Venue: Secret Garden Village, Bedugul

Ada tempat baru yang dapat dikunjungi untuk daerah sekitar Jalan Raya Bedugul. Namanya Secret Garden Village, alamat lengkapnya di Jl. Raya Denpasar Bedugul Km. 36 Tabanan, Bali. Kalau dari arah Denpasar, tempatnya setelah Joger Oleh-Oleh dan disebelah kanan jalan. Tempat parkirnya luas, ada musholla dan ATM center.

Secret Garden Village mengusung tema an Educational Factory & Outlet Tour. Didalamnya berisi coffee shop bernama “Black Eye”, Beauty Factory bernama “Oemah Herborist”, 2 Restaurant bernama “The Luwus” (Balinese-Asian Resto) dan “Rice View” (BBQ Specialist), dan Wedding Chapel bernama “The Secret Chamber.” Biaya masuknya untuk lokal/domestik sebesar 50k per orang dan karena baru dibuka pada bulan Desember 2016, masih ada promo cashback voucher 25k untuk sekali transaksi di coffee shop, restaurant, dan oemah herborist sampai dengan 31 Juli 2017.

Setelah saya membeli tiket, saya dipandu untuk masuk kedalam dan saya diminta untuk memberikan tiket saya kepada resepsionis untuk ikut eduvacation mengenai cara membuat kopi di Black Eye dan cara membuat produk kecantikan di Oemah Herborist. Sambil menunggu pemandu, saya melihat arsitektur gedung yang menarik. Kalau menurut saya konsepnya lebih ke eco friendly (agak sok tahu sih ini, haha..).

Ticketing
Arsitekturnya

Oke, lanjut. Pemandu datang dan mengajak saya dan beberapa peserta untuk melihat alat dan kopi apa saja yang dikelola oleh Black Eye. Penjelasan pemandunya sederhana, cuman memberitahukan manual grinder apa saja, alat-alat untuk pengecekan suhu biji kopi dan kualitasnya, dan alat untuk roasting. Setelah pemberitahuan tentang alat-alatnya, kami diminta untuk ke ruang film untuk menonton pengelolaan biji kopi di Black Eye. Akhir sesi, kami diminta untuk mencoba aneka kopi yang dikelola disana. Pemandunya menanyakan kepada peserta apakah ada yang biasa minum kopi, dan beberapa ibu-ibu mengiyakan. Namun pada saat dimulai mencicip mereka gak sanggup karena gak pake gula. Wah saya cuman bisa ketawa aja sih, soalnya saya tahu mencicip kopinya itu secara harafiah, mencoba kopi Sumatera, Aceh Gayo, Lampung, Bali, Jawa, Papua, dan lainnya tanpa gula agar mengetahui aroma dan perbedaan rasa ditiap daerah. Akhirnya tersisa saya, Ibu saya, dan 2 peserta lainnya yang mencicip 7 (tujuh) kopi yang disediakan. Saya mencicip sambil mengomentari rasa di tiap cangkir. Tapi jawaban mas barista nya agak lain sih, gak seperti coffee shop yang pernah saya kunjungi di Ubud. Saya komentar di salah satu cangkirnya “Wah lebih asam ya yang ini” terus masnya bilang “tiap lidah orang yang mencicip beda sih mba rasanya.” eng ing eng… Nenek nenek icip kopi juga tahu kali mas tiap orang beda-beda pengecapannya. -__-

Yaa saya tahu mungkin gak semua orang aware atau antusias mengenai kopi as literally, yang rata-rata orang lebih suka kopi sachet (kalo saya bilang kopi cupu) dibanding seduh-seduh kopi beneran. Harapan saya mas baristanya mmberikan pengetahuan dengan challenge, nih misal “ini kopi sumatera (mandailing), after taste nya ada rasa buahnya, coba mba/mas icip, kerasa gak?” Kalau seperti itu kan jadi menarik buat peserta dan ada pengetahuan tambahan tentang kopi yang bisa jadi merupakan pengalaman pertama mereka. Nah, ini komentar pertama saya.

