Trip: Pura Bukit Batu Kursi

Saya akan menceritakan awal mula memutuskan untuk main ke daerah Bali Barat. Awalnya, saya butuh refreshing dari segala macam apa yang terjadi beberapa minggu lalu. Saya memutuskan untuk membawa mobil saya sendiri menuju Bali Barat, tepatnya di area Gili Putih dan Menjangan selama 2 hari 1 malam. Saya mengajak teman saya, Endah untuk ikut serta, dia setuju. Ketika masuk ke perizinan orangtua, mamak langsung berat hati menyetujuinya. Hahaha.. Mulanya saya memberikan alternatif bahwa saya gak masalah berangkat dengan nyetir sendiri, akan berhenti dibeberapa tempat sebelum sampai ke tujuan. Karena tak kunjung disetujui, akhirnya saya memutuskan untuk mengalah dan memesan penyewaan mobil langganan. Heuft.

Rute dan Jam keberangkatan kami rubah. Rute pertama kami memutuskan untuk ke Pura Bukit Batu Kursi dan rute kedua adalah Gili Putih selama satu hari perjalanan saja. Jam keberangkatan yang awalnya (nyetir sendiri) kami inginkan berangkat jam 5 pagi dirubah menjadi pukul 1.30 dini hari. Rombongan pun jadinya ditambah karena masih ada ruang yang cukup didalam mobil sewaan. Totalnya menjadi berlima, Saya, Endah, Eirene, Lukman, dan Alvien.

Kami sepakat meeting pointnya adalah rumah saya, jadi berempat melaju dari Kuta ke Denpasar pukul 00.30 WITA dan Pak Wayan, driver kami sudah standby tepat pukul 1.30 WITA. Kami memulai perjalanan menuju Pura Bukit Batu Kursi. Lokasinya ada di Jalan Raya Pemuteran, Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali. Waktu yang ditempuh umumnya adalah tiga setengah jam. Tapi karena kami berangkatnya dini hari dan mengambil rute melalui Dencarik, Buleleng, kami hanya menempuh waktu tiga jam. Setelah kami sampai, kami bersiap-siap untuk naik ke Pura Bukit Batu Kursi. Sebelum naik kami salat subuh terlebih dahulu karena begitu sampai, adzan sudah berkumandang.

Kami memulai perjalanan naik ke atas pukul 05.10 WITA. Masih gelap dan hanya ada lampu temaram di beberapa lokasi menuju Pura. Pura Bukit Batu Kursi ini, walaupun dibilangnya bukit, tapi sudah dibuat bertangga-tangga beton untuk membantu memudahkan perjalanan para pemedek (peserta persembahyangan) dan para wisatawan untuk naik maupun turun. Pak Wayan berpesan kepada kami sebelum naik, untuk ”permisi” terlebih dahulu. Ahaha. Uda takut aja bawaannya pas mau naik ke atas. Tapi karena kami meyakini bahwa kami tidak melakukan hal yang tidak-tidak jadinya kami hanya kulo nuwun saja sebisa kami.

Awalnya perjalanan dibagian depan tangganya agak lebar dan berjauhan, sampai di tengah makin pendek dan naik banget gak ada beloknya. Hahha.. Endah dan Eirene menikmati tiap tangga, Lukman jalan beberapa tangga langsung duduk ngos-ngosan, saya sama Alvien naik sampai beberapa anak tangga, berhenti sebentar, naik lagi sampai hanya tersisa jalan setapak menuju Pura. Kami semua ngos-ngosan dan berpeluh, berhenti dan duduk tepat dekat Pura. Kami sampai di atas sekitar pukul 05.30 WITA. Saya sudah mempersiapkan tripod untuk mengambil view sunrise, teman-teman lainnya sudah siap dengan kamera masing-masing. Nyatanya mataharinya tertutup bukit yang ada di seberang Pura. Ahahaha.. Tapi cahaya matahari terbit setengah jalan ini dipadukan dengan temaram cahaya rumah-rumah dibawahnya, terlihat sangat syahdu.

This slideshow requires JavaScript.

Kami menikmati segala momen yang ada sampai cahaya matahari cukup terang untuk mengetahui bahwa ada undakan lainnya yang bisa kita eksplorasi untuk melihat pemandangan lebih luas lagi di utara Pura. Kami naik ke atas undakan tersebut, ada ayunan dan tiang bendera dari bambu beserta bendera merah putih yang tersisa seperempatnya saja. Kami berfoto bersama dan melihat sekeliling Pura Bukit Batu Kursi. Perbukitan tinggi yang berwarna cokelat di arah timur, hamparan rumah penduduk, pepohonan, dan pantai Pemuteran di sepanjang arah utara, serta siluet Gunung Ijen dan Gunung Raung di arah barat. Pemandangannya benar-benar membuat takjub.

Pura Bukit Batu Kursi konon merupakan tempat memohon petunjuk untuk perihal jabatan dalam suatu pekerjaan. Area Pemuteran sendiri memiliki banyak Pura besar yang banyak warga dari segala daerah di Bali melakukan persembahyangan sepertu Pura Pemuteran, Pura Pulaki, Pura Pabean, Pura Melanting, dan Pura Kerta Kawat. Untuk informasi lanjutannya bisa cek dimari.

Baiklah, kami menyudahi memandang-mandangi dan menuruni Pura Bukit Batu Kursi. Melanjutkan perjalanan mencari makan pagi serta ke Gili Putih, Sumberkima, Buleleng. Overall, Pura Bukit Batu Kursi bagus banget pemandangannya dan gak sia-sia perjalanan jauh ke Buleleng.

