Trip: Air Terjun Grombong dan Air Terjun Fiji (Sekumpul)

Setelah tahun lalu mengeksplorasi Air Terjun bagian Gianyar dan Bangli, awal tahun 2018 saya dan teman saya melakukan perjalanan menuju Singaraja untuk melihat Air Terjun Grombong dan Air Terjun Fiji. Nama terkenalnya sih Air Terjun Sekumpul.

Air Terjun Grombong dan Air Terjun Fiji terletak di Sawan, Lemukih, Kabupaten Buleleng, Bali. Waktu tempuh menuju lokasi dari Renon Denpasar adalah 2 jam 30 menit. Tergantung juga ya kalau sedang ada long weekend, biasanya akan macet di area Bedugul dan sekitarnya. Setelah menempuh lika-liku Jalan Bedugul – Singaraja, teman-teman akan melihat tanda “Air Terjun Sekumpul” disebelah kanan, ikuti saja jalurnya. Perlu disampaikan kalau jalur menuju Lemukih ini cukup untuk satu mobil, jadi kalau ada papasan dengan mobil lain, harus mengalah dan yang pasti kalau bisa tidak ngebut karena setiap belokannya belum ada convex mirror (kaca cembung).

Lanjut, saya dan teman saya menyewa mobil untuk menuju kesana, alasannya sih karena belum tahu medan dan mobil saya sendiri sepertinya gak sanggup buat ditanjakan yang terjal. Huehe.. Untung saja saya menyewa mobil dengan Pak Wayan yang sudah biasa kami booking untuk perjalanan jauh karena Pak Wayan tahu banget daerah Singaraja yang bagian mana yang bisa dieksplor dan sering memberikan saran mana yang lebih dulu didatangi.

Pak Wayan merekomendasikan untuk masuk melalui pintu masuk Lemukih, karena kalau menggunakan pintu masuk utama Sekumpul kita harus merogoh kocek 2x tiket masuk. Sedangkan di Lemukih hanya membayar 1x tiket masuk. Kami masuk ke jalan setapak yang sempit dan memarkirkan mobil di tempat yang telah disediakan. Kami menggunakan pemandu untuk ke Air Terjun Grombong dan Air Terjun Fiji. Kenapa kita pakai pemandu? Padahal bisa jalan sendiri karena sudah ada petunjuk jalan. Sebenernya kita pakai pemandu karena untuk meningkatkan pendapatan yang bersangkutan sih dan juga ingin mendapatkan informasi lebih mengenai Air Terjunnya.

Awal memulai perjalanan, bli Adi, pemandu kami menawarkan beberapa opsi sebelum menuju ke lokasi Air Terjun. Ada water slide Lemukih, kita akan turun ke air terjun kecil seperti perosotan dan berjalan mengitari persawahan sebelum menuju Air Terjun. Lalu ada Waterfall Swing Lemukih, kita menggunakan ayunan yang cukup besar dan menikmati pemandangan Air Terjun Fiji dari atas. Kedua opsi yang disebutkan tersebut, kita memilih untuk main di Waterfall Swing Lemukih terlebih dahulu.

Ketika kita jalan menyusuri sawah menuju waterfall swing saya melihatnya menarik dan tidak takut untuk mencoba. Namun ketika semakin dekat, makin kebayang seperti apa nantinya ketika ayunan itu ditarik jauh ke atas dan dilepaskan sampai ke atas Air Terjun. Teman saya terlebih dahulu mencoba, persiapan sudah lengkap dengan memakai harnest, menapaki ban yang dibuat seperti tangga, duduk di ayunan, dan memegang tali ayunan, tetiba dia berucap “kakiku getar ini!” dan iya saya lihat juga kakinya bergetar. Hahaha.. Makin jadi jiper buat nyoba. Dan wusss… didorong ayunan itu oleh penjaga. Setelah teman saya turun dari ayunan dengan kaki lemas, saya menimbang-nimbang kembali keputusan untuk naik kesana. Akhirnya saya memutuskan untuk mencoba dan benar saja ketika sudah menapaki ban dan duduk di ayunan, rasanya makin takut. Ahahaha.. dan momen itu terjadi. Jantung seperti mau lepas ketika dekat dengan jurang Air Terjun dan kembali lagi ketika tertarik kebelakang. Begitu terus sampai ayunannya berhenti. Saya hanya bisa teriak-teriak gembira (buat merelease ketakutan kalo tetiba saya lepas dari ayunan). Turun dari ayunan ya sama deh dengan teman saya, kakinya masih gemetaran. Padahal turun ke Air Terjun aja belum. Pft.

Kalau berminat main diayunan ini ada biaya yang dikeluarkan. Biayanya 75k per orang, bisa 2x coba. Untung kita bersama bli Adi yang warga Lemukih, jadi kita dapat diskon buy 1 get 1 gitu. Hehe..