Black Eye Coffee
Cupping Session

Setelah selesai mencicip, kami kembali ke depan resepsionis untuk mengikuti pemandu yang lain menuju Pabrik Oemah Herborist. Sebelum kita menuju pabrik pembuatan alat-alat kecantikan, kita disuguhi buku dan foto-foto mengenai rempah-rempah yang ada di Indonesia dan dari rempah-rempah pilihan tersebut, herborist membuat alat-alat kecantikan seperti sabun, minyak wangi, handbody, bodybutter dan lainnya. Selanjutnya, kami diberikan kunci loker untuk menaruh barang bawaan kami sebelum memasuki pabrik. Handphone serta kamera tidak diperkenankan masuk. Kami diberikan baju laboratorium, penutup kepala, penutup sepatu, dan penutup mulut untuk menjaga higienitas. Saya dan beberapa orang sudah siap untuk masuk, namun kami harus menunggu lainnya karena mereka sibuk dengan foto bersama keluarga. Saya sedikit kesal karena membuang waktu dan hal tersebut bisa dilakukan setelah tour. Pabirknya disini menyuguhkan bagian-bagian umumnya saja seperti pembuatan sabun batang, pengecapan nama produk di sabun, pembuatan minyak wangi dan quality controlnya. Lalu, kami turun kebawah untuk menonton selayang pandang tentang Oemah Herborist dan setelah selesai tour kami membeli beberapa produk disana. Aroma dari handbody dan bodybutter nya enak dan yang bagian lucunya adanya produk sabun batangan yang berbentuk cupcake, pudding, dan eskrim seperti foto dibawah ini.

This slideshow requires JavaScript.

Tour yang disuguhkan disini hanya 2 (dua), selebihnya kita bisa mengeksplor area sekitar Secret Garden tersebut. Ada foto 3Dimensi, Restoran dengan pemandangan sawah. Saya mencoba kopi di Black Eye, rasanya lumayan enak dibandingkan kopi di mall-mall kebanyakan. Mereka menjual biji kopi dari berbagai daerah dan bisa meminta mereka untuk menggilingkannya.

Overall, kegiatan di Secret Garden Village cukup menarik dan menambah edukasi mengenai kopi dan pabrik alat kecantikan. Pelayanannya juga sudah bagus, pemandangan hamparan sawah yang hijau dan dinginnya udara Bedugul menambah kenikmatan tersendiri.

HAVE A NICE DAY!

Secret Garden Village

ph: (0368) 2033363

w: http://www.secretgarden.co.id

Trip: Air Terjun Goa Rang Reng

Awalnya setelah menikmati pemandangan di Air Terjun Kanto Lampo dan Air Terjun Tibumana kami ingin segera pulang, namun karena dirasa masih ada waktu sebelum sore menjelang, kami memutuskan untuk mampir sebentar di Air Terjun Goa Rang Reng, lokasinya ada ditengah-tengah antara Air Terjun Kanto Lampo dan Air Terjun Tibumana tepatnya di Banjar Gitgit, Desa Babakan, Gianyar. Kami memarkirkan mobil di ujung jalan menuju Air Terjun tapi kalau untuk motor bisa diparkir dekat retribusi.

Kami hanya merogoh kocek Rp 10.000,-/orang. Wisata ini tak hanya tentang Air Terjun saja tetapi juga mengenai Goa Rang Reng itu sendiri. Goa tersebut diperuntukkan untuk melakukan persembahyangan. Jadi untuk perempuan yang sedang berhalangan, tidak diizinkan untuk memasuki goa tersebut. Berdasarkan dari www.hipwee.com, nama Rang Reng menurut warga sekitar berasal dari warna goa yang beraneka warna. Sungai yang diberi nama Tukad Cangkir ini, airnya berasal dari sungai di daerah Bangli dan Gianyar Utara. Bagi umat Hindu, dua aliran air ini dijadikan tempat yang disucikan sebagai kegiatan melukat (menyucikan diri) dan kegiatan ngayut (salah satu upacara ngaben) oleh warga sekitar.

