Trip: Gili Putih, Sumberkima

Perjalanan menikmati matahari terbit dari atas Pura Bukit Batu Kursi tak membuat kami kelelahan. Ada satu tempat lagi yang ingin kami kunjungi di daerah Buleleng sebelum kembali ke Denpasar, yaitu Gili Putih. Kami turun dari Pura sekitar pukul 8.30 pagi, Pak Wayan sudah standby untuk mengantarkan kami ke destinasi berikutnya. Kami memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu. Tempat makan yang sudah buka pagi itu adalah Warung Jawa dekat Bandar Udara Letkol Wisnu, warung makan yang memiliki menu nasi rames, nasi pecel, dan mie rebus/goreng.

Sambil menunggu teman-teman yang lain menghabiskan makan paginya, saya mengecek sekali lagi untuk lokasi pasti dari Gili Putih. Ternyata lokasinya berada di belakang Bandar Udara Letkol Wisnu. Dekat sekali dengan tempat kami sekarang. Kami memasuki area Bandar Udara Letkol Wisnu, Bandara perintis yang hanya diperuntukkan latihan calon penerbang dengan pesawat kecil. Sampai di ujung jalan, kami disuguhi pemandangan hamparan air laut, jukung (perahu kecil), dan beberapa keramba apung. Karena posisinya masih pagi dan tidak banyak warga yang lalu lalang, kami agak kebingungan untuk menanyakan dimana tempat kami bisa menyewakan jukung untuk membawa kami ke Gili Putih.

Akhirnya kami memutuskan untuk mengikuti lagi jalan setapak sampai ke ujung jalan di sebelah barat. Pak Wayan menanyakan kepada Bapak-Bapak yang berada disana dan dia bersedia mengantar kami ke Gili Putih. Pak Beni (yang mengantarkan kami), menawarkan perorangnya Rp 50.000,- untuk menaiki jukung miliknya. Setelah kami berdiskusi, kami sepakat dengan harga yang ditawarkan. Kami bersiap berganti celana dan menggunakan sunblock, karena Pak Beni menginfokan pagi hari lautnya sedang surut, jukungnya hanya dapat berhenti jauh dari Gili Putih.

Pak Beni mendorong, mengatur jukung miliknya, dan menghidupkan mesin untuk bersiap. Kami menaikinya dan jukung pun melaju menuju Gili Putih, tidak sampai sepuluh menit kata Pak Beni. Kami melihat air laut berwarna biru yang begitu jernih, keramba apung, dan gundukan pasir yang luas yang ternyata adalah Gili Putih.

Dari yang saya baca di beberapa situs web, Gili Putih merupakan gundukan pasir yang berbentuk pulau dan tak berpenghuni, beberapa wisatawan sejatinya mengetahui sejak lama Gili Putih ini karena sebelum ke Pulau Menjangan mereka akan mampir terlebih dahulu ke pulau ini untuk melihat terumbu karang yang ada disekitarnya. Bentukan Gili Putih ini pun akan berubah-ubah tergantung pasang surutnya air laut. Nah, untuk melestarikan Gili ini, warga sekitar membentuk Pokdarwis dan membuat beberapa agenda yang terkait lingkungan hidup seperti adanya signage larangan membuang sampah sembarangan, menanam pohon, dan beutifikasi dari bahan daur ulang untuk menarik kunjungan wisata.

This slideshow requires JavaScript.

Jukung Pak Beni sudah bersauh lumayan jauh dari lokasi Gili Putih. Sebelum turun, kami melihat banyak sekali gerombolan atau kelompok-kelompok bulu babi di kanan kiri jukung kami. Saya masih ingat pernah ditakut-takuti kalau bulu babi ini bisa menembus kulit dan beracun. Sudah ngeri-ngeri sedap aja membayangkan sepanjang jalan menuju Gili akan menemui gerombolan bulu babi lucu ini. Saya turun dari jukung setelah teman saya, Lukman, dilanjut dengan Alvien, Endah, dan Eirene. Kami melewati beberapa bulu babi dengan sangat pelan sekali agar mereka tidak bergerak karena arus yang kami buat. Tinggi air lautnya hanya sampai di atas mata kaki, namun pasir putihnya besar-besar dan apabila diijak agak sedikit pedih di telapak kaki. Kami berjalan seperti bermain minesweeper zaman komputer masih windows 98. Hahaha.. Selain bulu babi, banyak sekali teripang yang nggelayut-nggelayut kanan kiri karena langkah kaki kami. Tetiba ada yang teriak-teriak dibelakang saya, ternyata Eirene teriak karena geli melihat teripang. Pffttt… Sambil berpegangan dengan Pak Beni, Eirene akhirnya berhasil melewati beberapa teripang, namun teripang tak hanya di dekat jukung kami, tapi sepanjang jalan menuju Gili Putih. Akhirnya Eirene berpegangan dengan Endah sambil melompat sana sini agar kegeliannya cepat usai.