Baiklah kita sudahi saja ayunan cantik tadi, kita lanjut lagi ke menu utama kita. Setelah dari ayunan, kita menyusuri jalan setapak dan tangga yang lumayan berjarak untuk ke pos pembelian tiket Air Terjun. Kami membayar retribusi sebesar 10k per orang. Ditempat retribusi ini ada warung kecil yang menjaja makanan dan minuman, toilet dan tempat untuk mengganti pakaian. Akhirnya perjalanan ke Air Terjun dimulai. Kami menyusuri anak tangga yang lumayan banyak dan ada beberapa anak tangga yang pendek namun curam. Enaknya adalah tangga-tangga ini dilengkapi dengan pegangan tangan. Jadi kalau kita naik pun sudah ada yang bisa kita pegangi.

Sampailah kami di pertigaan jalan. Tanda sudah terlihat jelas, bila memilih arah kanan kita akan disuguhkan Air Terjun Grombong dan bila memilih arah kiri kita akan disuguhkan Air Terjun Fiji. Kami memilih Air Terjun Grombong terlebih dahulu karena waktu tempuhnya lebih sedikit dibanding Air Terjun Fiji. Setelah menyusuri jalan setapak, melewati pohon besar, dan melewati aliran sungai, tidak sampai 5 menit kami sudah didepan Air Terjun Grombong. Dari kejauhan kita akan melihat ada dua air terjun yang deras jatuh beriringan dari ketinggian, menuruni serangkaian bebatuan dibawahnya. Air Terjun ini yang sering diposting oleh banyak wisatawan di media social jadi ketika kita sampai disana sudah banyak wisatawan mancanegara yang berfoto dan main air disini. Kita sendiri sih cuman foto-foto dekat Air Terjunnya, untung hp saya anti air jadi foto jauhnya pakai kamera betul, pas udah deket sana pakai kamera hp. Jadi bisa dapat foto jauh dan dekat. Hehe..

This slideshow requires JavaScript.

Setelah memandangi Air Terjung Grombong dengan takjub, kami melanjutkan perjalanan kembali ke Air Terjun Fiji. Rute ke Air Terjun Fiji ini perlu 2 kali menyeberangi sungai. Mengapa demikian? Karena sejatinya sudah ada jembatan bambu yang dibangun oleh warga, namun karena derasnya hujan yang sering terjadi di Singaraja, jembatan tersebut rusak dan tidak bisa digunakan serta berisiko membahayakan orang yang hendak menggunakannya. Alhasil kita harus menyusuri aliran sungai yang cukup deras dan dibawah sungai itupun banyak batu-batuan yang tidak terlihat. Kalau kita tidak hati-hati bisa terpeleset atau keseleo karena salah pijak. Untuk aliran sungai kedua tidak terlalu deras dan tidak dalam, jadi bisa lah ya kita nyebrang dengan senang hati. Oiya, di dekat jembatan bambu, ada Air Terjun kecil yang cukup deras, kata bli Adi itu termasuk Air Terjun Fiji. Jadi, Air Terjun Fiji ada empat Air terjun, pertama yang dekat jembatan, kedua sampai keempat didalam satu area. Setelah menyebrangi sungai menyusuri jalan setapak, kita bisa mendengar suara Air Terjun Fiji yang kedua sampai keempat. Pengunjungnya lebih sepi dibandingkan dengan Air Terjun Grombong, padahal Air Terjun Fiji gak kalah keren. Mungkin karena ketiga air terjun ini alirannya sangat deras dan langsung turun ke kolam terjun, tidak menuruni bebatuan, belum lagi kolam terjunnya lebih dalam dibanding Air Terjun Grombong.

This slideshow requires JavaScript.

Nah, Air Terjun Fiji inilah yang menjadi pemandangan di Waterfall Swing Lemukih. Dari atas aja pemandangannya aduhai, pas lihat dari dekat ternyata tidak kalah aduhainya. Pada saat kita mendekat ke arah Air Terjun, saking derasnya air itu, kita sampai kebasahan macam kena hujan. Jepret sana jepret sini akhirnya kita istirahat sejenak dibebatuan sambil menikmati pemandangan Air Terjun Fiji.

Memang ya, di daerah Singaraja, Buleleng ini banyak sekali tempat wisata Air Terjun dan hampir semuanya berkesan. Next trip nya mau mencoba yang baru, katanya pak Wayan ada bukit yang apik banget untuk kita jelajah pada saat pagi hari dengan pemandangan sunrise. Hmm… kapan yaa.

HAVE A NICE DAY!

Advertisements

Jalan Santai: Ranu Kumbolo

Sedari dulu sebenarnya saya merasa tidak kuat untuk naik gunung. Merasa penuh pertimbangan ini itu, nanti kalau gini gimana kalau gitu gimana. Pokoknya heboh dengan pikirannya sendiri. Lalu, sekitar tahun 2015, teman kantor mengajak saya untuk mendaki Gunung Batur, Bali. Tidak ada bayangan sama sekali bagaimana bentukan jalur Gunung Batur. Setelah membaca-baca di blog, dikatakan hanya 2 jam bisa sampai puncak yang tingginya hanya 1717 mdpl. Saya cuman berpikir “ah, tidak masalah”, dan juga ketika itu saya baru membiasakan diri untuk jogging kembali pasca lulus kuliah. Latihan mengatur napas sudah dipersiapkan. Ternyata jalurnya cuman satu dan itu langsung tanjakan dan berpasir. Alhasil saya bisa sampai puncak (di pos pertama). Empat bulan kemudian, teman kos saya berkunjung ke Bali dan mengajak saya naik kembali ke Gunung Batur dengan full mengitari Gunung Batur. So, i’m already happy and satisfied with that achievement. Haha..