Apabila ingin mengunjungi Goa Rang Reng lebih baik dengan guide agar mendapatkan informasi lebih dalam mengenai sejarahnya. Kalau hanya ingin bermain di Air Terjunnya, cukup mengikuti arah yang sudah disediakan. Menuju ke Air Terjun Goa Rang Reng, jalurnya lebih panjang dan menurun dibandingkan Air Terjun Kanto Lampo.

Aliran air Tukad Cangkir ini jatuh ke batuan yang berundak-undak yang dijadikan tempat wisata sebagai Air Terjun Goa Rang Reng. Berbeda dengan Air Terjun Kanto Lampo dengan batuan berundak-undak tinggi, Air Terjun Goa Rang Reng ini undakannya semakin kebawah semakin melebar. Kita dapat bernikmati aliran deras air sungai tersebut, namun harus tetap berhati-hati karena sedikit terjal dan licin. Air Terjun Goa Rang Reng memiliki tempat untuk berganti pakaian (sangat sederhana dan tidak ada air yang mengalir) serta ada tempat untuk menaruh tas. Terdapat satu warung kecil yang menyediakan makanan kecil dan minuman hangat.

HAVE a NICE TRIP!

ps: tulisan ini dipos juga di bali-airport.com/id/panduan-wisata dengan beberapa perubahan

Trip: Air Terjun Tibumana

Ketika memutuskan untuk mengunjungi Air Terjun yang terdapat di daerah Gianyar, saya dan teman-teman tidak hanya ke salah satu tempat saja namun juga ke beberapa tempat sekaligus. Hal ini diperuntukkan untuk lebih mengeksplor daerah sekitar. Nah, setelah bermain di Air Terjun Kanto Lampo, kita menuju kearah utara yaitu di Banjar Bangun Lemah Kawan, Desa Apuan, Kabupaten Bangli. Air Terjun yang kita datangi bernama Air Terjun Tibumana. Air Terjun yang lumayan terkenal di kalangan anak muda masa kini (a.k.a anak social media). Waktu tempuh dari Air Terjun Kanto Lampo adalah 25 menit. Lokasinya gampang diakses, walaupun jalanan kecil dan beberapa jalan berlubang, kita akan disuguhi pemandangan hamparan pohon kelapa.

Setelah memarkirkan kendaraan, kita melewati jalan kecil disamping Pura Besar terlebih dahulu untuk membayar retribusi sebesar Rp 5.000,-/orang. Kami bersiap menuju kebawah, tangga yang disediakan sudah tertata rapi dan tidak begitu banyak. Kita akan dituntun menuju Air Terjunnya sesuai dengan tanda yang sudah diberikan. Setelah melewati tangga, kita akan melihat gazebo kecil di sebelah kanan dan jembatan. Masih di jembatan, tiba-tiba teman saya meminta untuk diambilkan foto. (-,-“) alhasil cekrek-cekrek beberapa kali dan kita melanjutkan perjalanan ke jembatan kedua yang tak jauh dari yang pertama. Dari jembatan kedua, kita bisa mendengar gemuruh air terjun Tibumana. Kita melewati beberapa undakan dan dari kejauhan kita akan melihat Air Terjun setinggi 5 meter dengan pinggiran tebing hampir keseluruhannya tertanam tumbuhan perdu dan berlumut, di atasnya banyak pohon-pohon rindang yang akan menambah keasrian pemandangan sekitar Air Terjun ini.