This slideshow requires JavaScript.

Setelah berjalan dan melompat-lompat selama kurang lebih lima belas menit, akhirnya kami sampai di Gili Putih. Di Gili Putih kami hanya berlima, tidak ada pengunjung wisatawan yang lainnya. Pak Beni mengatakan jam ramainya pengunjung adalah sore hari, sabtu dan minggu. Kami malah senang sih, gak ada wisatawan lainnya pada saat itu, jadi kami bisa eksplor dan berfoto lebih lama. Ahahaha.. Gili Putih ini ada dua ayunan, beberapa batang pohon untuk spot foto, bale untuk beristirahat, signage Gili Putih plus larangan membuang sampah sembarangan, dan beberapa pasak kayu yang seharusnya sebagai ayunan namun belum selesai dibuat. Kami berfoto di dekat ayunan yang bertuliskan “Gili Putih Sumberkima” dan memutuskan untuk berteduh di bale sambil menikmati pemandangan sekitar.

This slideshow requires JavaScript.

Menikmati angin sepoi-sepoi, ngobrol ngalor ngidul, dan setelah lelap tertidur di bale, sekitar pukul 11 siang kami memutuskan untuk kembali ke jukung dan bersiap kembali ke Denpasar (masih dengan berjalan dan melompat-lompat, minus kelompok bulu babi yang sudah hilang karena air laut sudah semakin pasang) Haha..

Overall, Gili Putih memang hanya sebatas gundukan pasir berbentuk pulau yang dikembangkan sebagai salah satu tempat wisata di Sumberkima, Gerokgak, Buleleng ini. Namun pemandangannya yang membuat saya ingin melihat lebih dekat Gili Putih itu seperti apa. hmm.. A day well spent in Buleleng, Bali!

HAVE A NICE DAY!

Trip: Pura Bukit Batu Kursi

Saya akan menceritakan awal mula memutuskan untuk main ke daerah Bali Barat. Awalnya, saya butuh refreshing dari segala macam apa yang terjadi beberapa minggu lalu. Saya memutuskan untuk membawa mobil saya sendiri menuju Bali Barat, tepatnya di area Gili Putih dan Menjangan selama 2 hari 1 malam. Saya mengajak teman saya, Endah untuk ikut serta, dia setuju. Ketika masuk ke perizinan orangtua, mamak langsung berat hati menyetujuinya. Hahaha.. Mulanya saya memberikan alternatif bahwa saya gak masalah berangkat dengan nyetir sendiri, akan berhenti dibeberapa tempat sebelum sampai ke tujuan. Karena tak kunjung disetujui, akhirnya saya memutuskan untuk mengalah dan memesan penyewaan mobil langganan. Heuft.

Rute dan Jam keberangkatan kami rubah. Rute pertama kami memutuskan untuk ke Pura Bukit Batu Kursi dan rute kedua adalah Gili Putih selama satu hari perjalanan saja. Jam keberangkatan yang awalnya (nyetir sendiri) kami inginkan berangkat jam 5 pagi dirubah menjadi pukul 1.30 dini hari. Rombongan pun jadinya ditambah karena masih ada ruang yang cukup didalam mobil sewaan. Totalnya menjadi berlima, Saya, Endah, Eirene, Lukman, dan Alvien.

Kami sepakat meeting pointnya adalah rumah saya, jadi berempat melaju dari Kuta ke Denpasar pukul 00.30 WITA dan Pak Wayan, driver kami sudah standby tepat pukul 1.30 WITA. Kami memulai perjalanan menuju Pura Bukit Batu Kursi. Lokasinya ada di Jalan Raya Pemuteran, Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali. Waktu yang ditempuh umumnya adalah tiga setengah jam. Tapi karena kami berangkatnya dini hari dan mengambil rute melalui Dencarik, Buleleng, kami hanya menempuh waktu tiga jam. Setelah kami sampai, kami bersiap-siap untuk naik ke Pura Bukit Batu Kursi. Sebelum naik kami salat subuh terlebih dahulu karena begitu sampai, adzan sudah berkumandang.