Awal April 2018, saya diminta untuk mengikuti Rapat Koordinasi Tahunan di tempat saya kerja. As you know, kegiatannya seperti pembahasan dan pengembangan bla bla bla yang diakhir sesi pasti ada kegiatan outing. Tahun ini, dari Kantor Pusat membuat ide fantastis sampe melongo karena mereka ingin kegiatan outingnya di Ranu Kumbolo. ((RANU KUMBOLO)).

Tidak pernah masuk dalam list “what should i do before i die” versi saya untuk bisa main atau berkunjung ke Gunung Semeru. Ever. Karena saya pikir Gunung Semeru itu Gunung yang paling di agung-agungkan oleh para pendaki. Gunung tertinggi di Pulau Jawa. Rasanya gak pantas aja saya naik kesana. Ahaha..

Apakah saya jiper sehabis mengetahui keinginan kantor pusat? haaa jelas sekaleee.. Hahaha.. Sebelum berangkat pun saya sudah cek sana sini di blog-blog orang seperti apa rutenya, penampakannya seperti apa. Untungnya sih hanya sampe Ranu Kumbolo saja gak sampai puncak. Akhirnya saya memantapkan hati untuk ikut serta dalam outing kali ini. Saya sudah mempersiapkan segala sesuatunya dari mulai cari jas hujan ponco, sandal jepit, obat-obatan yang biasa jadi senjata saya kalau dinas luar, kaus kaki, dan buff. Perjalanan ke Ranu Kumbolo sendiri sudah dipersiapkan sama kantor pusat dengan menggandeng event organizer (EO), jadi seperti tiket masuk, tenda, sleeping bag, makanan ringan, air mineral, obat-obatan sederhana, sarung tangan, dan jaket anti dingin sudah dipersiapkan mereka. Berasa eksklusif karena tamu besar yang ikut outing adalah Direktur bagianku. Ahahaha..

Kegiatan outing ini diikuti lumayan banyak orang dari seluruh cabang dan kantor pusat. Kalau ditotal, ada 104 orang yang ikut serta, 30 diantaranya perempuan termasuk saya. Diantaranya, hanya 20% aja yang anak-anak muda. Sisanya ibu-ibu sekitar 35 tahun ke atas dan ada beberapa yang hampir masuk purnabakti. Ketika saya mengetahui hal ini saya cuman berpikir sepertinya saya akan bejalan sangat lambat dan akan melelahkan menemani ibu-ibu ini. Mereka tetap keukeuh untuk ikut serta karena merasa kapan lagi bisa ikut sampai ke Ranu Kumbolo. Turns out, benar apa yang saya khawatirkan. Baru 1/25 perjalanan (baru jalan 100 meter dari gerbang tulisan selamat datang) mereka sudah berhenti dan minta porter untuk mengangkut tas mereka. Oh my.. Belum lagi ada ibu-ibu yang menyalahkan tasnya berat dikarenakan bawa air mineral. Untung saja pemandu kami, mas Ali begitu sabar menemani ibu-ibu riwil ini. Setiap berapa ratus meter istirahat dan cekrek-cekrek foto. Padahal pemandunya sudah mengatakan bahwa perjalanan ini panjang, 17 km dengan asumsi sampai ke Ranu Kumbolo 4-5 jam. Kami baru saja berjalan di pukul 13.30 WIB dari RanuPani dan sudah banyak berhenti nya. Untuk ibu-ibu muda sih mereka santai-santai aja, jalan ayo, istirahat ayo, lanjut lagi ayo.

Depan Gerbang Bersama Bu Ibu
View Gerbang Selamat Datang
Jalur Menuju Pos

Sejatinya saya yang khawatir dengan perjalanan kali ini. Pertama, karena ini Gunung Semeru (tetap takut buat menyapa Gunung ini), kedua, posisi saya sedang berhalangan (dihari kedua), ketiga, saya gak pingin ketemu maghrib pas perjalanan (u kno what i mean). Lalu, dari 4 pos yang harus dilewati untuk menuju Ranu Kumbolo, kami sudah ketemu marghrib di pos 2 menuju pos 3.  Huft.

Perjalanan menjadi lembih lambat, melelahkan, dan mulai kedinginan karena saya membawa tas yang penuh namun gerakan berjalan saya yang tidak cepat karena mengikuti irama jalan ibu-ibu, dan rasanya semua darah turun ke kaki. Ketika sampai di pos 3 kami diminta berhenti sejenak sambil menunggu rombongan yang tersisa di belakang. Dinginnya gak kira-kira. Saya tetap tidak mau menggunakan jaket, saya hanya menggunakan topi kupluk, sarung tangan dan buff karena saya tahu bahwa saya gak kuat dingin. Jaket yang saya bawa adalah senjata terakhir saya yang akan saya gunakan pada saat tidur nanti.