Warga sekitar sering menyebut Air Terjun ini Air Terjun kembar karena ada dua air yang saling jatuh bersamaan. Namun ketika kami berkunjung kesana, hanya ada satu Air Terjun karena debit air yang sedikit dan terlihat agak sedikit kotor dibagian permukaannya. Pengelola atau warga sekitar memberikan kemudahan bagi para wisatawan yang ingin berenang di sekitar Air Terjun dengan membuat toilet untuk berganti pakaian.

HAVE A NICE TRIP!

ps: tulisan ini dipos juga di bali-airport.com/id/panduan-wisata dengan beberapa perubahan

Trip: Air Terjun Kanto Lampo

Rencana bermain ke air terjun terbesit oleh teman saya yang memang senang dengan jalan-jalan “yang rutenya ke utara bali ya”. Tapi sedari awal saya sudah menginfokan ke teman saya itu kalau saya angkat tangan kalo mainnya ke daerah Singaraja, karena jelas saya belum sanggup nyetir sampe ke ujung sana. Hahaha.. Alhasil setelah di cek ricek akhirnya diputuskanlah mencari air terjun di daerah Gianyar dan sekitarnya.

Sehubungan dengan teralu mainstream nya Air Terjun Tegenungan dan saya sudah pernah kesana, jadi kami memilih Air Terjun Kanto Lampo. Lokasi Air Terjun Kanto Lampo berada di Banjar Kelod Kangin, Kelurahan Beng, Kabupaten Gianyar. Jaraknya dekat banget sama pusat Kota Gianyar. Pusat Kota yang saya selalu amazed setiap ngelewatin. Dari pusat kota tinggal ke utara aja terus, nanti ada spanduk yang menuntun kita dan pake gps juga biar gak nyasar-nyasar banget.

Setelah memarkirkan mobil yang lapangan parkirnya tidak luas itu, kami membayar retribusi seharga Rp 10.000,- (sepuluh ribu rupiah) dan mulai menuruni anak tangga. Tidak seperti anak tangga di Air Terjun Aling-Aling, anak tangga disini tidak begitu banyak. Sampai diujung anak tangga kita sudah bisa mendengar derasnya air terjun Kanto Lampo. Sebelah kiri ada tempat untuk berganti pakaian dan sebelah kanan adalah Air Terjunnya. FYI, untuk tempat berganti pakaiannya bagus, bisa mandi juga disitu, dan toiletnya digabung juga sih jadi yaaa… Gitu deh. Kalo BAB kayaknya gak bisa. Hahaha..

Anyway, lanjut.. Kami menuruni anak tangga sedikit dan melepaskan sendal serta menaruh tas kami di pojokan yang tidak terkena air. Kami menuruni kembali batu-batuan yang berundak. Lumayan licin dan harus berhati-hati. Setelah turun kami bisa melihat lebih jelas bentuk Air Terjunnya.

This slideshow requires JavaScript.

 

Lihatlah… Bentuk Air Terjunnya memang sedikit berbeda dengan air terjun lainnya karena kontur dinding berbatu yang berundak-undak berbentuk seperti tangga. Airnya akan mengaliri setiap rongga batu tersebut yang membuat pemandangan air terjun semakin memukau. Kita dapat menaiki batu-batu tersebut dan berfoto secara menarik dibawah air terjunnya. Tiba-tiba ada bli yang menghampiri kami dan menawarkan menjadi guide selama di air terjun ini. Kami mengiyakan dan bli mengajak kami menuju air terjun kedua. Aliran sungainya cukup deras, ada beberapa batuan yang tidak stabil, untuk itu kami berhati-hati kembali ketika kami menapaki dari satu batu ke batu lainnya. Kami menemui Air Terjun yang kedua. Walaupun tidak sebagus yang pertama, namun airnya juga sama derasnya.