Kami memulai perjalanan naik ke atas pukul 05.10 WITA. Masih gelap dan hanya ada lampu temaram di beberapa lokasi menuju Pura. Pura Bukit Batu Kursi ini, walaupun dibilangnya bukit, tapi sudah dibuat bertangga-tangga beton untuk membantu memudahkan perjalanan para pemedek (peserta persembahyangan) dan para wisatawan untuk naik maupun turun. Pak Wayan berpesan kepada kami sebelum naik, untuk ”permisi” terlebih dahulu. Ahaha. Uda takut aja bawaannya pas mau naik ke atas. Tapi karena kami meyakini bahwa kami tidak melakukan hal yang tidak-tidak jadinya kami hanya kulo nuwun saja sebisa kami.

Awalnya perjalanan dibagian depan tangganya agak lebar dan berjauhan, sampai di tengah makin pendek dan naik banget gak ada beloknya. Hahha.. Endah dan Eirene menikmati tiap tangga, Lukman jalan beberapa tangga langsung duduk ngos-ngosan, saya sama Alvien naik sampai beberapa anak tangga, berhenti sebentar, naik lagi sampai hanya tersisa jalan setapak menuju Pura. Kami semua ngos-ngosan dan berpeluh, berhenti dan duduk tepat dekat Pura. Kami sampai di atas sekitar pukul 05.30 WITA. Saya sudah mempersiapkan tripod untuk mengambil view sunrise, teman-teman lainnya sudah siap dengan kamera masing-masing. Nyatanya mataharinya tertutup bukit yang ada di seberang Pura. Ahahaha.. Tapi cahaya matahari terbit setengah jalan ini dipadukan dengan temaram cahaya rumah-rumah dibawahnya, terlihat sangat syahdu.

This slideshow requires JavaScript.

Kami menikmati segala momen yang ada sampai cahaya matahari cukup terang untuk mengetahui bahwa ada undakan lainnya yang bisa kita eksplorasi untuk melihat pemandangan lebih luas lagi di utara Pura. Kami naik ke atas undakan tersebut, ada ayunan dan tiang bendera dari bambu beserta bendera merah putih yang tersisa seperempatnya saja. Kami berfoto bersama dan melihat sekeliling Pura Bukit Batu Kursi. Perbukitan tinggi yang berwarna cokelat di arah timur, hamparan rumah penduduk, pepohonan, dan pantai Pemuteran di sepanjang arah utara, serta siluet Gunung Ijen dan Gunung Raung di arah barat. Pemandangannya benar-benar membuat takjub.

Pura Bukit Batu Kursi konon merupakan tempat memohon petunjuk untuk perihal jabatan dalam suatu pekerjaan. Area Pemuteran sendiri memiliki banyak Pura besar yang banyak warga dari segala daerah di Bali melakukan persembahyangan sepertu Pura Pemuteran, Pura Pulaki, Pura Pabean, Pura Melanting, dan Pura Kerta Kawat. Untuk informasi lanjutannya bisa cek dimari.

Baiklah, kami menyudahi memandang-mandangi dan menuruni Pura Bukit Batu Kursi. Melanjutkan perjalanan mencari makan pagi serta ke Gili Putih, Sumberkima, Buleleng. Overall, Pura Bukit Batu Kursi bagus banget pemandangannya dan gak sia-sia perjalanan jauh ke Buleleng.

Ini ada secuplik perjalanan kami, untuk cerita ke Gili Putih dilanjutkan di pos berikutnya yaa…

HAVE A NICE DAY!

Kenang

Kepada IBS,

Kamu hadiah terbaik yang Tuhan berikan kepadaku tahun ini.

Hari sabtu di terminal keberangkatan, pertemuan yang kita sama-sama tahu tujuannya.
Menyelesaikan apa yang tertahan dibenak kita selama beberapa bulan lalu.

Maksud dari keabsenan komunikasi kita, semangat bersama yang semakin menipis di satu sisi disaat sisi lainnya masih tinggi, harapan bersama yang masih berkobar disatu sisi disaat sisi lain semakin meragu atas kemampuannya.