Pos 3 menuju Pos 4 perjalanan lumayan panjang dan hanya di bagian pertama saja yang tanjakan. Selama perjalanan saya cuman bisa berdzikir dan fokus berjalan sambil mendekatkan jarak dengan teman didepan saya agar tidak tertinggal. hahaha.. Gimana ya, rasanya uda kekurangan darah banget, hampir ngelantur dan mau udahan aja. Untung masih ada sisa tenaga dan motivasi yang kuat buat tidur di tenda. Walaupun pada rute ini saya diikuti sebentar oleh “yang tak terlihat” karena pada saat itu posisi saya dibelakang dan tidak ada siapa-siapa. Haha..

Pos 4 ke Ranu Kumbolo, perjalanan menurun dan masuk ke bagian pinggir danau. Disini angin dingin berhembus kencang, saya tambah kedinginan. Akhirnya kami sampai ke Ranu Kumbolo pukul 20.30 WIB, 6 jam yang melelahkan. Saya melihat banyak sekali tenda yang sudah dibangun, internal kami maupun dari para pendaki lainnya yang hendak beristirahat. Sampai disana kami disambut beberapa teman-teman yang sudah lebih dulu sampai. Mereka bilang ada makan malam dan masih diambilkan di posko dapur. Saya sudah gak nafsu buat makan dan yang terpikirkan cuman nggeletak di tenda. Syukurnya ada bapak-bapak dirombongan kami yang minta masuk tenda dahulu. Saya dan teman saya langsung mengikuti beliau dan ditunjukkan tenda yang masih kosong oleh panitia. Saya langsung menggelar matras dan sleeping bag yang telah disediakan. Memakai kaus kaki tebal, memakai jaket, topi kupluk, sarung tangan, buff di bagian hidung dan bibir. Peralatan lengkap untuk tidur. Nyatanya sebelum tidur kami diminta untuk berbagi tenda dengan 2 teman lainnya. Jadi tenda cilik yang harusnya cukup buat 2-3 orang, diisi 4 orang. Saya yang badannya lumayan bongsor gini alhasil dapat dipojok dengan kontur tanah yang gak manusiawi. Hahaha..

Walaupun saya tidur miring sana miring sini dan tetap menggigil, saya tetap bersyukur bisa tidur lelap barang 15 menitan tiap ganti posisi. Pagi-pagi saya terbangun karena banyak suara-suara orang yang bersiap mengambil momen sunrise. Saya berniat ke toilet dahulu, dengan menggunakan sandal jepit,  membawa hp, dan air mineral untuk bersih-bersih saya keluar tenda dan kaki saya langsung beku karena dingin banget. Pft. Pas ke toiletnya yang dibilang baru itu, ternyata masih belum valid karena airnya belum disediakan secara terus menerus. Jadi saya sudah menemui bentukan toilet kotor dan bau yang aduhai.

Lanjut, setelah dari sana, saya menuju tenda dan melihat matahari sudah muncul sedikit demi sedikit. Momen langka karena penampakannya bagus banget. Sampai terharu ngeliatnya.

Teman saya mengajak ke tanjakan cinta untuk lebih menikmati suasana. Kami naik sampai hampir ke ujung tanjakan, dan benar katanya, lebih syahdu. Kamera hp pun kalah sama apa yang saya lihat dengan mata sendiri. Setelah matahari sudah cukup naik dan momen sunrise nya selesai, saya dan beberapa teman melakukan foto bersama (as usual ya), foto juga dengan tim dari kantor saya yang ikut serta dalam outing ini dan tidak lupa foto di papan Ranu Kumbolo 2400 mdpl. Ahahahaha… Ini wajib lho.

Setelah jam 06.30 WIB ada yang naik ke tanjakan cinta dan ingin melihat oro-oro ombo. Saya sendiri tidak menuju kesana karena uda mikir rute baliknya akan sama dengan yang kemarin malam. Jadi saya menghemat tenaga. Jam 07.00 WIB kami disuguhkan makan pagi, nasi sop ayam telur dadar dan rendang. Gila, makanan super enak yang saya makan sepanjang perjalanan ini. Pft. Gimana nggak, kemarinnya kagak makan malam, yeekaan.

Pada saat makan, saya diajak oleh teman saya dari cabang Makassar untuk lebih dulu balik ke RanuPani. Saat itu saya mengiyakan karena kami akan berjalan bersama dengan 4 orang lainnya. Jam 07.30 WIB kami pamit lebih dahulu ke teman-teman lainnya. Karena saya perempuan sendiri yang ikut rombongan ini, saya ada ditengah-tengah mereka biar bisa saling jaga. Pemandangan pada saat malam kami lewati kemarin ternyata bagus banget. Hamparan danau, hutan dan bukit yang saling mengelilingi. Pace jalan kami adalah semi cepat dan karena jalannya sudah khatam kami lewati, rasanya jauh lebih mudah. Kami hanya butuh 5-10 menit untuk istirahat di tiap pos yang kami temui. Kami memerlukan waktu 3 jam saja buat sampai di RanuPani. Perjalanan kembali ke RanuPani ini jauh lebih menyenangkan dan bertenaga dibanding kemarin.