Setelah menikmati pemandangan air terjun kedua, kami kembali menuju air terjun yang pertama dan menaiki batuan-batuan untuk mengambil sandal serta tas kami. Pada saat kami bermain kesana, tidak banyak wisatawan asing dan lokal karena untuk yang lokal kala itu ada persembahyangan memperingati hari raya Kuningan. Bermain ke Air Terjun Kanto Lampo merupakan awal perjalanan kami, selanjutnya kami melanjutkan menikmati Air Terjun Goa Rang Reng dan Air Terjun Tibumana. Jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat ini. Jadi tunggu postingan selanjutnya…

Have a Nice Trip!

ps: tulisan ini dipos juga di bali-airport.com/id/panduan-wisata dengan beberapa perubahan

Trip: Air Terjun Aling-Aling

Berwisata di Pulau Dewata tak hanya sekedar keindahan Pantai dan luasnya Sawah yang berundak-undak, namun keindahan wisata Air Terjun tidak kalah menarik. Terdapat lebih dari 20 tempat wisata Air Terjun di seluruh Pulau Bali. Salah satunya yang akan kita bahas adalah Air Terjun Aling Aling.

Air Terjun Aling-Aling berada di Jl. Raya Desa Sambangan, Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali. Waktu tempuh dari Bandara I Gusti Ngurah Rai sekitar 3-4 jam perjalanan. Lokasinya cukup dekat dengan pusat kota Singaraja. Air Terjun Aling-Aling menjadi salah satu destinasi wisata setelah Air Terjun Sekumpul. Dengan merogoh kocek sebesar Rp 10.000 tanpa pemandu atau Rp 100.000 dengan pemandu, kita akan disuguhi pemandangan yang menyejukkan mata. Bagaimana tidak, dengan banyaknya pepohonan hijau diantara tebing-tebing tinggi dan suara-suara serangga yang saling bersahut-sahutan serta suara air yang begitu deras membuat suasana menjadi syahdu.

This slideshow requires JavaScript.

Pemandu mengajak kita berkeliling wilayah sekitar Air Terjun Aling-Aling karena dalam satu area terdapat 4 Air Terjun, yaitu Air Terjun Aling-Aling, Air Terjun Kroya, Air Terjun Kembar, dan Air Terjun Pucuk. Tempat pertama kita akan melihat Air Terjun Kroya, Air Terjun ini diperbolehkan untuk melompat dan berenang. Ketika memandangi Air Terjun Kroya, kita akan melihat tulisan yang dipasang di pohon yang isinya “Never Try, Never Know.” “Tunjukkan nyali anda.” “Test your adrenalin.” “Light on your spirit.” Tulisan ini mengajak para pengunjung untuk mencoba merasakan sensasi melompat di Air Terjun tersebut. Tempat kedua kita akan melihat Air Terjun Kembar dan Air Terjun Pucuk. Kedua air terjun tersebut sama seperti Air Terjun  Kroya, diperbolehkan untuk melompat dan berenang. Perbedaannya hanya pada ketinggiannya, Air Terjun Kembar dan Air Terjun Pucuk lebih tinggi dibandingkan Air Terjun Kroya.

Air Terjun Aling-Aling

Setelah menikmati pemandangan dan melihat aksi melompat para wisatawan, pemandu mengajak kita menuju Air Terjun Aling-Aling. Kita membutuhkan waktu 15 menit berjalan dari ketiga Air Terjun tersebut. Ketika menaiki tangga terakhir dan menapaki jalan yang disediakan, suara gemuruh air dan pemandangan tebing tinggi yang menjulang membuat kita lebih semangat berjalan untuk mencari asal suara. Kita akan melihat pemandangan Air Terjun setinggi 35 meter dengan debit air yang tinggi dan cekungan kolam sedalam 4 meter. Pemandu tidak memperbolehkan wisatawan untuk melompat di Air Terjun Aling-Aling, hanya diperbolehkan berendam dan berenang.

Pemandangan yang disuguhkan Air Terjun Aling-Aling, Air Terjun Kroya, Air Terjun Kembar, dan Air Terjun Pucuk, membuat kita menjadi lebih segar dan bisa kembali beraktivitas dengan lebih semangat.