Kita memang tak pernah benar-benar berkompromi, kita menjalani begitu saja dan berharap akan ada penguatan satu sama lain.

Bila selama ini aku pernah buatmu kesal, aku minta maaf.

Apa yang kamu lakukan terhadapku dan rasa bersalahmu, merupakan urusanmu untuk menyelesaikannya pada dirimu sendiri.

Aku tahu dan sadar dengan apa yang kamu lakukan. Aku sudah memaafkanmu. 

Aku berterima kasih atas apa yang tidak kamu sadari bahwa banyak hal baik yang terjadi selama kita bersama.
Banyak doa-doa telah terpanjatkan untukmu, keluargamu, dan keluargaku.

Terima kasih genggaman tanganmu, pelukanmu, dan 7 bulan kita.

dari aku yang memendam rasa dari 8 tahun lalu.

ps: mari kita buat kenangan-kenangan lain yang menarik untuk kedepannya, ya! 🙂

Trip: Wisata Alam Posong, Temanggung

Hari itu jam menunjukkan pukul 2 pagi. Alarm sudah mendengung disamping tempat tidur. Masih ada waktu satu jam untuk bersiap. Saya menelepon teman untuk membangunkannya dan bersiap untuk mandi serta berganti pakaian yang nyaman dan hangat.

Saya berada di Semarang pada bulan Juli, sedang ada pelatihan selama dua minggu. Awalnya seminggu lebih berada di Jakarta dan beberapa hari berada di Semarang. Pada saat mengetahui bahwa saya akan berkunjung ke Semarang sampai dengan weekend, saya teringat foto si mas yang sedang berdiri dengan latar belakang pemandangan Gunung Sumbing dan disampingnya tertulis “Posong”. Foto yang ia ambil ketika bulan puasa kemarin. Sejak saat itu saya berandai-andai ingin kesana dan melihat langsung apa yang dia lihat karena bagus banget pemandangannya. Saya mulai melihat di Gmaps jarak antara tempat saya menginap di Kota Semarang dengan Wisata Alam Posong. Sekitar 2 setengah jam sampai dengan 3 jam perjalanan.  Hmm.. Jaraknya sama lah ya dari Kota Denpasar ke Negara, pikir saya begitu. Sepertinya juga karena saya habis nonton kulari kepantai, jadi rasanya pengen roadtrip atau jalan jauh. Ahahaha..

Niat sudah dibentuk ketika hari pertama berada di Semarang, saya menelepon penyewaan mobil disana yang supirnya mau mengendarai mobilnya ke luar kota. Satu dua penyewaan mobil menolak, alasannya penuh dan akhirnya ada yang mau menerima tawaran saya tapi dengan tambahan sedikit biaya. Oke tidak masalah, saya mengiyakan. Mobil sudah oke, saatnya nggolek bolo (nyari teman.red). Nothing to lose juga sih sebenarnya kalau saya akhirnya berangkat sendiri, etapi ketika saya menawarkan ke teman saya yang doyan jalan-jalan random, dia mau. Syukur juga ada temannya selama perjalanan. Kalau emak baca ini tulisan gimana prosesnya, mungkin uda dibilang gila kali anak gadis satu ini, kagak pernah main ke Semarang, kagak pernah pergi sejauh itu sendirian, malah dia pula yang punya ide jalan ke tempat itu. Pft.

Mobil sudah menjemput kami pukul 3 dini hari, sesuai jam kesepakatan. Saya menghitung-hitung akan sampai disana maksimal sekitar jam setengah 6, matahari pun sudah terbit dahulu sebelum kami sampai. Kami memulai perjalanan, melewati Alun-Alun Temanggung dan Jl Raya Magelang Semarang yang berisikan truk-truk besar dimalam hari seperti ini. Pak Didik, supir kami, syukurnya tahu medan yang akan dilewatinya selama perjalanan. Tidak lambat, tidak juga cepat. Setelah melewati jalananan besar yang tak kunjung berakhir itu, kami mampir di pom bensin untuk salat subuh terlebih dahulu. Ketika saya melihat Gmaps ternyata tinggal seperempat jam lagi sampai ditujuan, perjalanan kami lebih cepat dari dugaan.