Sekian cerita ringan saya mengenai perjalanan santai saya ke Ranu Kumbolo. Perjalanannya menyenangkan karena sudah ada rute nya, walaupun ada rasa emosi-emosi yang gak jelas karena bareng rombongan yang tidak biasa, tapi overall salah satu perjalanan yang bisa diceritakan ke teman-teman dan diblog ini. Hihi..

HAVE A NICE DAY!

 

Venue: Secret Garden Village, Bedugul

Ada tempat baru yang dapat dikunjungi untuk daerah sekitar Jalan Raya Bedugul. Namanya Secret Garden Village, alamat lengkapnya di Jl. Raya Denpasar Bedugul Km. 36 Tabanan, Bali. Kalau dari arah Denpasar, tempatnya setelah Joger Oleh-Oleh dan disebelah kanan jalan. Tempat parkirnya luas, ada musholla dan ATM center.

Secret Garden Village mengusung tema an Educational Factory & Outlet Tour. Didalamnya berisi coffee shop bernama “Black Eye”, Beauty Factory bernama “Oemah Herborist”, 2 Restaurant bernama “The Luwus” (Balinese-Asian Resto) dan “Rice View” (BBQ Specialist), dan Wedding Chapel bernama “The Secret Chamber.” Biaya masuknya untuk lokal/domestik sebesar 50k per orang dan karena baru dibuka pada bulan Desember 2016, masih ada promo cashback voucher 25k untuk sekali transaksi di coffee shop, restaurant, dan oemah herborist sampai dengan 31 Juli 2017.

Setelah saya membeli tiket, saya dipandu untuk masuk kedalam dan saya diminta untuk memberikan tiket saya kepada resepsionis untuk ikut eduvacation mengenai cara membuat kopi di Black Eye dan cara membuat produk kecantikan di Oemah Herborist. Sambil menunggu pemandu, saya melihat arsitektur gedung yang menarik. Kalau menurut saya konsepnya lebih ke eco friendly (agak sok tahu sih ini, haha..).

Ticketing
Arsitekturnya

Oke, lanjut. Pemandu datang dan mengajak saya dan beberapa peserta untuk melihat alat dan kopi apa saja yang dikelola oleh Black Eye. Penjelasan pemandunya sederhana, cuman memberitahukan manual grinder apa saja, alat-alat untuk pengecekan suhu biji kopi dan kualitasnya, dan alat untuk roasting. Setelah pemberitahuan tentang alat-alatnya, kami diminta untuk ke ruang film untuk menonton pengelolaan biji kopi di Black Eye. Akhir sesi, kami diminta untuk mencoba aneka kopi yang dikelola disana. Pemandunya menanyakan kepada peserta apakah ada yang biasa minum kopi, dan beberapa ibu-ibu mengiyakan. Namun pada saat dimulai mencicip mereka gak sanggup karena gak pake gula. Wah saya cuman bisa ketawa aja sih, soalnya saya tahu mencicip kopinya itu secara harafiah, mencoba kopi Sumatera, Aceh Gayo, Lampung, Bali, Jawa, Papua, dan lainnya tanpa gula agar mengetahui aroma dan perbedaan rasa ditiap daerah. Akhirnya tersisa saya, Ibu saya, dan 2 peserta lainnya yang mencicip 7 (tujuh) kopi yang disediakan. Saya mencicip sambil mengomentari rasa di tiap cangkir. Tapi jawaban mas barista nya agak lain sih, gak seperti coffee shop yang pernah saya kunjungi di Ubud. Saya komentar di salah satu cangkirnya “Wah lebih asam ya yang ini” terus masnya bilang “tiap lidah orang yang mencicip beda sih mba rasanya.” eng ing eng… Nenek nenek icip kopi juga tahu kali mas tiap orang beda-beda pengecapannya. -__-

Yaa saya tahu mungkin gak semua orang aware atau antusias mengenai kopi as literally, yang rata-rata orang lebih suka kopi sachet (kalo saya bilang kopi cupu) dibanding seduh-seduh kopi beneran. Harapan saya mas baristanya mmberikan pengetahuan dengan challenge, nih misal “ini kopi sumatera (mandailing), after taste nya ada rasa buahnya, coba mba/mas icip, kerasa gak?” Kalau seperti itu kan jadi menarik buat peserta dan ada pengetahuan tambahan tentang kopi yang bisa jadi merupakan pengalaman pertama mereka. Nah, ini komentar pertama saya.

