berjalan kaki karena masih di areal pantai, maka mobil dan motor harus diparkirkan sesuai dengan lokasi yang sudah ditentukan. Sayangnya, semakin sore menuju ke pantai tersebut, semakin banyak kendaraan yang parkir. Contohnya saya ketika mau menggunakan jalan tercepat menuju Museum tersebut, parkir penuh. Akhirnya saya harus menuju jalan satunya lagi yang lebih jauh ditempuh.

Saya sudah wanti-wanti ketika menuju ke Museum La Mayeur. Takut tutup karena waktu itu saya bertandang pada hari Minggu. Tahu kan ya, gak semua Museum di Indonesia mengetahui liburnya Museum itu hari Senin dan bukan hari Minggu, saya beberapa kali bertandang ke Museum yang tutup di Hari Minggu. Hehehe.. Tapi untung saja, Museum La Mayeur buka setiap hari kecual hari libur Nasional. Fiuh.. perjalanan panjang saya tidak sia-sia. Tiket masuknya pun murah meriah, untuk warga Indonesia di patok harga 5.000 rupiah untuk dewasa dan 2.000 rupiah untuk anak-anak.

Biaya dan Jam Museum

Ketika saya memasuki pintu masuk Museum La Mayeur, saya melihat Rumah. Rumah model Bali yang dijadikan Museum. Saya suka ukiran temboknya dan monumen untuk mengenang pemilik rumah yang tertata baik.

Pemilik rumah ini adalah Le Mayeur dan Ni Pollok. Le Mayeur merupakan pelukis berkebangsaan Belgia, dan Ni Pollok merupakan warga asli Bali. Le Mayeur memulai kehidupannya di Bali pada tahun 1932 dan bertemu Ni Pollok yang sampai akhir hayatnya menjadi model untuk lukisannya. Le Mayeur menjadi pelukis terkenal di Indonesia maupun di luar negeri. Pada tahun 1956, Menteri Pendidikan memutuskan untuk menjadikan rumahnya Museum dan disetujui dengan senang hati oleh Le Mayeur dan keluarga. Akhirnya pada tahun 1957, Museum Le Mayeur resmi dibuka dan menjadi hak milik Pemerintah Indonesia.

Museum Le Mayeur merupakan museum yang berisi lukisan-lukisan karya Le Mayeur. Lukisannya rata-rata bertema pemandangan dan kehidupan sehari-hari dengan model wanita yang tak lain tak bukan adalah Ni Pollok. Sekilas saya memerthatikan informasi mengenai lukisan La Mayeur adalah pada tahun 1937, Beliau melukis menggunakan kapur warna diatas kertas. Pada tahun 1942, Beliau melukis diatas bagor (tempat beras). Lukisan diatas bagor ini yang menyedot perhatian saya dan menurut saya yang paling bagus, karena belum pernah saya lihat. Warnanya penuh dan semi-abstrak menurut saya. Kebanyakan lukisan Le Mayeur yang dipajang tidak yang asli, alasannya karena lokasi Museum berdekatan dengan Pantai dan angin pantai kurang bagus untuk beberapa jenis barang. Oiya, bagus tidaknya lukisan berdasarkan orang awam seperti saya ini ya, yang pasti ada pendapat lain ketika dinilai oleh para pelukis atau orang yang bergerak di bidang seni. Hehe..

Art Gallery Ni Pollok

Pada tiap ruangan tertulis bahwa tidak boleh mengambil foto mengenai lukisan yang dipajang. Untuk menghormatinya, saya memang tidak mengambil foto untuk lukisannya, saya hanya mengambil foto mengenai penjelasan di tiap ruangannya. Museum Le Mayeur memiliki empat ruangan, tempat pencanangan, dan art gallery. Menurut saya, Museum Le Mayeur cukup sederhana dan gampang untuk dicerna antara informasi dan lukisannya.