Kami tiba di pintu masuk Wisata Alam Posong pukul 5.15 WIB. Suasana masih gelap. Kami membayar retribusi sebesar Rp 10.000/orang, total kami ber-4 termasuk Pak Didik menjadi Rp 40.000. Menuju ke lokasi yang kami inginkan lumayan jauh kedalam, untuk kontur jalannya bebatuan, kiri dan kanan adalah perkebunan warga. Setengah perjalanan tiba-tiba mobil kami harus berhenti karena didepan kami ada mobil tua yang tidak bisa menanjak. Alhasil kami menunggu beberapa menit sambil keluar dari mobil dan memandang alam sekitar. Pancaran jingga matahari yang akan naik ke atas mulai terlihat. Pemandangannya semakin syahdu, kami selama perjalanan menuju ke lokasi tak henti hentinya bergumam “wah” “wih” “ya ampun bagusnya” dan lainnya. Hahahha.. Biasa lah ya orang kota jarang diajak main ke alam yang sebagus ini.

Suasana sebelum matahari terbit

Sampai dilokasi ternyata sudah banyak mobil yang parkir berjejer, karena sudah penuh, mobil kami naik sampai ke atas di tempat parkir mobil dan bus bersama. Kami turun di pintu masuk Taman Posong. Membayar lagi sebesar Rp 10.000/orang untuk masuk kedalam. Taman posong isinya cuman beberapa spot untuk selfie dan ada tulisan POSONG segede gaban. Haha.. Tapi saya masuk kesana untuk melihat sunrise yang terlihat lebih jelas. Setelah foto pemandangan Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro, kami duduk dan menikmati matahari terbit. Kamera hanya digunakan beberapa kali, selebihnya kami matikan dan kami melihat dengan seksama dan takjub. Sungguh indah sekali pemandangan yang kami lihat pagi itu.

This slideshow requires JavaScript.

Setelah matahari sudah naik dan semakin jelas pemandangan yang kami lihat tadi selama perjalanan, saya tidak melihat tempat foto yang sesuai foto si mas di Taman Posong. Saya tanya ke penjaga karcis di depan, ternyata ada di bagian bawah diluar Taman. Kami turun kebawah dan sudah ada bu ibu berkelompok yang sudah mengekspansi tempat. Haha.. Bu ibu itu dikoordinir oleh satu orang yang rempong nya minta ampun, sudah bergaya a-z tapi gak nyadar kalau ada yang antri buat foto juga. Setelah sepuluh menit menunggu, giliran saya dan teman-teman untuk berfoto, baru mau foto eh ada bapak-bapak yang fotoin bu ibu tadi jadi photobomb beberapa jepretan di kamera kami. Sampai kami bilang “permisi, Pak”. Hahahha.. Lha gak jelas banget iki. Akhirnya kami sudahi sesi foto dan kembali ke mobil untuk melanjutkan perjalan ke Museum Ambarawa dan kembali ke Kota Semarang.

This slideshow requires JavaScript.

Perjalanan kali ini menurut saya sangat menarik karena saya memberanikan diri mengambil keputusan untuk pergi sejauh itu di tempat yang belum pernah saya datangi sebelumnya dan sama sekali tidak ada bayangan seperti apa medan yang akan saya temui. Baru mengabarkan ke emak dan si mas ketika sudah beberapa jam disana. Huehehe.. Saya puas dengan pemandangan Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, dan Gunung-Gunung lain di belakangnya. Hamparan perkebunan tembakau dan sayur mayur lainnya yang begitu hijau dan enak dipandang. Semoga saya bisa mampir lagi ke Wisata Alam Posong dan didaerah sekitarnya. Aamiin.

Ada video 30s yang saya buat:

Wisata Alam Posong

Jl Raya Parakan Wonosobo Km.9,

Posong, Tlahap, Kledung, Kab. Temanggung

HAVE A NICE DAY!

Trip: Jalan Kaki di Area Glodok

Perjalanan saya di area Glodok ini sejatinya dilakukan setelah mengelilingi daerah Kota Tua Jakarta. Saya ingin melihat suasana Pecinan di Jakarta. Awalnya saya mau jalan kaki dari Museum Bank Mandiri ke Glodok, tapi ya karena melihat jam sudah menunjukkan pukul 1 siang dan perut saya kelaparan, alhasil saya menggunakan ojol untuk mengantarkan saya ke Gado-Gado yang cukup terkenal yaitu Gado-Gado Direksi sebagai titik mulainya perjalanan saya di sana.