Black Eye Coffee
Cupping Session

Setelah selesai mencicip, kami kembali ke depan resepsionis untuk mengikuti pemandu yang lain menuju Pabrik Oemah Herborist. Sebelum kita menuju pabrik pembuatan alat-alat kecantikan, kita disuguhi buku dan foto-foto mengenai rempah-rempah yang ada di Indonesia dan dari rempah-rempah pilihan tersebut, herborist membuat alat-alat kecantikan seperti sabun, minyak wangi, handbody, bodybutter dan lainnya. Selanjutnya, kami diberikan kunci loker untuk menaruh barang bawaan kami sebelum memasuki pabrik. Handphone serta kamera tidak diperkenankan masuk. Kami diberikan baju laboratorium, penutup kepala, penutup sepatu, dan penutup mulut untuk menjaga higienitas. Saya dan beberapa orang sudah siap untuk masuk, namun kami harus menunggu lainnya karena mereka sibuk dengan foto bersama keluarga. Saya sedikit kesal karena membuang waktu dan hal tersebut bisa dilakukan setelah tour. Pabirknya disini menyuguhkan bagian-bagian umumnya saja seperti pembuatan sabun batang, pengecapan nama produk di sabun, pembuatan minyak wangi dan quality controlnya. Lalu, kami turun kebawah untuk menonton selayang pandang tentang Oemah Herborist dan setelah selesai tour kami membeli beberapa produk disana. Aroma dari handbody dan bodybutter nya enak dan yang bagian lucunya adanya produk sabun batangan yang berbentuk cupcake, pudding, dan eskrim seperti foto dibawah ini.

This slideshow requires JavaScript.

Tour yang disuguhkan disini hanya 2 (dua), selebihnya kita bisa mengeksplor area sekitar Secret Garden tersebut. Ada foto 3Dimensi, Restoran dengan pemandangan sawah. Saya mencoba kopi di Black Eye, rasanya lumayan enak dibandingkan kopi di mall-mall kebanyakan. Mereka menjual biji kopi dari berbagai daerah dan bisa meminta mereka untuk menggilingkannya.

Overall, kegiatan di Secret Garden Village cukup menarik dan menambah edukasi mengenai kopi dan pabrik alat kecantikan. Pelayanannya juga sudah bagus, pemandangan hamparan sawah yang hijau dan dinginnya udara Bedugul menambah kenikmatan tersendiri.

HAVE A NICE DAY!

Secret Garden Village

ph: (0368) 2033363

w: http://www.secretgarden.co.id

Trip: Air Terjun Goa Rang Reng

Awalnya setelah menikmati pemandangan di Air Terjun Kanto Lampo dan Air Terjun Tibumana kami ingin segera pulang, namun karena dirasa masih ada waktu sebelum sore menjelang, kami memutuskan untuk mampir sebentar di Air Terjun Goa Rang Reng, lokasinya ada ditengah-tengah antara Air Terjun Kanto Lampo dan Air Terjun Tibumana tepatnya di Banjar Gitgit, Desa Babakan, Gianyar. Kami memarkirkan mobil di ujung jalan menuju Air Terjun tapi kalau untuk motor bisa diparkir dekat retribusi.

Kami hanya merogoh kocek Rp 10.000,-/orang. Wisata ini tak hanya tentang Air Terjun saja tetapi juga mengenai Goa Rang Reng itu sendiri. Goa tersebut diperuntukkan untuk melakukan persembahyangan. Jadi untuk perempuan yang sedang berhalangan, tidak diizinkan untuk memasuki goa tersebut. Berdasarkan dari www.hipwee.com, nama Rang Reng menurut warga sekitar berasal dari warna goa yang beraneka warna. Sungai yang diberi nama Tukad Cangkir ini, airnya berasal dari sungai di daerah Bangli dan Gianyar Utara. Bagi umat Hindu, dua aliran air ini dijadikan tempat yang disucikan sebagai kegiatan melukat (menyucikan diri) dan kegiatan ngayut (salah satu upacara ngaben) oleh warga sekitar.

Apabila ingin mengunjungi Goa Rang Reng lebih baik dengan guide agar mendapatkan informasi lebih dalam mengenai sejarahnya. Kalau hanya ingin bermain di Air Terjunnya, cukup mengikuti arah yang sudah disediakan. Menuju ke Air Terjun Goa Rang Reng, jalurnya lebih panjang dan menurun dibandingkan Air Terjun Kanto Lampo.

Aliran air Tukad Cangkir ini jatuh ke batuan yang berundak-undak yang dijadikan tempat wisata sebagai Air Terjun Goa Rang Reng. Berbeda dengan Air Terjun Kanto Lampo dengan batuan berundak-undak tinggi, Air Terjun Goa Rang Reng ini undakannya semakin kebawah semakin melebar. Kita dapat bernikmati aliran deras air sungai tersebut, namun harus tetap berhati-hati karena sedikit terjal dan licin. Air Terjun Goa Rang Reng memiliki tempat untuk berganti pakaian (sangat sederhana dan tidak ada air yang mengalir) serta ada tempat untuk menaruh tas. Terdapat satu warung kecil yang menyediakan makanan kecil dan minuman hangat.