Museum terdekat lainnya ada di area Renon yaitu di Lapangan Niti Mandala Renon, namanya adalah Museum Perjuangan Rakyat Bali, lokasinya tepat di dalam Monumen Bajra Sandi. Tutup pada hari Minggu (ingat.. ingat).

Ketika saya mencari di internet mengenai museum di Bali, ternyata banyak sekali. Rata-rata Museum mengenai lukisan. Paling banyak berada di area Ubud dan Kabupaten Gianyar.

Semoga saja saya bisa satu satu mengunjungi Museum yang ada di Bali. Pelan-pelan saja..

Have a Nice Day!

Trip: Water Blow, Nusa Gede Island

Mengajak seseorang yang sudah pernah menginjakkan kaki di Bali dan sudah beberapa kali berkunjung ke tempat wisata membuat saya cukup kebingungan. Selaku warga setempat yang jarang pulang semenjak kuliah, diperlukan ekstra tambahan mencari informasi terkini tempat yang sedang atau belum dikunjungi oleh orang tersebut. Apalagi seseorang tersebut adalah yang sudah lanjut usia, a.k.a nenek saya sendiri. (-__-“)

Mencari tempat wisata atau tempat hiburan yang tidak membuat capek dan tetap bisa menikmati pemandangan yang tidak ditemukan di kota Jakarta. Setelah di cek dibeberapa tempat, hari itu saya memilih berkunjung ke daerah selatan, Nusa Dua. Ada tempat di Nusa Dua yang ingin saya kunjungi sejak lama, yaitu Water Blow di Nusa Gede Island. Erm, jadi ini sebenarnya modus saya untuk datang kesana dengan mengajak nenek saya. Hahaha.. No offense ya, nek. *kabur*

Kawasan Nusa Dua sebagian besar orang beranggapan hanya ada kumpulan hotel-hotel berbintang 5+ sampai tempat shopping serta teater. Namun, di dalam kawasan Nusa Dua, terdapat 2 pulau yang menyambung dalam artian kita bisa kesana dengan berjalan kaki. Salah satu pulaunya bernama Nusa Gede. Disana kita dapat melihat Gardu Pandang Gunung Agung dan Water Blow.

Rute jalan ketika sampai di depan kawasan Nusa Dua adalah setelah masuk dan diperiksa oleh satpam setempat, beloklah ke kanan, ikuti arah menuju ke “The Bay Bali”- Bali Nusa Dua Theatre-Bali Colection-hotel Hyatt Bali. Ketika melihat banyak mobil-mobil terparkir disana, kita sudah memasuki “The Bay Bali”, namun dikarenakan disana ada 2 pulau, untuk tahu yang mana Nusa Gede Island kita cukup melihat dimana lokasi restoran Bebek Bengil. Jalan setapak tersebut yang akan mengantarkan kita menuju Nusa Gede Island.

Ketika saya datang ke Nusa Gede, tepat pukul 11 siang dan cuacanya panasnya ngethang-ngenthang (panes banget, maksudnya). Ketika berjalan menuju lokasi Water Blow bersama nenek saya, saya berpikir dua kali, jalan menuju water blow agak membentuk gundukan, panas pula, nanti nenek saya bisa cepat capek. Akhirnya saya memutuskan untuk mengajak nenek saya duduk-duduk di pantai sebelum gapura Nusa Gede, pantai yang berpasir putih beserta bunyi deburan ombak yang besar namun menenangkan. Setelah meminta nenek saya beristirahat disana, saya jalan sendiri menuju Water Blow.

Bermodal kamera saku dan topi, saya berjalan menuju Nusa Gede Island. Di tengah-tengah gundukan rumput hijau, saya disuguhkan pemandangan dua patung Rama dan Lesmana yang tinggi dan besar. Bagus sekali!