Saya sampai di Gado-Gado Direksi sekitar 10 menit kemudian, letaknya kalau sesuai Gmaps ada di Jl. Pintu Besar Selatan 1 No.10, nanti kalian akan menemukan pujasera dengan beberapa tempat makan, salah satunya Gado-Gado Direksi. Gado-Gado ini kalau dari spanduknya tertulis sudah ada sejak 1967 dan sudah banyak yang merekomendasikan untuk one of food yang harus dicoba selama di Jakarta. Saya memesan satu porsi tidak pedas dan beberapa saat kemudian datanglah gado-gado tersebut. Penampakannya memang terlihat menggiurkan, bumbu kacangnya dan lebih banyak isi mentimun, sayurannya pun terasa segar. Bumbu kacangnya berbeda dan menurut saya gado-gado ini memang enak. Haha.. Saya mah kalo makan nilainya semua enak. Pada saat saya mau membayar, harganya ternyata Rp 40.000,-. Pftt… saya agak kaget sih dengan harganya, agak kemahalan tapi untuk kualitas penyajiannya memang segitu kali ya worth it nya.

Oke lanjut, setelah makan, saya bermaksud untuk ke Wihara Darma Bhakti, melihat wihara yang cukup terkenal di Glodok. Karena gak punya bayangan ada dimana itu lokasinya, saya menggunakan Gmaps dan diajaklah saya ke jalan kecil yang rame sekali orang berdagang di kiri dan kanan. Ketika sudah setengah jalan, saya baru menyadari kalau saya berada di Gang Gloria, gang yang banyak penjaja makanan dari gorengan, buah-buahan, manisan, sekba (babi), dan lainnya. Selain itu ada tempat cukur Ko Tang dan es kopi Tak Kie yang legendaris. Kala itu saya sudah telat mencicip es kopi Tak Kie karena sudah tutup di atas jam 12 siang. Hmmm..

Setelah melewati Gang Gloria, saya menyeberangi jalan dan jembatan. Menuju ke Wihara Darma Bhakti ini saya juga melewati Pasar Petak Sembilan. Petak Sembilan lebih banyak pedagang sayuran dan bahan makanan mentah lainnya, selain itu kita juga dapat melihat toko kue yang menjual kue keranjang, kue dodol, dan kue lapis. Toko kue dengan ornamen khas china yang klasik menurut saya. Akhirnya saya menemukan wihara yang saya cari, pada saat saya ingin masuk, ternyata sedang ada kegiatan lain, jadi saya hanya dapat melihatnya dari luar saja. Pada saat itu saya melihat banyak ibu-ibu, anak-anak, dan bapak-bapak yang dari penampakannya adalah pengemis disekitar area tersebut. Pada saat itu mereka tidak sedang mengemis sih, tapi lagi main kartu gaple diselingi suara teriakan mereka. hahaha.. 

Setelah melihat Wihara tersebut, saya kembali melewati Pasar Petak Sembilan menuju Pantjoran Tea House untuk ngadem, jalan kaki dari ujung ke ujung dengan udara yang panas membuat saya kehausan. Pantjoran Tea House ada di Jl. Pancoran Raya No.4-6 Glodok, gedungnya ada di pojokan jalan besar, sering lihat ketika saya melewati jalan menuju Kota Tua. Ternyata dulu gedung ini adalah Apotek Chung Hwa (1928) dan merupakan salah satu warisan budaya dunia versi UNESCO dan sudah direvitalisasi pada tahun 2015. Ketika saya memasuki gedung ini, suasana Tiongkok kental sekali, dari meja, kursi, ubin, dan penataannya. Saya mencoba Chinese Tea yaitu Smokey Green Tea, rasanya enak, tidak terlalu pahit dan bisa direfill 3x. 

Demikian perjalanan saya di salah satu daerah Pecinan di Jakarta, Glodok. Saya jalan kaki sendiri dari Gang Gloria sampai Wihara Darma Bhakti dan berakhir di Pantjoran, melihat suasana dan kegiatan orang-orang disekitar.

HAVE A GOOD DAY!