(Tulisan ini juga dipos pada website bali-airport.com. Segala konten dan gambar sama, karena yang nulis juga sama. Hahaha..)

Have a nice day!

Trip: Museum Le Mayeur, Bali

Matahari semakin terik ketika saya memutuskan untuk mendatangi Museum Le Mayeur yang berada tidak jauh dari rumah tinggal saya. Lokasinya berada tepat di areal Pantai Sanur, Bali. Jika ingin mengunjungi Museum ini, jarak yang paling dekat untuk menuju tempat ini adalah melalui belakang hotel Sanur Paradise Plaza atau orang-orang sering mengatakan tempat makan mak beng (tempat makan seafood ala Bali).

Untuk menuju ke Museumnya harus dengan berjalan kaki karena masih di areal pantai, maka mobil dan motor harus diparkirkan sesuai dengan lokasi yang sudah ditentukan. Sayangnya, semakin sore menuju ke pantai tersebut, semakin banyak kendaraan yang parkir. Contohnya saya ketika mau menggunakan jalan tercepat menuju Museum tersebut, parkir penuh. Akhirnya saya harus menuju jalan satunya lagi yang lebih jauh ditempuh.

Saya sudah wanti-wanti ketika menuju ke Museum La Mayeur. Takut tutup karena waktu itu saya bertandang pada hari Minggu. Tahu kan ya, gak semua Museum di Indonesia mengetahui liburnya Museum itu hari Senin dan bukan hari Minggu, saya beberapa kali bertandang ke Museum yang tutup di Hari Minggu. Hehehe.. Tapi untung saja, Museum La Mayeur buka setiap hari kecual hari libur Nasional. Fiuh.. perjalanan panjang saya tidak sia-sia. Tiket masuknya pun murah meriah, untuk warga Indonesia di patok harga 5.000 rupiah untuk dewasa dan 2.000 rupiah untuk anak-anak.

Biaya dan Jam Museum

Ketika saya memasuki pintu masuk Museum La Mayeur, saya melihat Rumah. Rumah model Bali yang dijadikan Museum. Saya suka ukiran temboknya dan monumen untuk mengenang pemilik rumah yang tertata baik.

Pemilik rumah ini adalah Le Mayeur dan Ni Pollok. Le Mayeur merupakan pelukis berkebangsaan Belgia, dan Ni Pollok merupakan warga asli Bali. Le Mayeur memulai kehidupannya di Bali pada tahun 1932 dan bertemu Ni Pollok yang sampai akhir hayatnya menjadi model untuk lukisannya. Le Mayeur menjadi pelukis terkenal di Indonesia maupun di luar negeri. Pada tahun 1956, Menteri Pendidikan memutuskan untuk menjadikan rumahnya Museum dan disetujui dengan senang hati oleh Le Mayeur dan keluarga. Akhirnya pada tahun 1957, Museum Le Mayeur resmi dibuka dan menjadi hak milik Pemerintah Indonesia.

Museum Le Mayeur merupakan museum yang berisi lukisan-lukisan karya Le Mayeur. Lukisannya rata-rata bertema pemandangan dan kehidupan sehari-hari dengan model wanita yang tak lain tak bukan adalah Ni Pollok. Sekilas saya memerthatikan informasi mengenai lukisan La Mayeur adalah pada tahun 1937, Beliau melukis menggunakan kapur warna diatas kertas. Pada tahun 1942, Beliau melukis diatas bagor (tempat beras). Lukisan diatas bagor ini yang menyedot perhatian saya dan menurut saya yang paling bagus, karena belum pernah saya lihat. Warnanya penuh dan semi-abstrak menurut saya. Kebanyakan lukisan Le Mayeur yang dipajang tidak yang asli, alasannya karena lokasi Museum berdekatan dengan Pantai dan angin pantai kurang bagus untuk beberapa jenis barang. Oiya, bagus tidaknya lukisan berdasarkan orang awam seperti saya ini ya, yang pasti ada pendapat lain ketika dinilai oleh para pelukis atau orang yang bergerak di bidang seni. Hehe..