Water Blow Sign

Water Blow Road 2

Water Blow Road

Lokasi Water Blow terletak di belakang patung, sedangkan Gardu Pandang Gunung Agung terletak tak jauh di samping patung tersebut. Tak sampai 5 menit, saya sudah sampai di gerbang yang terbuat dari bebatuan bertuliskan “Water Blow”. Jalan setapak yang terbuat dari kayu serta di kanan dan kiri ditanami tanaman hijau, menghilangkan rasa panas yang begitu menyengat. Di sekililingnya saya melihat ada dua jembatan yang sengaja dibuat untuk membantu kita lebih dekat melihat Water Blow. Apa sih Water Blow itu? Air yang ditiup? Air yang di terbangkan? Huehehe.. Water Blow itu adalah air laut yang dihempaskan keatas diantara karang yang terpecah cukup panjang. Karangnya bukanlah karang yang mulus-mulus tapi karang yang tajam-tajam. 🙂

Pada saat saya mengunjungi Water Blow, tepat sekali air lautnya sedang pasang. Jadinya saya dapat melihat tingginya hempasan air lautnya. Keren banget!

Jalan sendiri, terkagum-kagum sendiri, dan memotret sendiri tanpa ada saya di foto tersebut. pfft..! why am i always do like that. :))))

Okay, Monggo di nikmati Water Blownya..

This slideshow requires JavaScript.

Setelah selesai self-trip nya, saya kembali ke pantai untuk mengajak nenek saya berfoto-foto dan menikmati pemandangan. Pada saat matahari tidak begitu terik, saya dan nenek saya memutuskan untuk beranjak ke trip selanjutnya, yang santai-santai dan yang fresh. Tapi sebelumnya kami berkunjung terlebih dahulu ke Puja Mandala, masih di sekitar Nusa Dua, yaitu tempat peribadatan seluruh lima agama. Ternyata banyak wisatawan yang sudah tahu keberadaan Puja Mandala, mungkin sekalian ya sebelum melanjutkan trip ke GWK atau uluwatu. Hihihi..

Puja Mandala, Nusa Dua

Next trip kami adalah berada di Pantai Kuta, menikmati sunset. Terkesan biasa ya, tapi ini menikmatinya tidak di pantai. Haha.. Tunggu postingan selanjutnya. :p

Have a Nice Trip!

Trip: Bali Shell Museum

“Museum itu cuman satu tapi isi museum yang berbeda-beda”

Beberapa kali ke museum, beberapa kali pula merasakan nikmatnya menikmati museum dengan tiket masuk yang lebih murah dari semangkuk bakso. :p Nyatanya atau yang lebih jelasnya, ada pula museum dengan tiket masuk yang mahal. Namun kualitas dari museum tersebut memang “berbintang”.

Salah satu contohnya ada di Bali, namanya Bali Shell Museum. Penampakan luar ketika sampai di Museum ini adalah seperti penjualan furniture rumah yang kesemuanya jenis-jenis hewan laut. Memang, dilantai pertama ini tempat menjual souvenir-souvenir hewan laut berbentuk fosil maupun yang diawetkan. Museumnya berada di lantai 2 dan lantai 3. Harga yang di bandrol untuk menikmati keindahan isi museum ini adalah 75k, anak-anak 50k. Benar mahal dibandingkan dengan museum pemerintah dan beberapa museum swasta.

Bali Shell Museum

Bali Shell Museum merupakan museum kerang pertama di Indonesia, dan di Asia, museum ini adalah yang ketiga setelah Thailand dan China. Wow! Museum ini sudah berdiri sejak tahun 2009 dan koleksi kerang yang ada disini sudah berumur kurang lebih 27 tahun. Pengunjung yang menikmati Bali Shell Museum rata-rata mancanegara dan beberapa pejabat negara.