Trip: Kota Tua Jakarta

Kota Tua Jakarta merupakan salah satu destinasi yang wajib dikunjungi ketika berada di Jakarta. Bagaimana tidak, tempat ini merupakan tempat bersejarah mengenai terbentuknya Jakarta. Menurut saya, wisata Kota Tua Jakarta menjadi ikonik bagi warga dan orang-orang dari daerah lain karena penataan yang rapi dari Dinas Parwisata dan Kebudayaan Jakarta. Banyak tempat dan kegiatan yang bisa kita lihat. Bermain sepeda onthel, berfoto dengan beberapa seniman di sepanjang jalan, tempat makan dan cafe dengan tema lawas, dan tiga museum yang saling berdekatan (Museum Kesejarahan Jakarta atau Museum Fatahillah, Museum Seni atau Museum Wayang, dan Museum Seni Rupa dan Keramik). Terdapat dua museum lainnya yang tidak jauh dari area ini yaitu Museum Bank Mandiri dan Museum Bank Indonesia.

Saya mengunjungi Kota Tua Jakarta pada Hari Minggu sekitar pukul 8.30 WIB. Saya lupa kalau di area ini dijadikan salah satu tempat untuk car free day (CFD). Alhasil ketika saya sampai, sudah ramai orang yang berlalu lalang di sepanjang area tersebut. Rata-rata museum yang ada sudah buka pukul 09.00 WIB, tutup pada hari Senin plus pada saat hari libur nasional dan tiket masuk hanya Rp 5.000,- saja. Setelah melihat beberapa tempat sambil menunggu museum buka, saya beranjak ke Museum Kesejarahan Jakarta atau Museum Fatahillah terlebih dahulu. Dengan bangunan yang cukup luas, kita bisa melihat banyak benda-benda dan cerita bersejarah mengenai terbentuknya Kota Jakarta. Lompat ke Museum Seni atau Museum Wayang, didalam bangunan dua lantai ini, kita bisa melihat berbagai jenis wayang dari segala penjuru dunia, tak hanya di Indonesia saja tapi dari berbagai negara juga dipamerkan disini. Museum lainnya adalah Museum Seni Rupa dan Keramik, kita dapat melihat keramik dari berbagai negara dan berbagai macam bentu dari bahan keramik. Selain itu kita dapat melihat patung-patung yang dipamerkan disana.

Setelah melihat tiga museum dan mengelilingi daerah Kota Tua, saya berjalan kaki menuju lokasi Museum Bank Mandiri dan Museum Bank Indonesia. Saya sarankan untuk mengunjungi Museum Bank Mandiri terlebih dahulu baru ke Museum Bank Indonesia. Mengapa demikian? karena lebih menarik di Museum Bank Indonesia ketimbang di Bank Mandiri. Ahaha.. No offense ya, karena penataannya jauh lebih eye catching di Museum BI ketimbang di Museum Bank Mandiri. Apa mungkin karena pencahayaannya.. Entahlah.

Lanjut deh yaa.. Museum Bank Mandiri letaknya di Jl. Lapangan Stasiun No. 1, pas di seberang Halte TransJakarta Kota Tua dan banyak sekali pedagang-pedagang makanan dan kaki lima yang menjualkan dagangannya di depan Museum ini. Pada saat saya menaiki tangga dan membayar tiket masuk, saya baru baca kalau nasabah Bank Mandiri hanya perlu membayar Rp 2.000,- saja, njuk yang jaga tidak menawarkan sebelum meminta biaya tiket. Hmmm… Museum Bank Mandiri menceritakan proses Bank Mandiri ini terbentuk, sejarah perbankan lainnya, alat-alat yang digunakan di perbankan, dan contoh ATM pada zaman dahulu.

This slideshow requires JavaScript.

Pada saat mengunjungi Museum Bank Indonesia, saya senang dengan penataan dan konsep museum yang ditawarkan. Sebelum masuk, saya membayar tiket dan menitipkan barang saya di loket yang sudah disediakan. Saya berjalan menyusuri wahana demi wahana seperti area playmotion, area sejarah (salah satunya menceritakan mengenai kejadian tahun 1998), area ruang rapat direksi, area uang emas moneter, dan area numismatik (koleksi mata uang yang beredar di Indonesia). Setelah menyusuri gedung yang luas dengan berbagai macam area, sebelum kembali ke area tiket masuk, saya ikut melihat immersive cinema yang ditawarkan oleh pihak Museum. Cinema dengan desain visual 3D ini menceritakan sejarah bangunan Bank Indonesia yang saat ini saya kunjungi. Saya sampe senyum-senyum melihat cinema ini. Hahha..