HAVE a NICE TRIP!

ps: tulisan ini dipos juga di bali-airport.com/id/panduan-wisata dengan beberapa perubahan

Trip: Air Terjun Tibumana

Ketika memutuskan untuk mengunjungi Air Terjun yang terdapat di daerah Gianyar, saya dan teman-teman tidak hanya ke salah satu tempat saja namun juga ke beberapa tempat sekaligus. Hal ini diperuntukkan untuk lebih mengeksplor daerah sekitar. Nah, setelah bermain di Air Terjun Kanto Lampo, kita menuju kearah utara yaitu di Banjar Bangun Lemah Kawan, Desa Apuan, Kabupaten Bangli. Air Terjun yang kita datangi bernama Air Terjun Tibumana. Air Terjun yang lumayan terkenal di kalangan anak muda masa kini (a.k.a anak social media). Waktu tempuh dari Air Terjun Kanto Lampo adalah 25 menit. Lokasinya gampang diakses, walaupun jalanan kecil dan beberapa jalan berlubang, kita akan disuguhi pemandangan hamparan pohon kelapa.

Setelah memarkirkan kendaraan, kita melewati jalan kecil disamping Pura Besar terlebih dahulu untuk membayar retribusi sebesar Rp 5.000,-/orang. Kami bersiap menuju kebawah, tangga yang disediakan sudah tertata rapi dan tidak begitu banyak. Kita akan dituntun menuju Air Terjunnya sesuai dengan tanda yang sudah diberikan. Setelah melewati tangga, kita akan melihat gazebo kecil di sebelah kanan dan jembatan. Masih di jembatan, tiba-tiba teman saya meminta untuk diambilkan foto. (-,-“) alhasil cekrek-cekrek beberapa kali dan kita melanjutkan perjalanan ke jembatan kedua yang tak jauh dari yang pertama. Dari jembatan kedua, kita bisa mendengar gemuruh air terjun Tibumana. Kita melewati beberapa undakan dan dari kejauhan kita akan melihat Air Terjun setinggi 5 meter dengan pinggiran tebing hampir keseluruhannya tertanam tumbuhan perdu dan berlumut, di atasnya banyak pohon-pohon rindang yang akan menambah keasrian pemandangan sekitar Air Terjun ini.

Warga sekitar sering menyebut Air Terjun ini Air Terjun kembar karena ada dua air yang saling jatuh bersamaan. Namun ketika kami berkunjung kesana, hanya ada satu Air Terjun karena debit air yang sedikit dan terlihat agak sedikit kotor dibagian permukaannya. Pengelola atau warga sekitar memberikan kemudahan bagi para wisatawan yang ingin berenang di sekitar Air Terjun dengan membuat toilet untuk berganti pakaian.

HAVE A NICE TRIP!

ps: tulisan ini dipos juga di bali-airport.com/id/panduan-wisata dengan beberapa perubahan

Trip: Air Terjun Kanto Lampo

Rencana bermain ke air terjun terbesit oleh teman saya yang memang senang dengan jalan-jalan “yang rutenya ke utara bali ya”. Tapi sedari awal saya sudah menginfokan ke teman saya itu kalau saya angkat tangan kalo mainnya ke daerah Singaraja, karena jelas saya belum sanggup nyetir sampe ke ujung sana. Hahaha.. Alhasil setelah di cek ricek akhirnya diputuskanlah mencari air terjun di daerah Gianyar dan sekitarnya.

Sehubungan dengan teralu mainstream nya Air Terjun Tegenungan dan saya sudah pernah kesana, jadi kami memilih Air Terjun Kanto Lampo. Lokasi Air Terjun Kanto Lampo berada di Banjar Kelod Kangin, Kelurahan Beng, Kabupaten Gianyar. Jaraknya dekat banget sama pusat Kota Gianyar. Pusat Kota yang saya selalu amazed setiap ngelewatin. Dari pusat kota tinggal ke utara aja terus, nanti ada spanduk yang menuntun kita dan pake gps juga biar gak nyasar-nyasar banget.

Setelah memarkirkan mobil yang lapangan parkirnya tidak luas itu, kami membayar retribusi seharga Rp 10.000,- (sepuluh ribu rupiah) dan mulai menuruni anak tangga. Tidak seperti anak tangga di Air Terjun Aling-Aling, anak tangga disini tidak begitu banyak. Sampai diujung anak tangga kita sudah bisa mendengar derasnya air terjun Kanto Lampo. Sebelah kiri ada tempat untuk berganti pakaian dan sebelah kanan adalah Air Terjunnya. FYI, untuk tempat berganti pakaiannya bagus, bisa mandi juga disitu, dan toiletnya digabung juga sih jadi yaaa… Gitu deh. Kalo BAB kayaknya gak bisa. Hahaha..

Anyway, lanjut.. Kami menuruni anak tangga sedikit dan melepaskan sendal serta menaruh tas kami di pojokan yang tidak terkena air. Kami menuruni kembali batu-batuan yang berundak. Lumayan licin dan harus berhati-hati. Setelah turun kami bisa melihat lebih jelas bentuk Air Terjunnya.

This slideshow requires JavaScript.