Lantai 1 Bali Shell
Lantai 1 Bali Shell

Ketika saya dan teman saya melihat kedalam museum, satu kata yang pertama muncul adalah “Keren!”. Saya tidak pernah diving dan memegang jenis-jenis hewan laut yang diperlihatkan disini. Seringnya hanya melihat di televisi atau di buku-buku. Ditemani seorang guide, beliau bercerita banyak mengenai asal mula fosil-fosil maupun hewan laut berbentuk kerang, keong, dan lain-lain yang ada disini. Contohnya di lantai 2 beliau bercerita kristal yang ada disini ditemukan dari Rusia, Trilobita adalah yang paling tua setelah hidupnya bakteri, Ammonite kira-kira ada 5 jenis dan kebanyakan ditemukan di Afrika. Lantai 3 lebih disajikan berbagai jenis cangkang kerang, landak laut, dan jenis-jenis hiu dan ikan. Totalnya ada lebih dari 10.000 spesies kerang. 😮

Saya tidak bisa menceritakan lebih banyak mengenai jenis-jenis kerang karena kalau tidak dilihat langsung dan diceritakan langsung rasanya kurang sempurna menikmatinya. Maka dari itu sempatkanlah mengunjungi Bali Shell Museum atau museum-museum yang ada di Bali, jangan hanya bermain di mall saja. Hahahaha… Tidak ada yang bersifat merugi kalau ingin menambah pengetahuan. Enjoy! 😉

Bali Shell Museum

Sunset Road 819 Kuta, Bali

(0361) 752-932

Open: Everyday, 09.30-21.30

This slideshow requires JavaScript.

Event: Stretching Art Exhibition

Berkunjung ke pameran seni lukis maupun pameran seni rupa beberapa kali pernah saya datangi di daerah Yogyakarta. Tanggal 09 Juni 2012 hingga 15 Juni 2012 kemarin terdapat pameran visual art yang berjudul “Stretching”. Lokasi pameran ini dilaksanakan di Galeri Biasa, Yogyakarta. Pameran ini Hasil dari kolaborasi antara Yogyakarta (KM 13,5) dan Bali (t’BAJAK).

“Stretching” yang artinya merenggangkan dinyatakan kedua kelompok perupa ini akan menjadi wadah mereka untuk saling mengenalkan basis kultur dan seni yang mereka miliki juga mengenalkan kepada masyarakat, serta memperlihatkan cara eksplorasi yang beragam dari masing-masing seniman dan kelompok berdasarkan latar belakang mereka (Sekapur Sirih pada katalog Stretching)

Terdapat 5 perupa dari teman-teman t’BAJAK dan 4 perupa dari teman-teman KM 13,5. Kegiatan pameran ini tidak hanya di Yogyakarta namun juga diadakan di Bali dari tanggal 27 Juni 2012 hingga 03 Juli 2012 di Lingkara PhotoArt Gallery, Renon.

Pembukaan pameran ini diikuti hampir seluruh perupa baik dari Bali maupun dari Yogyakarta. Pembukaan diadakan pada tanggal 09 Juni 2012 sekitar pukul 19.00 WIB. Pameran ini dibuka dengan satu atau dua patah kata oleh mas Wiwit “Ketel”, dilanjutkan dengan performance musik yang bergenre experiment music dari yogyakarta (maaf saya lupa namanya). Sebenarnya saya agak kurang familiar sama genre musicnya dan sedikit “ribut” karena bermainnya didalam ruangan. 😛

Pada hari itu, yang datang mengunjungi pameran ini sekitar 100 orang dari berbagai macam kalangan. Karya dari para perupa di pamerkan di seluruh galeri biasa, lantai dasar dan lantai satu.

Salah satu perupa dari Bali adalah teman saya, Savitri. Dia menyumbangkan tiga karyanya, seperti:

Dibagian lantai satu, terdapat beberapa visual art yang bentuk atau spacenya lebih besar daripada di lantai dasar. Serta ada beberapa karya yang saling berhubungan.

Di salah satu sudut dilantai satu, ada sebuah karya bersama antara teman-teman dari Yogya dan Bali. Menarik sekali.

Saya tidak bisa berkata lebih banyak lagi karena saya tidak terlalu bisa menilai langsung sebuah karya seni. Saya hanya penikmat saja. 🙂

Semoga ada pameran seni yang lebih banyak lagi di mana-mana!

HAVE FUN!