Art Gallery Ni Pollok

Pada tiap ruangan tertulis bahwa tidak boleh mengambil foto mengenai lukisan yang dipajang. Untuk menghormatinya, saya memang tidak mengambil foto untuk lukisannya, saya hanya mengambil foto mengenai penjelasan di tiap ruangannya. Museum Le Mayeur memiliki empat ruangan, tempat pencanangan, dan art gallery. Menurut saya, Museum Le Mayeur cukup sederhana dan gampang untuk dicerna antara informasi dan lukisannya.


Museum terdekat lainnya ada di area Renon yaitu di Lapangan Niti Mandala Renon, namanya adalah Museum Perjuangan Rakyat Bali, lokasinya tepat di dalam Monumen Bajra Sandi. Tutup pada hari Minggu (ingat.. ingat).

Ketika saya mencari di internet mengenai museum di Bali, ternyata banyak sekali. Rata-rata Museum mengenai lukisan. Paling banyak berada di area Ubud dan Kabupaten Gianyar.

Semoga saja saya bisa satu satu mengunjungi Museum yang ada di Bali. Pelan-pelan saja..

Have a Nice Day!

Event: Pacuan Kuda Istimewa Sri Sultan Hamengku Buwono X Cup IV

Tanggal 11 November 2012 lalu saya bermain ke daerah Bantul, tepatnya di Gelanggang Olahraga Sultan Agung. Saya kesana dalam rangka melihat Kejurnas Pacuan Kuda Istimewa Sri Sultan Hamengku Buwono X Cup IV. Penyelenggaraan event ini berlangsung 2 hari, sabtu dan minggu, namun saya memilih menonton yang hari Minggu (waktu yang selooo). Saya baru pertama kali melihat acara pacuan kuda. Pacuan kuda yang merakyat kalau menurut saya, karena kita dapat menonton acara ini secara gratis dan menontonnya tepat di belakang pagar pembatas. Tapi kita bisa juga nonton dari gedung yang telah disediakan, cukup bayar 3ribu, kita bisa duduk ndlosor disana. Rasanya memang aneh ya kalo sering melihat di film-film acara beginian bakal duduk dibangku seperti di stadion, lha ini malah nongkrong pas deket orang lagi lomba. Bagian lucu dan menyeramkannya, ketika perlombaan akan dimulai, beberapa anak-anak dan orang dewasa berdiri ditengah lintasan, pada saat aba-aba dibunyikan, mereka semua cepat-cepat keluar dari lintasan. Kelakuan (-_____-”).

Kalau dari koran Kedaulatan Rakyat, panitia perlombaan sudah menyiapkan 25 nomor kelas yang berbeda. Pada hari Sabtu, diperlombakan 9 kelas non utama, yaitu kelas kuda mini, balap bendi, kontes andong, kuda tradisional, dan kuda lokal asli DIY. Sedangkan di hari Minggu, perlombaan ini diikuti oleh 200 kuda dari bebagai daerah di Indonesia dengan 16 kelas utama. Kelas utama yang paling bergengsi adalah kelas 2.000 meter. Juara pertama Sri Sultan Hamengku Buwono X Cup I-III dipegang oleh kuda Saud, namun untuk Cup IV ini juara pertamanya adalah kuda Poseidon G3 (Joki: Runtu) yang berasal dari Brother Silver Stable, Surabaya. Juara kedua diraih oleh Saweri Gading (Solo) dan juara ketiga diraih oleh Berlian Minang (Bangkalan).

Semoga saja fasilitas yang ada di Gelanggang Sultan Agung di bagusin sedikit, minimal dikasi beberapa tempat meneduh dekat dengan arena pacuannya.. 😛

This slideshow requires JavaScript.