This slideshow requires JavaScript.

Saya menyelesaikan trip saya di Kota Tua Jakarta pada pukul 13.30 WIB dengan perasaan puas. Puas karena saya bisa mengunjungi banyak Museum dalam satu waktu dan menikmati hiruk pikuk warga yang sedang bermain di kawasan Kota Tua Jakarta. Semoga bisa lebih dijaga kelestarian budaya dan sejarahnya. Aamiin.

HAVE A NICE DAY!

Trip: Pelabuhan Sunda Kelapa

Selama ke Jakarta, saya jarang sekali main ke daerah utara. Sekalinya main cuma mampir ke baywalk mall untuk lihat laut dan melewati perumahan di pantai indah kapuk. Nah, beberapa minggu lalu ketika saya sedang melaksanakan kegiatan diklat dari kantor, pada hari liburnya saya berencana mengunjungi Pelabuhan Sunda Kelapa.

Saya main ke Pelabuhan Sunda Kelapa bersama teman saya, sekitar pukul 15.30 WIB, kalau dari info-info yang saya baca, best momen nya sih pas sunset, tapi karena saya ada acara lain akhirnya memilih waktu sebelum sunset. Kami berdua sama-sama belum pernah ke Pelabuhan Sunda Kelapa dan ketika kami sampai dilokasi, kami senang sekali melihat kapal berjejer rapi di pelabuhan. Haha.. Rada udik ya.. Padahal saya sudah pernah lihat gambaran semacam itu ketika mengantar teman saya melihat pelabuhan Benoa, Bali.

Udara pada saat itu panas, kering, dan berangin. Sepanjang jalan kami ditawari untuk naik kapal kecil melihat dua mercusuar di ujung pelabuhan. Tapi kami tolak dulu karena masih ingin melihat jejeran kapal sampai ke ujung pelabuhan disambi dengan beberapa pengambilan foto. Setelah berjalan hampir di ujung pelabuhan, pada saat ingin kembali ke arah pintu masuk, kami ditawari (lagi) oleh Bapak-Bapak yang sudah cukup tua untuk menggunakan kapal kecilnya, akhirnya kami menyetujui ajakan Bapaknya dan kami menaiki kapal kecil tersebut. Dari logat bicaranya terdengar bukan dari jakarta (betawi), berbeda dengan Bapak-Bapak lainnya yang menawari kami hal yang sama. Ternyata Bapaknya berasal dari Makassar (bugis) dan sudah berpuluh-puluh tahun menetap di Jakarta.

Ketika kami menyusuri laut, kami melihat aktivitas orang-orang yang ada di kapal, ada yang tidur, ada yang sedang memandang keluar, ada yang sehabis mandi, dan rasa-rasanya mereka menjadikan kapal itu sebagai rumah mereka. Saya sempat beberapa waktu lalu membaca berita mengenai puluhan kapal yang terbakar hebat di pelabuhan Benoa, saya langsung sedih karena membayangkan itu rumah mereka. hmmm..

Setelah selesai melihat dua mercusuar dan beberapa kapal besar yang bersandar, kami kembali menyusuri jalan kembali ke pintu masuk. Saya penasaran dengan sejarah yang ada di Pelabuhan Sunda Kelapa ini, saya mencari info pada mesin pencari dan menemukan informasi yang akurat dari sahabatkotatua.id yang bertuliskan seperti ini:

Kesultanan Demak yang melihat hubungan Portugis dengan Kerajaan Hindu Sunda Pajajaran sebagai sebuah ancaman, kemudian merencanakan penyerangan atas Sunda Kalapa. Pada 22 Juni 1527, pasukan gabungan Kesultanan Demak-Cirebon dibawah pimpinan Fatahillah menyerang dan berhasil menguasai Sunda Kalapa dan merubah namanya menjadi Jayakarta. Peristiwa ini kemudian ditetapkan sebagai ulang tahun Kota Jakarta.

Pelabuhan ini memiliki sejarah yang panjang, dengan banyaknya pergolakan dari berbagai lini. Semoga saja kedepannya Pelabuhan ini tetap dijaga kelestarian sejarah dan budaya yang ada didalamnya. Aamiin.

Alamat:  Jl. Matrim Raya, Kota Tua, Ancol, Pademangan, Kota Jkt Utara, DKI Jakarta 14430

Tiket: Gratis

HAVE A NICE DAY!