Ogoh-Ogoh, Ngiterin Desa

Sehari sebelum perayaan Nyepi, masyarakat berbondong-bondong turun ke jalan-jalan besar untuk melihat Ogoh-Ogoh. Ogoh-Ogoh adalah sebuah representasi dari Bhuta Kala, yaitu melambangkan sifat-sifat negatif pada diri manusia. Perwujudannya biasanya raksasa yang menyeramkan. Namun tak hanya raksasa yang menyeramkan, wujud lainnya bisa dewa yang sedang berperang melawan kejahatan, atau bentuk-bentuk lainnya yang melambangkan Bhuta Kala. Ogoh-ogoh di arak, dan tiap persimpangan jalan yang mengarak akan berhenti dan memutar-mutarkan ogoh-ogoh.  Perayaan ogoh-ogoh akan selesai dengan cara membakar ogoh-ogoh tersebut, hal ini menurut saya dimaksudkan untuk menghilangkan sifat-sifat negatif. (referensi lebih lanjut)

Perayaan ogoh-ogoh menjelang nyepi 1934, orangtua saya mengirimkan beberapa foto ogoh-ogoh yang diarak di daerah Ubud. Saya akan menyuguhkan dua ogoh-ogoh saja. 😛

Semoga tahun depan saya bisa melihat ogoh-ogoh ya. Hahah.. 😀

Venue: Roppan Japanese Restaurant, Denpasar

Tempat makan: Roppan Japanese Restaurant yang ada di Denpasar, Bali.

Setelah baca tulisan diatas ini apakah teman-teman mau mencobanya? *toyor*

Ada yang udah pernah makan di Roppan? entah itu di sekitar Jakarta atau Bali. Hmm.. Saya mengira agak lucu ya nama restorannya, R.o.p.p.a.n. Ternyata itu berdasarkan nama daerah di Jepang (iya uda tahu, uda baca yang diatas). Saya akan mengajak teman-teman untuk melihat Roppan yang ada di Bali. Dimana ya? di Denpasar Junction. Oke kita langsung masuk aja ke dalam restorannya.

Masuk di Denpasar Junction letaknya di lantai dasar paling pojok timur. Nah itu dah tempatnya. Hahaha..

Terlihat bahwa tempat ini memang untuk santap siang, malam, atau hanya sekedar snack-ing. 🙂

Bangkunya banyak dan empuk. Sayangnya dibagian dalam mejanya terlalu pendek, kalo makan jadi kurang nyaman. hehehe..

Salah satu spot yang enak buat berbincang-bincang dengan kawan-kawan.

Tempat menerima customer dan melihat menu-menu andalan.

Disini yang untuk snack-ing bentuknya roti-roti berbagai macam topping. Rasanya? ermhhhh… Yummy! :p Harganya berkisar dari 11k-40k. Tak hanya snack-ing berbentuk roti tapi ada makanan yang mengenyangkan seperti sushi dan ramen. Dari gambarnya si enak yaa.. Tapi saya tidak sempat mencobanya. hahaha… 🙂 Oiya, disini juga menyediakan minuman yang segar, ada beer juga lho. :p

Saya dan Mama saya memesan Chiizu Meru dan Matcha Honey Toast Duet. Kalo Chiizu Meru full of Cheese dengan roti yang kecil, sedangkan Matcha Honey Toast Duet isinya Mactha Cream, Ogura Cream, Vanilla Cream, dan Kacang Merah. Sedaaap Sekali…!

Ini Chiizu Meru. Like it?

Ini Matcha Honey Toast Duet. Like it too?

Muahahaha… Like it? Like it? Like it? *menghasut*

Ongki dongki.. Segitu aja reviewnya (review?! hellooooo?). Erm, maksudnya segitu aja saya memberitahu tempat makan yang menurut saya patut dicoba. Rasanya enak kok dan harus siap dengan perut kosong karena porsinya memang cukup besar, apalagi Matcha. Nyehehe..

Last but not least.

Roppan, Let’s Make a Toast To Happiness!

HAPPY EATING!