Ini ada secuplik perjalanan kami, untuk cerita ke Gili Putih dilanjutkan di pos berikutnya yaa…

HAVE A NICE DAY!

Venue: CafelateO, Bali

Saat ini, ada banyak sekali tempat makan seperti café, fine dining, warung makan, dan restauran di Kota Denpasar dan sekitarnya. Walopun kebanyakan yang punya dari warga Bali sendiri, ada juga yang dari Kota Malang dan Kota Surabaya. Hal ini pun dikarenakan pangsa pasar yang cukup beragam. Tinggal pintar-pintarnya teman-teman memilih tempat makan yang diinginkan. Misalnya, memilih tempat makan yang halal atau yang tidak halal dan kembali lagi sesuai selera masing-masing.

Saya sebenarnya jarang sekali keluar rumah untuk sekedar mencicip tempat makan baru atau yang lama namun belum pernah dicoba. Sejatinya karena jarang ada yang bisa di ajak untuk mencoba tempat baru sih. Haha.. Kalau mengajak Ibu, ada beberapa tempat yang kurang diminati seperti makanan Jepang atau Korea. Padahal ketika itu ada keinginan mencoba makanan tersebut. Alhasil yasudah makan di rumah saja atau menggunakan aplikasi pesan antar makanan. Hahaha…

Oke, lanjut. Singkat cerita pada hari sabtu kemarin saya kedatangan teman saya dari jauh, dia sudah sempat bilang ingin menikmati atau mencicipi tempat makan/café yang ada di Kota Denpasar karena dia sudah cukup sering berkeliling daerah Kuta-Seminyak-Legian. Setelah mengecheck di instagram dan melihat review-review, berlabuhlah kami di pusat Kota Denpasar yaitu di Jalan Gunung Semeru, tepat di belakang Denpasar Cineplex atau dahulu sebutannya Bioskop Wisata. Kita mencari sampai ujung jalan tapi tidak menemukan tempat yang kami tuju, kami putar balik dan ternyata lokasinya tidak terlihat dengan jelas karena ditutupi tembok hitam, hanya seperempatnya saja yang dipugar dijadikan jalan menuju café.

cafelateo
Jl. Gunung Semeru No. 3

Café yang ingin kami datangi bernama CafelateO. Café yang memiliki konsep khusus untuk pecinta greentea dalam bentuk apapun. Mereka meng-claim bahwa greentea dan matcha nya berasal dari Uji, Kyoto dikarenakan tempat tersebut memiliki greentea dan matcha dengan kualitas terbaik.

Jam telah menunjukkan pukul 4 sore dan café sudah siap beroperasi 15 menit kemudian (sambil menunggu, kami makan fried chicken diseberang café). Kami masuk dan memilih tempat di pojokan dekat dengan tulisan berwarna merah kelap kelip bertuliskan “Be Weird” saya tidak tahu sebenernya esensi dengan tulisan tersebut apa tapi kami suka dengan konsep tempat duduknya, ada yang menggunakan kursi dan ada yang lesehan. Kami memilih lesehan karena rasanya lebih bebas saja untuk kaki kami. Beberapa menit kami berbincang, sempat bingung karena waiternya tidak memberikan kami menu. Ternyata oh ternyata, kami harus ke depan kasir untuk pesan makanan dan minumannya. Hahahha..

inside-cafe

Kami kedepan kasir dan melihat ada tulisan dipapan kapur kecil “Single Origin: Uji-Kyoto”, kami melihat menu dan kami memesan Gainmacha Geisha (20k), Classic Affogato (18k), Matcha Latte (21k), Matcha L’Epresso (25k), Ritual (18k), dan Croissant Matcha (18k). Kami cuman berdua dan pesanan kami seperti buat berempat. Haha..

 

This slideshow requires JavaScript.

Kita review ya teman-teman. Untuk Classic Affogato saya suka karena vanilla ice cream nya dari ice cream Diamond, karena ice cream ini dan campuran espresso apapun rasanya nikmat sekali. Matcha L’Epresso sebenarnya enak hanya saja saya lupa menginfokan ke waiter nya untuk memasukkan low sugar saja, alhasil saya seperti minum susu dengan gula yang banyak tanpa terasa matcha ataupun kopinya. Heu heu heu… Untuk Gainmacha Geisha adalah teh sencha, kalau habis bisa gratis refill, rasanya segar sekali dan tidak terlalu pahit, pas dilidah saya. Matcha Latte nya full susu tapi lebih mendingan dibanding L’Epresso nya. Haha.. Croissant Matchanya juga enak dan isi saus greenteanya banyak. Nah, yang menarik di café ini adalah menu Ritual, menu ini mengajarkan kita bagaimana upacara minum teh di Jepang (mengaduk matcha dengan air panas menggunakan chasen atau pengaduk teh berbentuk kuas pendek). Sejatinya sih gak diajarin sama waiter atau pemilik tokonya, hanya saja kita melihat melalui video bagaimana cara mengaduknya. Seru sekali.. Rasanya pun walaupun pahit, tapi segar dan tidak membuat gatal di tenggorokan.

Silahkan bila ingin berkunjung, café buka dari jam 4 sore hingga 11 malam setiap hari. Tempatnya mudah dijangkau dan banyak tempat duduk. Selain greentea, mereka menyajikan menu kopi, cokelat, es seperti kakigori, snack, dan lainnya. Harga terjangkau di kantong. Selamat mencoba!

Happy Hunting!