 

Lihatlah… Bentuk Air Terjunnya memang sedikit berbeda dengan air terjun lainnya karena kontur dinding berbatu yang berundak-undak berbentuk seperti tangga. Airnya akan mengaliri setiap rongga batu tersebut yang membuat pemandangan air terjun semakin memukau. Kita dapat menaiki batu-batu tersebut dan berfoto secara menarik dibawah air terjunnya. Tiba-tiba ada bli yang menghampiri kami dan menawarkan menjadi guide selama di air terjun ini. Kami mengiyakan dan bli mengajak kami menuju air terjun kedua. Aliran sungainya cukup deras, ada beberapa batuan yang tidak stabil, untuk itu kami berhati-hati kembali ketika kami menapaki dari satu batu ke batu lainnya. Kami menemui Air Terjun yang kedua. Walaupun tidak sebagus yang pertama, namun airnya juga sama derasnya.

Setelah menikmati pemandangan air terjun kedua, kami kembali menuju air terjun yang pertama dan menaiki batuan-batuan untuk mengambil sandal serta tas kami. Pada saat kami bermain kesana, tidak banyak wisatawan asing dan lokal karena untuk yang lokal kala itu ada persembahyangan memperingati hari raya Kuningan. Bermain ke Air Terjun Kanto Lampo merupakan awal perjalanan kami, selanjutnya kami melanjutkan menikmati Air Terjun Goa Rang Reng dan Air Terjun Tibumana. Jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat ini. Jadi tunggu postingan selanjutnya…

Have a Nice Trip!

ps: tulisan ini dipos juga di bali-airport.com/id/panduan-wisata dengan beberapa perubahan

Trip: Air Terjun Aling-Aling

Berwisata di Pulau Dewata tak hanya sekedar keindahan Pantai dan luasnya Sawah yang berundak-undak, namun keindahan wisata Air Terjun tidak kalah menarik. Terdapat lebih dari 20 tempat wisata Air Terjun di seluruh Pulau Bali. Salah satunya yang akan kita bahas adalah Air Terjun Aling Aling.

Air Terjun Aling-Aling berada di Jl. Raya Desa Sambangan, Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali. Waktu tempuh dari Bandara I Gusti Ngurah Rai sekitar 3-4 jam perjalanan. Lokasinya cukup dekat dengan pusat kota Singaraja. Air Terjun Aling-Aling menjadi salah satu destinasi wisata setelah Air Terjun Sekumpul. Dengan merogoh kocek sebesar Rp 10.000 tanpa pemandu atau Rp 100.000 dengan pemandu, kita akan disuguhi pemandangan yang menyejukkan mata. Bagaimana tidak, dengan banyaknya pepohonan hijau diantara tebing-tebing tinggi dan suara-suara serangga yang saling bersahut-sahutan serta suara air yang begitu deras membuat suasana menjadi syahdu.

This slideshow requires JavaScript.

Pemandu mengajak kita berkeliling wilayah sekitar Air Terjun Aling-Aling karena dalam satu area terdapat 4 Air Terjun, yaitu Air Terjun Aling-Aling, Air Terjun Kroya, Air Terjun Kembar, dan Air Terjun Pucuk. Tempat pertama kita akan melihat Air Terjun Kroya, Air Terjun ini diperbolehkan untuk melompat dan berenang. Ketika memandangi Air Terjun Kroya, kita akan melihat tulisan yang dipasang di pohon yang isinya “Never Try, Never Know.” “Tunjukkan nyali anda.” “Test your adrenalin.” “Light on your spirit.” Tulisan ini mengajak para pengunjung untuk mencoba merasakan sensasi melompat di Air Terjun tersebut. Tempat kedua kita akan melihat Air Terjun Kembar dan Air Terjun Pucuk. Kedua air terjun tersebut sama seperti Air Terjun  Kroya, diperbolehkan untuk melompat dan berenang. Perbedaannya hanya pada ketinggiannya, Air Terjun Kembar dan Air Terjun Pucuk lebih tinggi dibandingkan Air Terjun Kroya.

Air Terjun Aling-Aling

Setelah menikmati pemandangan dan melihat aksi melompat para wisatawan, pemandu mengajak kita menuju Air Terjun Aling-Aling. Kita membutuhkan waktu 15 menit berjalan dari ketiga Air Terjun tersebut. Ketika menaiki tangga terakhir dan menapaki jalan yang disediakan, suara gemuruh air dan pemandangan tebing tinggi yang menjulang membuat kita lebih semangat berjalan untuk mencari asal suara. Kita akan melihat pemandangan Air Terjun setinggi 35 meter dengan debit air yang tinggi dan cekungan kolam sedalam 4 meter. Pemandu tidak memperbolehkan wisatawan untuk melompat di Air Terjun Aling-Aling, hanya diperbolehkan berendam dan berenang.

Pemandangan yang disuguhkan Air Terjun Aling-Aling, Air Terjun Kroya, Air Terjun Kembar, dan Air Terjun Pucuk, membuat kita menjadi lebih segar dan bisa kembali beraktivitas dengan lebih semangat.

(Tulisan ini juga dipos pada website bali-airport.com. Segala konten dan gambar sama, karena yang nulis juga sama. Hahaha..)

Have a nice day!